Topics Covered: Menembus Hutan dan Pegunungan, Demi Antarkan Obat untuk Pasien
Menembus Hutan dan Pegunungan, Demi Antarkan Obat untuk Pasien
Topics Covered – Saat matahari hampir tenggelam, Yosep, seorang kurir berusia 27 tahun, berhasil sampai di sebuah rumah di Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah. Tersenyum lega, Taufik, warga setempat berusia 45 tahun, mengapresiasi kehadiran Yosep yang mengantarkan obat dari RSUD Goeteng Taroenadibrata. Meski waktu sudah mendekati senja, Yosep tetap memenuhi janjinya untuk mengirimkan paket yang dipesan oleh pasien.
Perjalanan ke Daerah Terpencil
Yosep adalah salah satu kurir JNE yang bertugas mengantar barang ke desa-desa terpencil di Kecamatan Karangreja. Beberapa wilayah seperti Dusun Gunung Malang di Desa Serang dan Dusun Bambangan di Desa Kutabawa menjadi jalur utamanya. Dusun Gunung Malang, misalnya, terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, sementara Dusun Bambangan berada di sekitar 1.500 meter. Jalanan di sana belum seluruhnya beraspal, sehingga medan perjalanan menjadi lebih sulit.
“Tugas kurir itu utamanya adalah mengantarkan barang hingga ke alamat. Tidak peduli seberapa berat medannya,” kata Yosep saat berbincang pada Kamis (11/6).
Perjalanan ke daerah-daerah tersebut membutuhkan ketekunan dan ketahanan. Yosep sering kali melewati jalur yang curam, terkadang dalam kondisi gelap. Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya lebih ringan di bulan Juni karena musim kemarau yang membuat hujan jarang turun. Namun, saat musim hujan tiba, tantangan menjadi lebih berat.
Dalam beberapa waktu lalu, khususnya di bulan Januari 2026, Dusun Gunung Malang pernah dilanda banjir bandang. “Pada musim penghujan, medannya semakin berat. Jalannya licin, dan terkadang mustahil dilalui,” tambah Yosep. Di situasi seperti ini, ia sering menghubungi warga yang menerima paket untuk berdiskusi tentang cara terbaik mengirimkan barang.
Kemitraan dengan Warga
Kemitraan antara kurir dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengantaran obat. Yosep menjelaskan bahwa jika terjadi bencana, warga biasanya mencari titik pertemuan aman untuk menerima paket. “Kami saling memahami karena ada situasi di luar kendali kami. Titik aman itu penting agar barang tidak rusak dan pasien bisa mendapatnya tepat waktu,” tuturnya.
Di sisi lain, Supangat, kurir lain yang berusia 38 tahun, mengatakan bahwa perjalanan di Desa Jingkang dan Danasari, Kecamatan Karangjambu, juga sangat menantang. Dusun Danasari, misalnya, memiliki ketinggian di atas 1.300 meter dengan jalanan yang belum sepenuhnya beraspal. “Saya terbiasa mengantarkan obat ke warga yang memesan, terutama saat mereka butuh darurat,” katanya.
“Intinya, saya harus mengantarkan sesuai jadwal. Jika ada yang urgen, biasanya akan diberi tahu. Misalnya, harus sampai sore atau malam ini,” ujar Supangat.
Kurir-kurir seperti Yosep dan Supangat tidak hanya menghadapi medan yang berat, tetapi juga beban moral. Mereka berkomitmen untuk menjamin bahwa pasien di daerah terpencil tetap bisa mendapatkan obatnya tepat waktu, bahkan jika harus melintasi hutan pinus milik Perhutani atau berjalan dalam kegelapan. “Saya terbiasa berada di lapangan saat magrib untuk pengantaran. Jika obat habis, saya harus segera sampai,” lanjut Yosep.
Manfaat Pengantaran Obat
Kehadiran layanan pengantaran obat ini memberikan dampak signifikan bagi pasien. Taufik, salah satu penerima manfaat, mengungkapkan bahwa ia sangat terbantu. “Untuk sampai ke Purbalingga, saya harus turun dengan sepeda motor. Perjalanan pulang pergi memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam, belum lagi menunggu di bagian farmasi. Lebih praktis, saya minta pengantaran langsung,” katanya.
“Biayanya terjangkau, hanya Rp10 ribu sekali pengantaran. Benar-benar sangat membantu pasien seperti saya,” ungkap Taufik.
Kurir-kurir JNE menjadi tulang punggung bagi warga yang tinggal jauh dari pusat kota. Mereka mengatasi rintangan seperti badai, tanah longsor, atau jalan berlumpur untuk memastikan pasien tidak kehabisan obat. “Kadang, saya harus menginap di tengah perjalanan jika kondisi tidak memungkinkan. Tapi itu wajar, karena kewajiban kurir adalah menyelesaikan tugas secepat mungkin,” kata Supangat.
Dalam upaya mengurangi beban warga, JNE terus memperluas jaringan pengantaran. Tantangan seperti jalan yang berliku dan ketinggian yang ekstrem tetap ada, tetapi keberlanjutan layanan ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kemauan untuk membantu. “Meski sering terlambat, saya tidak pernah menunda pengantaran. Pasien butuh obatnya, dan itu yang paling utama,” tambah Yosep.
Keberadaan kurir seperti Yosep dan Supangat tidak hanya memudahkan akses ke layanan kesehatan, tetapi juga memperkuat hubungan antara perusahaan jasa pengiriman dengan masyarakat. Dengan berani menembus hutan dan pegunungan, mereka menciptakan jembatan antara kebutuhan pasien dan ketersediaan obat. “Saya tak tahu penyakit apa yang diderita warga, tapi saya yakin obat yang sampai tepat waktu akan memberi manfaat,” kata Supangat.
Dalam dunia kurir, kejujuran dan kesabaran menjadi nilai tambah. Mereka tidak hanya mengantarkan barang, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga pasien. Dengan pengorbanan yang dilakukan, layanan pengantaran obat berjalan lancar, meski harus melalui rintangan alam dan waktu yang terbatas. “Ini sudah menjadi amanah saya. Tidak ada yang lebih penting daripada kebutuhan pasien,” pungkas Yosep.
