Main Agenda: IOM Gelar Pelatihan Hak dan Perlindungan Pengungsi di Batam

1781449707_9b21166ae734904b7010

IOM dan Polresta Barelang Lakukan Pelatihan tentang Hak serta Perlindungan Pengungsi di Batam

Main Agenda – Kota Batam menjadi salah satu tempat yang menyambut kegiatan edukasi penting terkait hak dan perlindungan pengungsi. Sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem penanganan pengungsi, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) bekerja sama dengan Polresta Barelang mengadakan pelatihan bertajuk “Penguatan Kapasitas dalam Identifikasi dan Respons Hak Perlindungan Pengungsi”. Acara ini dihelat di Kecamatan Lubuk Baja pada hari Minggu (14/6), yang bertujuan meningkatkan pemahaman para peserta mengenai mekanisme perlindungan dan peran mereka dalam menjaga keberadaan pengungsi di wilayah tersebut.

Kolaborasi AntarInstansi untuk Membangun Sistem Perlindungan Terpadu

Para peserta pelatihan berasal dari berbagai instansi, termasuk pemerintah daerah, aparat penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, serta lembaga-lembaga pendukung seperti Rumah Detensi Imigrasi. Mereka juga melibatkan pejabat dari kecamatan dan kelurahan di Kota Batam. Hadir dalam kegiatan ini adalah Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Batam, Riama Manurung, yang menegaskan pentingnya sinergi antarpihak dalam menghadapi tantangan pengungsi. Fasilitator IOM Pusat, Ali Ramli Aulia, serta perwakilan IOM Batam, Khairul dan Chris Simamora, turut berpartisipasi sebagai pengarah program.

Dalam sesi pertama, peserta diberikan pengalaman langsung melalui tajuk interaktif “Berada di Posisi Pengungsi”. Sesi ini dirancang untuk memperjelas situasi serta kesulitan yang dihadapi oleh para pengungsi di lapangan. Dengan mengalami langsung proses yang mereka jalani, peserta diharapkan dapat lebih empatik dan memahami urgensi masalah perlindungan. Selain itu, pelatihan juga melibatkan pemaparan mengenai kerangka hukum yang mengatur hak pengungsi, baik berdasarkan peraturan internasional maupun aturan daerah.

Materi Lengkap untuk Memperkuat Kapasitas Peserta

Agar peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif, pelatihan mencakup berbagai topik kritis, seperti penanganan kekerasan berbasis gender, perlindungan bagi kelompok rentan, serta pencegahan eksploitasi dan pelecehan seksual yang dikenal sebagai PSEA. Isu-isu ini sangat relevan karena seringkali muncul dalam konteks kehidupan pengungsi, baik di lingkungan masyarakat maupun dalam interaksi dengan pihak berwenang. Seluruh materi disampaikan dengan pendekatan praktis, sehingga peserta dapat menerapkannya secara langsung dalam tugas sehari-hari.

Dalam sesi pemaparan, peserta diberikan wawasan tentang standar internasional, termasuk Konvensi Hak Asasi Manusia dan Perjanjian Geneva. Informasi ini dibandingkan dengan peraturan nasional, seperti UU No. 26 Tahun 2006 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 16 Tahun 2017 tentang Pemberlakuan Perjanjian Geneva di Indonesia. Hal ini penting untuk memastikan bahwa penanganan pengungsi di Batam selaras dengan prinsip-prinsip global.

Partisipasi Lebih Luas untuk Memperluas Jangkauan Pembelajaran

Kehadiran sejumlah pejabat kepolisian juga menjadi bagian penting dari pelatihan ini. Antara lain Kanit IK Polsek Sekupang, Ipda Pebriadi, dan Kanit Binmas Polsek Lubuk Baja, Iptu Indra, turut memperkaya diskusi. Personel intelkam dari Polresta Barelang serta jajaran polsek terkait juga hadir untuk memberikan perspektif tentang tugas hukum dalam mengelola masalah pengungsi. Selain itu, lembaga seperti DP3AP2KB, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, Yayasan Embung Pelangi, Satpol PP, dan perangkat daerah dari Kecamatan Sekupang dan Lubuk Baja turut berpartisipasi.

Kapolsek Lubuk Baja, Kompol Deni Langie, yang menjadi penanggung jawab wilayah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam mengidentifikasi serta merespons isu perlindungan pengungsi. “Melalui pelatihan ini, kami berharap semua pihak dapat bekerja sama secara terpadu untuk menerapkan pendekatan berbasis hak dalam pengelolaan pengungsi di Batam,” katanya. Ia menekankan bahwa kerja sama yang kuat antara pemerintah, aparat hukum, organisasi internasional, serta pemangku kepentingan lainnya adalah kunci untuk menciptakan sistem perlindungan yang optimal.

Pelatihan Akhir: Strategi Kolaboratif untuk Solusi Efektif

Sesi terakhir pelatihan diisi dengan diskusi strategis yang menggali permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi pengungsi di Batam. Peserta secara bersama-sama melakukan analisis terhadap isu-isu yang paling mendesak, seperti akses layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan hukum bagi pengungsi yang rentan. Hasil diskusi ini kemudian digunakan untuk menyusun rencana aksi kolaboratif yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Keberhasilan pelatihan ini juga bergantung pada pemetaan masalah yang akurat. Peserta diminta mengidentifikasi tantangan dalam sistem penanganan pengungsi di tingkat lokal, termasuk kesenjangan antara kebijakan dan praktik lapangan. Dari sini, mereka merancang langkah-langkah konkret, seperti peningkatan kapasitas pihak kecamatan dan kelurahan dalam pelayanan pengungsi, serta penyusunan pedoman operasional yang dapat diaplikasikan dalam situasi darurat.

Mengapa Pelatihan Ini Penting bagi Batam?

Kota Batam, sebagai pusat migrasi dan keberadaan pengungsi, memerlukan upaya yang lebih sistematis untuk menjaga kestabilan sosial. Dengan melibatkan berbagai stakeholder, pelatihan ini menjadi platform untuk membangun kesepahaman tentang tanggung jawab bersama. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat koordinasi antarlembaga, sehingga respon terhadap pengungsi dapat lebih cepat dan tepat.

Ali Ramli Aulia, sebagai fasilitator dari IOM Pusat, menegaskan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari inisiatif global untuk mendukung pendekatan hak asasi manusia dalam migrasi. “Batam memiliki potensi besar dalam menjadi contoh keberhasilan pengelolaan pengungsi yang humanis dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia berharap program serupa dapat diulangi secara berkala untuk memastikan kebijakan dan praktik di lapangan tetap selaras dengan prinsip internasional.

Dalam keseluruhan rangkaian kegiatan, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis dalam menjawab berbagai isu yang muncul. Hal ini diperkuat dengan diskusi kelompok kecil dan simulasi skenario, yang memungkinkan peserta merancang solusi secara kreatif. Sebagai hasil, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas intervensi dan membangun sistem perlindungan yang lebih inklusif.

Langkah Selanjutnya untuk Membangun Sistem Perlindungan yang Efektif

Pelatihan ini menjadi salah satu dari serangkaian upaya IOM dalam meningkatkan kapasitas lokal. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Batam, Riama Manurung, menyampaikan bahwa hasil pelatihan akan diintegrasikan ke dalam rencana kerja pihaknya. “Dengan sinergi yang terjalin, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi pengungsi,” kata Riama. Ia juga menyoroti peran penting dari Yayasan Embung Pelangi, yang telah bekerja sama dalam beberapa tahun terakhir untuk memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bagi pengungsi.

Dalam pembukaan pelatihan, peserta diberi sambutan oleh perwakilan IOM Batam yang menegaskan bahwa program ini bertujuan mengubah pola pikir masyarakat tentang pengungsi. “Pengungsi bukan hanya individu yang memerlukan bantuan, tetapi juga bagian dari masyarakat yang berkontribusi terhadap keberagaman Batam,” ujar Khairul, salah satu perwakilan IOM. Dengan memahami hak dan perlindungan pengungsi, peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga keseimbangan sosial dan memastikan hak-hak pengungsi terpenuhi.

Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk membangun jaringan kerja antarlembaga. Dengan adanya komunikasi yang terbuka, IOM berharap bisa terus menjadi mitra dalam meningkatkan keberlanjutan program perlindungan. Sesi akhir pelatihan menghasilkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *