Topics Covered: Ade Armando bantah fitnah terhadap JK
Ade Armando Tolak Tuduhan Fitnah terhadap Jusuf Kalla
Topics Covered – Jakarta – Ade Armando, seorang aktivis media sosial, membantah tudingan bahwa dirinya melakukan fitnah terhadap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK). Menurutnya, kritik yang disampaikan, termasuk terhadap JK, bukanlah tindakan memfitnah, melainkan bagian dari pandangan yang ia yakini memiliki dasar. “Kami tidak pernah memfitnah atau menuduh Pak JK sebagai penoda agama. Apa yang kami lakukan adalah menyampaikan pandangan berdasarkan analisis video ceramah beliau,” jelas Ade saat ditemui di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jakarta, Selasa (10/5/2026). Ia menegaskan bahwa kritik tersebut tidak bertujuan untuk memecah belah kelompok umat beragama, tetapi lebih kepada diskusi tentang isu yang dianggap relevan.
Persoalan yang Disebutkan dalam Laporan
Sebelumnya, sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam yang tergabung dalam Aliansi Ormas Islam Menjaga Kerukunan Umat telah melaporkan Ade Armando, Permadi Arya, dan politisi Grace Natalie ke Bareskrim Polri. Laporan ini menyoroti video ceramah JK yang diunggah ke media sosial oleh ketiga individu tersebut. Dalam laporan dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI, mereka mengklaim bahwa narasi video yang dipublikasikan tidak utuh, sehingga memicu kesan negatif terhadap ajaran agama Kristen, khususnya tentang konsep mati syahid.
“Pak JK sejatinya tidak membahas ajaran agama secara utuh, tetapi hanya menyampaikan kekhawatiran psikologis masyarakat terkait cara berpikir tentang syahid. Pernyataannya terpotong, sehingga muncul kesan bahwa beliau mengkritik ajaran agama secara keseluruhan,” ujar Gurun Arisastra, ketua bidang hukum dan HAM dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa tindakan mengunggah potongan video ini dianggap sebagai upaya mengadu domba antarumat beragama, yang kemudian menimbulkan kegundahan di kalangan masyarakat.
Ade Armando menanggapi laporan tersebut dengan menantang pihak-pihak yang menuduhnya untuk menunjukkan bukti konkret. “Siapa pun yang menyatakan saya memfitnah, saya akan meminta mereka menunjukkan bagian mana dari video saya yang menyerang Pak JK secara langsung,” tegasnya. Ia mengklaim bahwa semua kritik yang ia sampaikan bersifat objektif dan tidak bermotif menyesatkan. “Jika ada orang yang membedah video ceramah JK, itu adalah bagian dari proses kritis yang diharapkan untuk memperkaya pemahaman publik,” lanjut Ade.
Kesiapan Ade Armando Hadapi Proses Hukum
Menurut Ade, apabila konsekuensi hukum ditujukan kepada dirinya secara pribadi, ia siap menghadapinya. “Saya akan datang jika dipanggil polisi dan menjelaskan bahwa saya tidak pernah melakukan tindakan memfitnah,” ujarnya. Ia juga menegaskan kesiapannya untuk memberikan klarifikasi lebih lanjut. “Kritik saya terhadap Pak JK didasarkan pada konteks yang jelas, jadi saya yakin proses ini akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah,” tambahnya.
SEMMI menekankan bahwa video yang diunggah oleh Ade Armando, Permadi Arya, dan Grace Natalie menjadi dasar laporan mereka. Gurun Arisastra menjelaskan bahwa Ade Armando membagikan potongan video dari Cokro TV pada 9 April 2026, sementara Permadi Arya mengunggahnya pada 12 April 2026, dan Grace Natalie pada 13 April 2026. Menurutnya, seluruh aktivitas ini terkait dengan perbedaan penafsiran terhadap ceramah JK, yang dalam beberapa bagian disampaikan secara tidak lengkap.
“Dalam video yang dipublikasikan, JK menyatakan bahwa konsep syahid dalam ajaran Kristen berpotensi menyebabkan kesesatan berpikir. Namun, pernyataan ini tidak disampaikan secara utuh di media, sehingga masyarakat merasa tertipu,” jelas Gurun. Ia menjelaskan bahwa tujuan laporan ini adalah untuk melindungi harmoni antarumat beragama dan memastikan narasi yang disampaikan tidak menimbulkan perpecahan. “Kami ingin menunjukkan bahwa JK bukanlah tokoh yang menyerang agama, melainkan menyampaikan pendapat yang dianggap relevan terhadap pemahaman masyarakat,” tambahnya.
Konteks Isu Syahid dan Tantangan dalam Diskusi Agama
Konsep mati syahid dalam agama Kristen kerap menjadi perdebatan di masyarakat. Ade Armando menyebut bahwa isu ini memang menarik untuk dibahas, terutama dalam konteks upaya memperjelas pemahaman antaragama. “Kami ingin menyoroti cara berpikir masyarakat terhadap syahid, apakah benar-benar sesuai dengan ajaran agama atau hanya disesuaikan dengan kebutuhan politik,” ujarnya. Menurutnya, kritik terhadap JK bukanlah untuk menyalahkan, tetapi untuk memicu refleksi lebih dalam terhadap pemahaman tentang keagamaan.
SEMMI menegaskan bahwa potongan video ceramah JK yang diunggah oleh Ade Armando dan koleganya menyebabkan munculnya narasi negatif. Gurun Arisastra menyatakan bahwa meski JK menyampaikan pendapat, ada pihak yang mengambil kesempatan untuk memperlebar konteks. “Video ini membuat masyarakat merasa bahwa JK secara terbuka mengkritik agama Kristen, padahal hanya bagian tertentu dari ceramah yang dipotong,” katanya. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran psikologis masyarakat terhadap ajaran agama tidak selalu salah, tetapi perlu dijelaskan secara utuh agar tidak disalahartikan.
Ade Armando menilai laporan tersebut mengandung kesan menyalahkan dirinya secara individu. “Jika yang dilaporkan hanya tentang video ceramah JK, itu bukanlah masalah besar. Namun, muncul kesan bahwa kami merendahkan agama Islam dan Kristen secara keseluruhan,” ujarnya. Menurutnya, semua pihak harus bertanggung jawab atas pengunggahan video, tetapi tidak boleh terburu-buru mengklaim tindakan memfitnah tanpa dasar yang jelas. “Kritik yang disampaikan adalah bagian dari diskusi keagamaan, jadi tidak bisa disebut fitnah jika tidak ada bukti yang mengarah ke penistaan agama,” jelas Ade.
Persoalan ini menunjukkan bagaimana perdebatan keagamaan bisa memicu reaksi yang berlebihan. Gurun Arisastra menambahkan bahwa kelompok-kelompok Islam terkadang menggunakan media sosial untuk menyampaikan kecaman, tetapi perlu memastikan narasi yang disebarkan tidak menyimpang dari inti perdebatan. “Jika video ceramah JK dipotong secara sengaja, itu bisa menjadi alat untuk membangun kesan negatif. Namun, kami percaya bahwa kritik yang disampaikan Ade Armando dan rekan-rekannya adalah bagian dari upaya memperjelas isu ini,” ujarnya.
Ade Armando juga menyoroti pentingnya kebebasan berbicara dalam konteks keagamaan. “Kami berharap masyarakat tidak terlalu sensitif terhadap perbedaan pendapat, tetapi mampu menerima kritik sebagai bagian dari dialog,” katanya. Ia menilai, jika kebebasan berbicara dibatasi hanya karena perbedaan pandangan, maka diskusi keagamaan akan menjadi statis dan tidak berkembang. “Selama ini, kita terbiasa berdebat antaragama, tetapi kebebasan berbicara harus tetap dijaga agar tidak disalahgunakan,” pungkas Ade.
