Meeting Results: Essay Contest Beberkan Potret Keresahan Generasi Muda dan Tawarkan Solusi Adaptif

1782482478_dfd9a253d2ad45aec5ee

Essay Contest: Generasi Muda Pamerkan Keresahan dan Solusi untuk Era Baru

Meeting Results – Sebuah acara yang menampilkan 16 finalis dari kompetisi essay Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) berlangsung di Grand Mercure, Badung, Bali, pada Kamis dan Jumat lalu. Finalis-finalis ini memaparkan gagasan-gagasan mereka di depan tiga juri yang terdiri dari Najwa Shihab, pendiri Narasi TV dan jurnalis senior; Prof. Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University; serta Gloria Tamba, alumnus Beswan Djarum 2005/2006 yang kini aktif sebagai pengacara. Acara ini bukan hanya tentang penulisan esai, tetapi juga menguji kemampuan presentasi dan kreativitas dalam menghadapi tantangan sosial modern.

Isu Keresahan yang Menjadi Fokus

Dalam sesi presentasi, finalis mengangkat berbagai masalah aktual yang relevan dengan kehidupan generasi muda Indonesia. Tema-tema utama seperti kesehatan mental, literasi digital, sampah plastik, dan peran teknologi menjadi sorotan utama. Banyak dari mereka juga menyoroti ketimpangan akses pendidikan, pengelolaan lingkungan, serta kesenjangan ekonomi yang terjadi di tengah kemajuan digital. Hal ini membuktikan bahwa para peserta tidak hanya mampu mengamati perubahan sosial, tetapi juga berani mengungkapkan problematikanya melalui analisis kritis.

“Najwa Shihab menyampaikan apresiasi terhadap orisinalitas dan keberanian intelektual para finalis. Ia menilai esai-esai tersebut memberikan perspektif baru dan menggambarkan kemampuan berpikir kritis yang penting untuk menjadi pemimpin masa depan,” kata narator acara.

Penekanan pada Proses Presentasi

Prof. Ronny Rachman Noor menekankan bahwa penyampaian gagasan secara langsung memiliki nilai yang sama pentingnya dengan proses penulisan. Menurutnya, sesi presentasi menjadi wadah untuk menguji, mengembangkan, dan memperkaya ide-ide yang sudah dituangkan dalam esai. “Jangan khawatir jika presentasi tidak sempurna, karena ini adalah kesempatan untuk melatih kemampuan komunikasi dan berdiskusi secara konstruktif,” ujarnya. Ia menambahkan, acara ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan pentingnya generasi muda yang cerdas dan berbudaya.

“Presentasi bukanlah ujian skripsi, tapi proses yang membantu para finalis mengasah kemampuan berpikir kritis dan menerapkan gagasan mereka ke dalam konteks nyata. Sesi ini adalah ajang diskusi, bukan hanya penilaian,” tambah Prof. Ronny.

Kemampuan Berpikir Kritis dalam Esai

Najwa Shihab menyoroti bahwa esai-esai yang disampaikan menunjukkan ketajaman berpikir dan kepekaan terhadap isu-isu kontemporer. “Saya membaca setiap karya dengan perhatian, dan menemukan bahwa mereka tidak hanya mengungkap permasalahan, tetapi juga memberikan solusi yang adaptif dan relevan,” katanya. Ia memuji keberanian para finalis dalam mempertanyakan paradigma yang ada, seperti cara memanfaatkan teknologi dan menghadapi disinformasi di dunia digital.

Dalam ruang presentasi, para peserta juga menunjukkan kekuatan pemikiran mereka. Beberapa dari mereka mengkritik sistem yang tidak adil, sementara yang lain menawarkan inovasi untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial. Kepuasan juri terhadap berbagai perspektif yang disajikan mencerminkan tanggung jawab generasi muda dalam merespons perubahan zaman.

“Esai-esai ini membuktikan adanya keberanian intelektual, kepekaan terhadap isu terkini, dan kemampuan untuk berpikir kritis. Semua hal itu menjadi dasar bagi pemimpin masa depan,” ujar Najwa Shihab.

Gloria Tamba: Pengalaman Berharga yang Terus Berguna

Gloria Tamba, seorang pengacara yang pernah menjadi Beswan Djarum, menilai acara ini menegaskan bahwa kompetisi semacam ini tidak hanya memberikan penghargaan, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan yang berkelanjutan. “Saya merasa pelatihan dan pendampingan yang diberikan selama masa bakti Beswan Djarum sangat membantu dalam menjalani profesinya,” katanya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab sosial dan kemampuan berpikir kritis adalah kunci untuk sukses di berbagai bidang.

Kompetisi ini juga memicu partisipasi aktif dari para finalis. Mereka tidak hanya menulis esai, tetapi juga menyesuaikan ide-ide mereka dalam bentuk presentasi yang interaktif. Selain itu, ada sesi tanya jawab yang memungkinkan juri dan peserta saling berbagi wawasan, serta diskusi antarfinalis yang mendorong kolaborasi dan pertukaran pandangan.

Para Finalis dan Tema Esai Mereka

Ke-16 finalis yang tampil pada hari Kamis (25/6) terdiri dari Jocelyn Kristanti dari Universitas Padjadjaran, yang mengusung tema “Media Sosial Meresepkan: Bahaya Fenomena Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Generasi Z”. Dalam esainya, ia mengkritik peran media sosial dalam menyebarkan kecemasan mental secara massal. Sementara itu, Vania Nyr Aneira, juga dari Universitas Padjadjaran, menyoroti ketimpangan ekonomi dalam konteks kesenjangan akses pendidikan.

Caroline Niel Amaris Purnomo dari Universitas Katolik Soegijapranata mengangkat isu hubungan manusia di era AI Companion. Esainya berjudul “Di Balik Zona Nyaman Semu: Krisis Hubungan Autentik di Era AI Companion”, di mana ia mengeksplorasi dampak teknologi terhadap interaksi sosial. Muhammad Akramul Faroghy Sadin dari Universitas Mataram membahas sampah plastik dalam pembelian daring, dengan judul “Di Balik Setiap Lapisan Paket: Ancaman Masif Limbah Plastik Bubble Wrap di Era Belanja Daring”.

Sedangkan Lola Nadya Putri dari Universitas Veteran Yogyakarta menyoroti fenomena Crab Mentality, yaitu sikap pesimis yang memicu konflik antara individu dan lingkungan. Esainya berjudul “Dilema Crab Mentality: Si Gendhuk Terlalu Bersinar untuk Desanya, Terlalu Redup untuk Dunia”, yang menggambarkan keresahan generasi muda dalam memenuhi ekspektasi kota dan desa. Fernaldy Bima Adiputra dari Universitas Bina Nusantara mengkritik impunitas finfluencer dan keterbukaan institusi sekuritas dalam esainya berjudul “Menggugat Impunitas Finfluencer dan Urgensi Akuntabilitas Institusi Sekuritas”.

Di hari Jumat (26/6), 10 finalis lainnya tampil dengan tema serupa. Christopher William Piri dari Universitas Nasional Karangturi Semarang, misalnya, mengusung judul “Akhiri Teka-Teki Ekonomi: Kebijakan Keuangan untuk Masa Depan Berkelanjutan”. Esai ini mengeksplorasi cara mengatasi kesenjangan ekonomi melalui pendekatan kebijakan yang inklusif.

Komitmen Bakti Pendidikan Djarum Foundation

Acara ini menjadi bagian dari upaya Bakti Pendidikan Djarum Foundation dalam menumbuhkan generasi muda yang kompetitif dan berwawasan luas. Menurutnya, ke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *