Latest Program: Unhas perkuat organisasi mahasiswa dalam tata kelola gagasan
Unhas Perkuat Organisasi Mahasiswa dalam Tata Kelola Gagasan
Latest Program – Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) terus mengembangkan kemampuan organisasi kemahasiswaan secara intelektual dan advokasi, khususnya dalam mengolah gagasan serta hasil penelitian menjadi rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata. Kegiatan ini diinisiasi melalui program “Menulis Policy Brief” dalam Kelas Karier, yang bertujuan memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menyusun dokumen strategis berbasis data dan fakta. Kegiatan ini dikhususkan untuk para pengurus organisasi kemahasiswaan (Ormawa), seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga berbagai lembaga lainnya di lingkungan kampus.
Direktur Kemahasiswaan: Penguatan Karier dan Akademik
Direktur Kemahasiswaan Unhas, Abdullah Sanusi PhD, dalam pernyataannya di Makassar, Kamis, menjelaskan bahwa kelas ini tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas akademik, tetapi juga sebagai persiapan karier bagi mahasiswa yang aktif di organisasi. “Kami sengaja mengundang para pengurus lembaga dan mengemas materi dalam bentuk kelas karier karena ada peran profesional yang membutuhkan keterampilan ini,” kata Abdullah. Ia menambahkan, narasumber yang hadir dalam program ini memiliki pengalaman signifikan dalam proses pengambilan kebijakan, sehingga bisa memberikan panduan praktis bagi peserta.
“Kami sengaja mengundang pengurus lembaga dan mengemas dalam kelas karier karena ada karier yang membutuhkan keterampilan ini. Apalagi narasumber kita memiliki pengalaman luas dalam pengambilan kebijakan,” ujarnya.
Abdullah juga menyoroti potensi besar karya ilmiah mahasiswa Unhas yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai dasar kebijakan. “Setiap tahun di Unhas terdapat sekitar 10 ribu karya ilmiah. Tidak menutup kemungkinan dari jumlah tersebut ada yang bisa diubah menjadi kebijakan berdampak,” imbuhnya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat hubungan antara akademisi dan praktisi, agar hasil riset bisa digunakan untuk kepentingan publik.
Prof Agussalim: Policy Brief sebagai Alat Komunikasi Kebijakan
Prof Agussalim, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, dalam materinya menekankan bahwa “policy brief” merupakan bagian dari tradisi akademik yang memiliki peran penting, meskipun belum sepopuler jurnal ilmiah. Menurutnya, dokumen ini memiliki dampak strategis karena langsung menjangkau para pengambil kebijakan, sehingga mampu mempercepat implementasi solusi berbasis fakta dan data.
“Riset yang baik tapi tidak dikomunikasikan dengan baik, sama saja dengan riset yang tidak pernah dilakukan,” tegas Prof. Agussalim.
Prof Agussalim menjelaskan bahwa “policy brief” dirancang agar hasil karya ilmiah bisa disampaikan secara ringkas dan relevan, sehingga mudah dipahami oleh para pengambil keputusan. “Banyak mahasiswa yang menghasilkan karya ilmiah berkualitas, tetapi kurang memperhatikan cara penyampaian yang tepat. Dokumen ini menjadi jembatan antara akademik dan praktik,” katanya. Ia menekankan bahwa keterampilan menyusun “policy brief” adalah kunci untuk meningkatkan pengaruh mahasiswa dalam lingkungan kampus dan masyarakat luas.
Lebih lanjut, Prof Agussalim memaparkan karakteristik umum para pengambil kebijakan, termasuk kecenderungan menyukai tulisan yang sederhana dan jelas, bukan terlalu rumit. “Pengurus lembaga sering kali sibuk dengan tugas administratif, sehingga butuh informasi yang singkat namun mengandung nilai strategis,” jelasnya. Ia juga menyebutkan bahwa rekomendasi dalam “policy brief” harus praktis, dapat diimplementasikan, dan mengarah pada perubahan nyata. Hal ini menjadi tantangan yang perlu diatasi oleh mahasiswa agar karya mereka tidak hanya eksis secara akademik, tetapi juga memiliki dampak kebijakan.
Kelas Karier “Menulis Policy Brief” ini diharapkan mampu mengubah pola pikir mahasiswa menjadi lebih orientasi ke praktik. Abdullah Sanusi mengungkapkan bahwa Unhas sedang berupaya membangun ekosistem kampus yang kolaboratif, di mana organisasi kemahasiswaan berperan aktif dalam pembuatan kebijakan. “Kita perlu menciptakan lingkungan di mana gagasan mahasiswa bisa berubah menjadi kebijakan, bukan hanya tulisan akademik yang terbengkalai,” katanya. Dalam konteks ini, kelas karier menjadi wadah untuk melatih mahasiswa menguasai keterampilan menulis yang efektif, agar mereka bisa bersaing dalam dunia profesional.
Program ini juga memberikan kesempatan bagi para peserta untuk membangun jaringan dengan sejumlah narasumber yang berpengalaman. Misalnya, para pembicara berasal dari lembaga penelitian, pemerintah, maupun sektor swasta, yang secara langsung terlibat dalam pengambilan kebijakan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, Unhas berharap mampu menciptakan karya ilmiah yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Kita ingin memastikan bahwa setiap tulisan mahasiswa bukan hanya dihargai secara akademik, tetapi juga diaplikasikan untuk memperbaiki kondisi nyata,” ujar Abdullah.
Menurut Prof Agussalim, keberhasilan program ini tergantung pada keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran. “Kunci utamanya adalah keseriusan peserta dalam memahami struktur dan tujuan dari policy brief. Jika mereka mampu menyusun dokumen yang komprehensif, maka kontribusi mereka terhadap kebijakan akan terukir jelas,” tambahnya. Selain itu, ia menyarankan agar program ini diulang secara berkala, karena keterampilan ini membutuhkan latihan berkelanjutan untuk terus ditingkatkan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Unhas meningkatkan kualitas pengelolaan gagasan dan kebijakan di kalangan mahasiswa. Dengan menghadirkan pendekatan yang lebih praktis, kampus ini berharap mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi peneliti, tetapi juga sebagai pelaku kebijakan. “Masa depan kebijakan lokal akan semakin kuat jika mahasiswa terlibat aktif dalam proses perencanaan dan evaluasinya,” pungkas Abdullah Sanusi. Dukungan dari berbagai lembaga kampus dan stakeholder akan menjadi faktor penentu dalam mengejar tujuan ini.
Sebagai wadah pengembangan kompetensi, Kelas Karier ini juga dirancang untuk memperkaya pengalaman akademik mahasiswa. Selain mengasah keterampilan menulis, peserta juga diberi kesempatan belajar tentang cara mengidentifikasi isu kebijakan, mengumpulkan data, serta mengelola narasi yang persuasif. Program ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kemitrahan antara mahasiswa dan p
