Program Terbaru: Pemerintah jamin pasokan energi terjaga dan terjangkau bagi masyarakat

IMG 2852 1

Pemerintah Jamin Ketersediaan Energi dan Akses Terjangkau

Menyusul pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga pasokan energi tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan energi tidak hanya tergantung pada kuantitas, tetapi juga pada aspek kedaulatan serta pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ketahanan energi mencakup aspek pasokan, kedaulatan, serta keberlanjutan perekonomian nasional. Pemerintah akan terus memastikan energi itu tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat,”

Dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, Bahlil mengungkapkan bahwa substitusi LPG menjadi dimethyl ether (DME) sedang dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Proses ini memerlukan waktu dan investasi besar, namun diharapkan bisa berdampak signifikan pada jangka panjang.

Kebijakan B50 untuk Menghemat Subsidi

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan rencana menerapkan campuran kelapa sawit sebesar 50 persen dalam bahan bakar solar sejak 2025. Pernyataan ini disampaikan di forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin (30/3). Langkah tersebut bertujuan memperkuat posisi Indonesia menghadapi ketidakpastian pasokan global.

Pada hari Selasa (31/3), Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa kebijakan B50 akan dijalankan mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diharapkan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebanyak 4 juta kiloliter dalam setahun, sekaligus menghemat subsidi sekitar Rp48 triliun.

“Pertamina sudah siap untuk menerapkan kebijakan B50,”

Ketergantungan Impor dan Jalur Strategis

Menurut Bahlil, saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, tetapi produksi lokal hanya mencapai 605 ribu barel per hari. Hal ini menyebabkan negara tetap memulangkan impor, dengan sekitar satu juta barel per hari diangkut dari luar negeri. Dari jumlah tersebut, sekitar 20–25 persen melewati Selat Hormuz, yang kini terpengaruh oleh ketegangan geopolitik.

Sebagai langkah strategis, pemerintah telah berhasil menghentikan impor solar melalui peningkatan kapasitas kilang, termasuk di Balikpapan. Namun, tantangan masih ada dalam komoditas bensin dan LPG yang terus bergantung pada pasar internasional.