New Policy: Wamenkeu: Penghapusan MBG Sabtu hemat Rp1 triliun dalam satu hari

1000143788

Wamenkeu: Penghapusan MBG Sabtu Hemat Rp1 Triliun dalam Satu Hari

Jakarta, Senin – Dalam sesi Policy Dialogue yang berlangsung di acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Jakarta, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan bahwa pengurangan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari Sabtu diproyeksikan mampu menghemat anggaran sekitar Rp1 triliun per hari. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari upaya penajaman belanja pemerintah agar program prioritas dapat dijalankan dengan lebih efisien dan berkualitas. “MBG sebelumnya memberikan makan siang gratis pada hari Sabtu, namun kini dihilangkan. Dengan menghilangkan satu hari tersebut, anggaran bisa terhemat hingga Rp1 triliun,” jelas Juda.

Juda menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil karena dinilai lebih logis, mengingat peserta didik tidak perlu datang ke sekolah hanya untuk menerima makanan. Ia menambahkan, dengan mengoptimalkan penggunaan anggaran, pemerintah bisa fokus pada kebutuhan pokok yang lebih mendesak. “Mengapa harus memberikan bantuan pada hari Sabtu jika itu tidak memberikan manfaat maksimal? Dengan mengalihkan pengeluaran tersebut, kita bisa memperkuat prioritas lain,” ungkapnya.

“MBG misalnya, yang dulunya Sabtu diberikan makan siang gratis, sekarang itu dihilangkan. Satu hari itu bisa ngirit satu triliun,”

Menurut Juda, kebijakan ini memiliki dampak yang signifikan jika dihitung secara berkala. Dalam sebulan, dengan menghilangkan penyaluran MBG empat kali, pemerintah bisa menghemat hingga Rp4 triliun. “Empat kali dalam sebulan itu bisa mengirit atau menghemat Rp4 triliun. Setahun tentu saja sekitar Rp50 triliun kita bisa menghemat,” lanjutnya.

Langkah penajaman tersebut tidak hanya terbatas pada hari Sabtu. Pemerintah juga menghapus penyaluran MBG selama masa liburan sekolah sebagai bagian dari refocusing kebijakan. “Ini adalah refocusing atau penajaman. Kita tetap melakukan program-program prioritas yang ada dengan lebih berkualitas dan lebih tajam,” tutur Juda.

“Empat kali dalam sebulan itu bisa mengirit atau menghemat Rp4 triliun. Setahun tentu saja sekitar Rp50 triliun kita bisa menghemat,”

Menurutnya, penghapusan penyaluran MBG pada hari Sabtu dan liburan sekolah menjadi salah satu strategi untuk menjaga keseimbangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Juda menyatakan bahwa pemerintah terus memantau efisiensi anggaran, terutama di tengah tekanan harga minyak global yang memengaruhi defisit negara. “Dengan mengurangi pengeluaran di sektor tertentu, kita bisa mengoptimalkan penggunaan dana untuk kebutuhan yang lebih urgent,” tambahnya.

Selain itu, Juda juga menegaskan bahwa pemerintah melakukan evaluasi terhadap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang tidak memenuhi standar nutrisi. Ia menambahkan, unit-unit tersebut akan diberi peringatan atau bahkan dihentikan sementara operasionalnya jika tidak memenuhi kriteria. “Kita tidak ingin program MBG hanya menjadi simbol tanpa dampak nyata pada masyarakat. Jadi, evaluasi ini dilakukan untuk memastikan keberhasilan program,” jelasnya.

“Ini adalah refocusing atau penajaman. Kita tetap melakukan program-program prioritas yang ada dengan lebih berkualitas dan lebih tajam,”

Juda mengungkapkan bahwa selain penghapusan MBG, pemerintah juga mengambil langkah lain untuk mengendalikan defisit APBN. Hal ini termasuk penahanan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Meskipun ada risiko peningkatan subsidi, pemerintah tetap yakin bahwa langkah ini lebih baik daripada mengalihkan dana ke sektor yang tidak strategis.

Dalam konteks ini, pemerintah melakukan berbagai penguatan di bidang pendapatan. Salah satunya adalah sistem perpajakan coretax yang diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara. Juda juga mengatakan bahwa kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) memberi peluang untuk menambah penerimaan keuangan. “Dengan kenaikan harga minyak dan komoditas, kita bisa memperkuat defisit APBN dan meminimalkan beban subsidi,” ujarnya.

Menurut Juda, refocusing belanja tidak hanya berdampak pada angka anggaran, tetapi juga meningkatkan kualitas pelaksanaan program. “Dengan mengoptimalkan pengeluaran, kita bisa memastikan bahwa dana yang dialokasikan benar-benar berdampak pada masyarakat,” jelasnya. Ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak menghilangkan program MBG secara keseluruhan, tetapi mengubah pola penyalurannya agar lebih efektif.

Juda juga menyebutkan bahwa pemerintah terus mengevaluasi efisiensi belanja pemerintah secara berkala. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemborosan dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki manfaat maksimal. “Kita tidak ingin ada kebijakan yang tidak tepat sasaran. Jadi, penajaman dilakukan secara terus-menerus,” tambahnya.

Di sisi lain, penghapusan MBG pada hari Sabtu dianggap sebagai langkah yang membantu mendorong pemerintah untuk fokus pada program-program dengan dampak lebih langsung. Juda menyampaikan bahwa ini sejalan dengan upaya menekan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi. “Dengan mengurangi pengeluaran di sektor yang tidak prioritas, kita bisa memperkuat perekonomian nasional,” ujarnya.

Pelaksanaan refocusing ini juga diharapkan bisa memberikan contoh bagi institusi pemerintah lainnya untuk lebih memperhatikan efisiensi. Juda menegaskan bahwa penghematan anggaran tidak hanya mungkin, tetapi juga penting untuk mencapai target pemerintah dalam pembangunan jangka panjang. “Kita perlu berpikir jernih tentang pengeluaran dan investasi. Ini adalah bagian dari reformasi keuangan yang lebih dalam,” pungkasnya.