Strategi Penting: Pengamat: Insentif langkah strategis pengembangan kendaraan listrik

pengembangan kendaraan listrik di indonesia 2770625

Pengamat: Insentif jadi pendorong utama transisi ke kendaraan listrik

Dalam upaya meningkatkan adopsi kendaraan listrik di Indonesia, Agus Pambagio, seorang ahli kebijakan publik, menyarankan pemerintah untuk menyusun regulasi yang lebih lengkap dan terpadu. Ia menilai, dengan kondisi harga energi global yang terus meningkat, langkah-langkah insentif harus menjadi fokus utama dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).

Kendaraan listrik lebih ekonomis daripada kendaraan konvensional

Menurut Agus, kendaraan listrik memiliki keunggulan biaya operasional yang signifikan. Dengan insentif yang diberikan, biaya energi bulanan untuk kendaraan listrik hanya berkisar ratusan ribu rupiah, jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional yang bisa mencapai jutaan rupiah per bulan. “Insentif ini tetap krusial sebagai langkah strategis,” ujarnya dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.

“Keunggulan biaya ini membuat kendaraan listrik semakin menarik bagi masyarakat dan negara. Apalagi sekarang lebih praktis karena bisa diisi daya di rumah,”

Dalam beberapa tahun terakhir, subsidi energi telah naik konsisten. Pada 2020, angka subsidi mencapai Rp95,7 triliun, kemudian meningkat hingga Rp159,6 triliun di 2023. Dalam 2024, subsidi melonjak menjadi Rp203,4 triliun, sementara total subsidi dan kompensasi di 2025 mencapai Rp394,3 triliun. Untuk tahun 2026, anggaran subsidi diproyeksikan sebesar Rp210,06 triliun.

Agus mengingatkan bahwa kebijakan transisi energi tidak boleh hanya fokus pada satu aspek. Ia menekankan perlunya penyempurnaan mekanisme insentif agar lebih tepat sasaran. Salah satu rekomendasi yang diajukan adalah menghubungkan pembelian kendaraan listrik dengan program tukar tambah (trade-in) mobil lama berbahan bakar minyak.

Langkah pemerintah untuk mempercepat ekosistem kendaraan listrik

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa tingginya konsumsi energi fosil mendorong pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ia menyebutkan, strategi ini dilakukan melalui pengembangan industri, peningkatan infrastruktur pendukung, serta pemberian insentif.

“Upaya tersebut bertujuan untuk memperluas adopsi kendaraan listrik secara terintegrasi dan memperkuat kemandirian energi,”

Dalam konteks ini, pemerintah sedang menyiapkan berbagai kemudahan dan insentif agar program tersebut dapat berjalan efektif. Kebijakan ini diharapkan sejalan dengan target transisi energi bersih yang telah ditetapkan. Agus menegaskan bahwa desain kebijakan kendaraan listrik harus menyeluruh agar tidak hanya menambah jumlah kendaraan, tetapi juga benar-benar mampu mengurangi penggunaan energi fosil secara signifikan.