Facing Challenges: Hana Saraswati Kenang Gary Iskak di Film Lastri: Arwah Kembang Desa

1781192667_6693485ddf60cfd55e91

Hana Saraswati Kenang Gary Iskak di Film Lastri: Arwah Kembang Desa

Facing Challenges – Sebagai seorang aktris yang selama ini dikenal dengan peran-peran penuh emosi, Hana Saraswati kembali menantang diri dengan film horor terbarunya, Lastri: Arwah Kembang Desa, yang disutradarai oleh Hendri Tjan. Film ini mengadaptasi urban legend populer yang berlatar belakang era 1980-an, menghadirkan kisah menegangkan yang berpotensi menjadi favorit penikmat genre horor di Indonesia. Hana memerankan tokoh utama, Lastri, seorang perempuan desa yang terlibat dalam konflik kompleks antara cinta, persaingan, dan keadilan.

Kisah dalam Film

Lastri: Arwah Kembang Desa menceritakan cerita tentang Atmi, seorang wanita yang teror oleh entitas gaib yang tidak memiliki wujud jelas. Arwah ini memiliki keinginan balas dendam terhadap perbuatan masa lalu Atmi, yang menimbulkan ketegangan di dalam keluarga dan komunitas. Lastri, sosok yang menjadi arwah, dulu adalah seorang kembang desa di kampung Bandeng yang menikah muda dengan Turenggo, seorang juragan tambang pasir. Pernikahan mereka menjadi sumber kecil dari cemburu di tengah masyarakat, khususnya oleh Darman, juragan tambang pasir saingan Turenggo.

Konflik emosional terus berkembang, terutama saat Atmi, seorang perempuan yang dulu mencintai Turenggo, memulai upaya untuk menghancurkan kebahagiaan Lastri. Dengan membawa informasi negatif dan menyebarkan rumor, Atmi dan Darman berusaha menggoyahkan hubungan Lastri dengan suaminya. Lingkungan desa yang penuh ketegangan akhirnya mengakibatkan Lastri menjadi korban dari kebencian yang menyebar.

Kerja Sama dengan Gary Iskak

Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Hana Saraswati menyampaikan pengalaman uniknya saat beradu akting dengan aktor senior Gary Iskak. Meski awalnya merasa canggung karena penampilan Gary yang menghadirkan aura ketakutan, rasa segan itu berubah setelah mereka menjalin hubungan yang hangat. “Mas Gary itu bukan aktor yang hanya baik secara formal, dia benar-benar penuh kehangatan dan tulus dalam bermain,” ujarnya. Selama proses syuting, Hana merasakan kehangatan yang datang dari Gary, yang membuat berbagai tantangan dalam produksi terasa lebih mudah.

“Awalnya ngeliat penampilannya (Gary), wah serem juga ya bapak-bapak ini. Tapi ternyata begitu ngobrol, hatinya beda jauh, hatinya ‘Hello Kitty’ banget,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (11/6).

Hana menjelaskan bahwa chemistry antara dirinya dan Gary terbangun secara alami, karena sifat aktor tersebut yang terbuka dan mampu menciptakan suasana yang nyaman. “Mas Gary tidak memaksakan diri dalam bermain, dia bisa menyesuaikan diri dengan mudah. Jadi, kami yang bekerja bersamanya merasa terbantu dalam membangun kesan yang kuat antara karakter,” tambahnya.

Tantangan Membangun Karakter

Menurut Hana, memerankan Lastri tidak hanya membutuhkan kemampuan emosional, tetapi juga penelitian ekstra untuk memahami budaya dan lingkungan desa tahun 1980-an. “Saya harus memikirkan bagaimana perempuan desa pada masa itu hidup, berpakaian, dan berbicara. Jadi, banyak waktu yang saya habiskan untuk bertanya kepada pemain senior dan memperhatikan detail kecil yang memperkaya karakter,” katanya.

“Backstory Lastri ini di tahun 1980-an, sementara aku sendiri belum hidup di masa itu. Jadi prosesnya lebih banyak mengandalkan imajinasi dan bertanya kepada pemain senior tentang seperti apa sosok kembang desa pada masa tersebut,” jelasnya.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi Hana adalah memahami latar belakang Lastri, yang memadukan elemen kekerasan, kesedihan, dan keinginan balas dendam. Ia menekankan bahwa pendalaman karakter tidak selalu memerlukan keterampilan yang rumit, tetapi fokus pada penguasaan naskah dan kemampuan untuk menyampaikan perasaan secara mendalam. “Aku tipe yang menyelami karakter nggak terlalu muluk-muluk. Yang penting membaca naskah dengan tepat dan benar. Menurutku, proses pendalaman karakter paling penting ada pada membaca naskah dan membangun chemistry dengan pemain lain,” tuturnya.

Makna Khusus untuk Hana

Bagi Hana, film ini memiliki arti istimewa, karena menjadi salah satu karya terakhir Gary Iskak sebelum meninggal dunia. “Aku pengen film ini dikenang dengan baik oleh banyak orang karena ini mungkin salah satu proyek terakhirnya Mas Gary. Semoga penonton bisa mengapresiasi mimpi kita semua di film ini,” tutup Hana.

Proses syuting film ini tidak hanya menguji kemampuan akting Hana, tetapi juga menjadi pengalaman berharga dalam membangun hubungan dengan Gary. Meski Gary telah pergi, ia masih meninggalkan kesan mendalam yang terus menginspirasi. Hana menyebutkan bahwa Gary memiliki kemampuan untuk membuat setiap pemain merasa nyaman, bahkan dalam suasana yang mencekam.

Proyek yang Menjanjikan

Film Lastri: Arwah Kembang Desa menggabungkan elemen drama horor yang menggetarkan, plot twist yang mengejutkan, serta kedekatan emosional dengan kisah lokal Indonesia. Dengan latar belakang yang kaya dan pengaruh dari tradisi budaya desa, film ini diharapkan mampu menghibur sambil menyampaikan pesan tentang keadilan dan penyesuaian sosial.

Menurut Hana, film ini tidak hanya menjadi proyek profesional, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap legacy Gary Iskak. “Kami semua berharap film ini bisa menjadi bentuk pengingat akan semangat bermain aktor senior tersebut, yang mampu membangun karakter dengan kekuatan emosional yang luar biasa,” katanya.

Di sisi lain, film ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar pemain dalam menciptakan atmosfer yang konsisten. Dengan chemistry yang terbangun, Hana yakin bahwa cerita Lastri akan menjadi salah satu karya yang memikat dan memenuhi harapan penonton. Tayang pada 16 Juli, Lastri: Arwah Kembang Desa diharapkan mampu menghadirkan kisah yang tidak hanya mencekam, tetapi juga memberikan refleksi tentang kehidupan sosial dan hubungan antar manusia.

Dalam usaha menciptakan film yang memadukan antara genre horor dan kisah lokal, Hendri Tjan berusaha memperkaya cerita dengan detail yang akurat. Selain Hana Saraswati dan Gary Iskak, film ini juga melibatkan Yama Carlos sebagai Darman, dan Audy Bella sebagai Atmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *