What Happened During: Warga Rantau Bakula di Kalsel Menuntut Keadilan Lingkungan

1783693384_3a4511cb1d6851cc5415

What Happened During: Warga Rantau Bakula Tuntut Keadilan

What Happened During – Warga Desa Rantau Bakula di Kalimantan Selatan akhirnya membawa perjuangan mereka ke Jakarta. Kelompok masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rantau Bakula (AMRB) ini melakukan perjalanan panjang untuk menuntut keadilan lingkungan. Mereka telah menanggung beban pencemaran akibat pertambangan batu bara bawah tanah PT Merge Mining Industri (MMI) selama hampir dua dekade. What Happened During perjalanan ini, warga menyampaikan pengaduan resmi kepada berbagai lembaga negara di ibu kota.

Pengaduan yang disampaikan ditujukan kepada DPR RI melalui Komisi XIII dan XII, Komnas HAM, serta Komnas Perempuan. What Happened During proses pengaduan ini, warga menyoroti berbagai persoalan lingkungan, sosial, dan hak asasi manusia sejak perusahaan beroperasi pada tahun 2007. Mereka didampingi oleh perwakilan WALHI Kalimantan Selatan dalam menyampaikan tuntutan tersebut.

Sejak saat itulah kami merasakan dampak dari perusahaan MMI. Kami sudah berupaya memperjuangkan hak kami di daerah namun masih belum juga ditindaklanjuti,

Ungkapan tersebut diucapkan oleh Mariadi sebagai perwakilan warga. What Happened During 18 tahun terakhir, kehidupan mereka terus mengalami perubahan yang mengganggu kenyamanan sehari-hari. Sumber-sumber air bersih mulai mengering secara bertahap, sementara debu batu bara dan kebisingan dari aktivitas tambang semakin meningkat setiap harinya. Tidak hanya itu, banyak rumah warga yang juga mengalami retak hingga amblas akibat getaran yang terus-menerus.

Dampak Lingkungan yang Semakin Parah

Mariadi menduga bahwa kejadian-kejadian ini sangat berkaitan erat dengan aktivitas pertambangan bawah tanah yang selama ini dikerjakan oleh perusahaan. What Happened During aktivitas tambang, perusahaan tersebut beraktivitas hampir 24 jam setiap hari. Debu yang dihasilkan kemudian kemana-mana hingga ke pemukiman warga sehingga sangat mengganggu kenyamanan mereka. Selain masalah debu dan getaran, warga transmigran tersebut juga menjelaskan bahwa limbah MMI berpengaruh pada produktivitas perkebunan tanaman seperti palawija hingga perkebunan sawit sehingga produktivitasnya menurun.

Kondisi lingkungan di Rantau Bakula semakin memburuk setelah fasilitas washing plant atau kolam penampungan limbah batubara mulai beroperasi di dekat pemukiman warga. What Happened During operasional washing plant, warga mengeluhkan debu yang masuk ke rumah setiap hari, getaran yang memperparah kerusakan bangunan, serta meningkatnya gangguan kesehatan seperti batuk-batuk (ISPA) dan gatal-gatal, terutama pada anak-anak dan kelompok lanjut usia.

Tuntutan Keadilan yang Harus Dipenuhi

Selain menghadapi pencemaran lingkungan, warga juga harus berhadapan dengan berbagai persoalan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah warga dilaporkan menghadapi proses hukum setelah mempertahankan lahan maupun melakukan aksi damai. What Happened During tahun 2024 hingga 2026, jebolnya tanggul penampungan limbah washing plant terjadi secara berulang pada Juni dan Juli 2026. Lumpur tambang dilaporkan mencemari kebun warga serta mengalir ke sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Selatan, Raden Rafiq, menyampaikan bahwa berbagai persoalan tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap operasional PT Merge Mining Industri. What Happened During situasi ini, negara tidak boleh membiarkan masyarakat terus menanggung beban ekologis, sosial, dan ekonomi akibat aktivitas pertambangan tanpa adanya penyelesaian yang adil dan pemulihan lingkungan.

Kami melihat persoalan di Rantau Bakula bukan semata hanya perampasan ruang hidup warga, tetapi lebih dari itu. Ini menyangkut kewajiban negara untuk menjamin hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selama 18 tahun masyarakat hidup dalam ketidakpastian, sementara berbagai dugaan dampak lingkungan dan pelanggaran hak warga belum memperoleh penyelesaian yang memadai,

Ungkapan tersebut diucapkan oleh Raden pada hari Jumat, 10 Juli 2026. What Happened During rangkaian pengaduan di Jakarta, warga mendesak DPR RI, Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian HAM, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan untuk mengambil langkah konkret. Mereka meminta dilakukan audit menyeluruh terhadap operasional dan perizinan PT MMI, pemeriksaan kesehatan berkala bagi warga terdampak, pemulihan lingkungan yang telah rusak, perlindungan terhadap masyarakat dari intimidasi maupun kriminalisasi, serta penyelesaian menyeluruh atas hak-hak warga yang hingga kini belum dipenuhi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *