Pengelolaan Berat Badan Kunci Utama Cegah Perlemakan Hati MASLD

1781253574_851e7e87654b96105753

Pengelolaan Berat Badan Kunci Utama Cegah Perlemakan Hati MASLD

Pengelolaan Berat Badan Kunci Utama Cegah – Perlemakan hati, atau yang dikenal secara medis sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), merupakan kondisi yang makin menjadi perhatian dalam bidang kesehatan. Penanganan dini terhadap berat badan menjadi langkah penting dalam mencegah perkembangan penyakit ini. Dalam konteks ini, para ahli menekankan bahwa pengendalian kesehatan berat badan bukan hanya tentang menurunkan angka di timbangan, tetapi juga mengurangi risiko komplikasi serius seperti sirosis hingga kanker hati.

Perlemakan Hati: Dari Akumulasi Lemak hingga Kegawatdaruratan

Prof. Rino Alvani Gani, seorang dokter spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa individu dengan berat badan berlebih, diabetes tipe 2, dan gangguan fungsi hati perlu memperhatikan kesehatan mereka secara lebih intensif. MASLD, menurutnya, dimulai dari penumpukan lemak di hati yang jika tidak diatasi secara tepat dapat berlanjut ke tahap yang lebih parah, yaitu Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis (MASH). “Peningkatan lemak tubuh, terutama yang menumpuk di bagian perut, berpotensi menyebabkan resistensi insulin dan peradangan hati,” kata Rino dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

“Jika faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati,” ujar Prof. Rino.

Menurut Rino, perlemakan hati bukan hanya terkait dengan fungsi hati, tetapi juga memengaruhi sistem kardiovaskular. Dia menjelaskan bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah sering kali menjadi penyebab utama kematian pada penderita MASLD. “Penyakit ini memicu gangguan metabolik yang merambat ke organ lain, sehingga perlu diatasi secara holistik,” tambahnya.

Obesitas: Tantangan Klinis yang Kompleks

Dari sisi endokrinologi, pakar Dicky Levenus Tahapary (Sp.PD-KEMD, PhD) menegaskan bahwa obesitas adalah masalah kesehatan kronis yang tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, tujuan utama pengobatan obesitas adalah mencapai penurunan berat badan berkualitas, bukan sekadar mengurangi berat badan secara cepat. “Kelebihan lemak, terutama lemak viseral, memicu inflamasi dan resistensi insulin, yang berdampak pada hati, jantung, serta aliran darah,” jelas dr. Dicky.

Dicky juga menyebutkan bahwa penggunaan obat-obatan, seperti terapi berbasis GLP-1 RA, bisa menjadi pilihan terapi untuk pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. “Terapi ini membantu menurunkan berat badan dengan meningkatkan metabolisme dan mengurangi nafsu makan, sekaligus memberikan manfaat bagi fungsi hati,” tambahnya. Dia menekankan bahwa pendekatan yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk tingkat keparahan penyakit.

Upaya Edukasi dan Deteksi Dini Dalam Menghadapi MASLD

Dalam rangka memperingati Global Fatty Liver Day 2026, Kementerian Kesehatan RI dan Novo Nordisk Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko perlemakan hati. Direktur PTM Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengingatkan bahwa obesitas dianggap sebagai penyebab utama berbagai penyakit kronis. “Obesitas merupakan ‘mother of all chronic diseases’, karena bisa memicu gangguan metabolik yang berdampak pada organ vital,” katanya.

“Seiring meningkatnya kasus obesitas di Indonesia, risiko terjadinya perlemakan hati juga semakin tinggi. Kami menyerukan masyarakat untuk lebih waspada dan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati,” pungkas Nadia.

Nadia menambahkan bahwa deteksi dini bisa dilakukan melalui tes sederhana seperti pemeriksaan ultrasound atau penilaian biomarker tertentu. “Dengan mengetahui status kesehatan hati sejak dini, kita bisa mengambil tindakan tepat waktu untuk mencegah perkembangan penyakit yang lebih serius,” imbuhnya. Kementerian Kesehatan juga menyoroti peran nutrisi dan gaya hidup dalam menjaga kesehatan tubuh, terutama bagi kelompok rentan.

Strategi Preventif dan Peran Kolaborasi

Para ahli sepakat bahwa keberhasilan mencegah MASLD bergantung pada keterlibatan masyarakat dan dukungan dari sektor kesehatan. Rino menekankan perlunya pendekatan holistik, termasuk perubahan pola makan, olahraga, dan pengawasan medis berkala. “Pencegahan MASLD bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga perlu dukungan dari sistem kesehatan dan kebijakan publik,” katanya.

Dicky menyoroti pentingnya edukasi terhadap pola makan dan kebiasaan hidup sehat. “Masyarakat perlu memahami bahwa kelebihan kalori yang tidak digunakan tubuh bisa menumpuk sebagai lemak, terutama di bagian perut, yang berdampak pada metabolisme,” jelasnya. Selain itu, ia menekankan bahwa terapi farmakologi bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari manajemen obesitas, terutama bagi pasien yang tidak berhasil menurunkan berat badan melalui metode tradisional.

Menurut Nadia, peningkatan kesadaran tentang perlemakan hati adalah langkah awal dalam upaya pencegahan penyakit. “Kami juga berupaya mengedukasi masyarakat tentang nutrisi, cara menghitung indeks massa tubuh (IMT), serta pentingnya kebugaran fisik dalam menjaga fungsi hati,” tambahnya. Dalam tahun ini, kementerian bersama Novo Nordisk Indonesia berencana menyebarluaskan program deteksi dini dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat luas.

Di sisi lain, para ahli menyoroti bahwa masalah ini tidak bisa diatasi hanya dengan mengurangi berat badan. Mereka menekankan bahwa pengelolaan berat badan harus disertai dengan pemantauan risiko metabolik lainnya, seperti kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. “MASLD adalah gambaran dari kegagalan metabolisme yang terkait dengan kelebihan lemak, jadi semua faktor harus diperhatikan,” kata Rino.

Dengan memahami masalah ini lebih dalam, masyarakat bisa melakukan perubahan kecil tetapi signifikan dalam gaya hidup, seperti mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, serta meningkatkan aktivitas fisik. “Masalah perlemakan hati adalah tantangan global, dan kita perlu mengambil langkah serupa untuk menjaga kesehatan jangka panjang,” tutup Nadia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *