New Policy: Pasien bariatrik dianjurkan dapat pendampingan dari profesional
Pasien Bariatrik Membutuhkan Pendampingan Profesional untuk Mengoptimalkan Hasil
New Policy – Di Jakarta, para profesional medis mengingatkan bahwa pasien bariatrik, yaitu individu yang mengalami obesitas berat dan menjalani operasi pencernaan, perlu mendapatkan bantuan dari berbagai bidang seperti dokter, ahli gizi, hingga psikolog. Pendampingan ini penting untuk memastikan pemulihan yang komprehensif dan menghindari risiko komplikasi dalam jangka panjang. Dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS, dalam pernyataan resmi, menegaskan bahwa kenaikan berat badan sering kali dipicu oleh pola hidup modern yang cenderung mengandalkan konsumsi makanan ultra-proses, rendah nutrisi, serta kurangnya aktivitas fisik.
Menurut dr. Handy, faktor-faktor seperti kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak secara berlebihan, tidur yang tidak cukup, dan stres yang berkelanjutan dapat membentuk adaptasi metabolik. Adaptasi ini terjadi karena tubuh memperlambat metabolisme untuk menyesuaikan diri dengan berat badan yang sudah terbiasa. Akibatnya, penurunan berat badan menjadi lebih sulit karena tubuh menganggap kondisi yang baru sebagai normal. Siklus ini sering kali membuat pasien sulit mengendalikan penambahan berat badan, bahkan setelah menjalani prosedur bariatrik.
Operasi Bariatrik Sebagai Pilihan Terakhir
Di beberapa kasus, operasi bariatrik dapat dijadikan solusi ketika risiko menjaga berat badan yang tinggi dianggap lebih besar daripada manfaat dari tindakan bedah tersebut. “Prosedur ini merupakan bagian dari terapi penyakit metabolik, di mana perubahan struktur saluran cerna membantu mengatur rasa lapar, penyerapan energi, serta respons hormonal terkait diabetes dan gangguan metabolik lainnya,” jelas dr. Handy dalam wawancara di Jakarta. Selain itu, ia menambahkan bahwa operasi bariatrik juga berperan dalam menurunkan berat badan yang tidak bisa dicapai melalui diet dan olahraga saja.
Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya.
Menurut dr. Handy, kriteria pemilihan operasi bariatrik bergantung pada nilai Indeks Massa Tubuh (BMI) pasien. Di antaranya, individu dengan diabetes melitus yang memiliki BMI di atas 27,5, atau pasien dengan kondisi komorbid seperti hipertensi dan penyakit jantung dengan BMI di atas 30. Untuk pasien tanpa komorbid, kriteria BMI yang dianjurkan adalah di atas 35. “Kriteria ini berbeda-beda berdasarkan latar belakang kesehatan dan kebutuhan spesifik masing-masing individu,” tambahnya.
Kesulitan Adaptasi Pasca-Operasi
Pasca-terimaan operasi bariatrik, pasien harus beradaptasi dengan lambung yang lebih kecil, sehingga kebutuhan akan pengaturan pola makan dan suplemen menjadi lebih tinggi. Veronica S.Gz, seorang ahli gizi, menyoroti bahwa perubahan fisik ini memengaruhi kebiasaan makan. “Pola makan pasien berubah secara signifikan setelah operasi, terutama dalam masa adaptasi awal,” katanya. Menurut Veronica, kecukupan cairan dan protein harus diperhatikan agar tidak terjadi defisiensi mikronutrien, seperti vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh sehari-hari.
Dalam proses adaptasi, pasien sering kali menghadapi tantangan psikologis. Perubahan fisik dan kebiasaan makan yang drastis dapat memengaruhi kepercayaan diri serta mengubah cara pandang terhadap makanan. “Perubahan permanen ini menuntut perubahan pola hidup yang lebih menekankan disiplin dan konsistensi,” tutur Veronica. Selain itu, ia menekankan peran ahli gizi dalam memberikan edukasi yang menyeluruh, karena meski volume lambung berkurang, pasien tetap dihadapkan pada keinginan untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi.
Kesehatan Mental Pasien Bariatrik
Dalam hal kesehatan mental, dr. Handy menyebutkan bahwa sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi, sebagian besar akibat perubahan hormon dan metabolisme yang terjadi pasca-operasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan psikologis tidak hanya untuk mengatasi stres sebelum tindakan, tetapi juga untuk memastikan kesehatan mental pasien tetap stabil. “Skrining psikologis sebelum dan setelah operasi sangat penting untuk memantau emosi serta kesiapan pasien menghadapi perubahan hidup,” kata dr. Handy, mengutip data dari Pubmed, yang merupakan sumber informasi kesehatan dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat.
Veronica S.Gz menambahkan bahwa selain aspek fisik, pasien bariatrik juga perlu didukung secara psikologis. “Pendampingan berkelanjutan diperlukan agar hasil operasi tidak hanya terlihat di awal, tetapi juga bertahan dalam jangka waktu yang lama,” ujarnya. Ia menekankan bahwa proses pemulihan bukan hanya tentang mengubah pola makan, tetapi juga memperkuat kebiasaan hidup sehat secara keseluruhan. Dalam hal ini, psikolog dapat memberikan bimbingan untuk mengatasi rasa frustrasi atau kebiasaan lama yang sulit diubah.
Berbagai contoh, pasien yang menjalani operasi bariatrik sering kali mengalami kebingungan mengenai jenis makanan yang bisa dikonsumsi dan bagaimana menyesuaikan kebiasaan makan dengan volume lambung yang lebih kecil. Ahli gizi dianjurkan untuk membantu pasien menyesuaikan gaya makan dalam tahapan yang terstruktur. “Proses ini memerlukan penyesuaian secara bertahap, agar tubuh tidak kewalahan dalam menyerap nutrisi,” jelas Veronica. Dengan pendampingan profesional, pasien lebih mampu menghindari kambuhnya berat badan dan mempertahankan hasil yang optimal.
Secara keseluruhan, pendekatan multidisiplin menjadi kunci dalam penanganan pasien bariatrik. Tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. “Kolaborasi antara dokter, ahli gizi, dan psikolog dapat meningkatkan keberhasilan program bariatrik,” kata dr. Handy. Ia menambahkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, pasien bisa mengoptimalkan hasil operasi serta mengurangi risiko komplikasi seperti kekurangan nutrisi, ketergantungan pada makanan, atau penyakit mental.
Di samping itu, perubahan fisik dan psikologis setelah operasi juga memerlukan perhatian terhadap kualitas hidup pasien. “Pasien bariatrik perlu mendapatkan dukungan komunitas dan keluarga untuk memastikan adaptasi yang sukses,” kata Veronica. Ia menekankan bahwa pemulihan berat badan bukanlah proses instan, tetapi memerlukan komitmen yang berkelanjutan dari pasien sendiri, didukung oleh profesional yang tepat.
