Latest Program: Dari Keresahan Ibu, Sanfood Bawa Makanan Anak Lokal Naik Kelas hingga Raup Miliaran Rupiah
Dari Keresahan Ibu, Sanfood Bawa Makanan Anak Lokal Naik Kelas hingga Raup Miliaran Rupiah
Latest Program – Sebuah kegelisahan yang muncul dari seorang ibu dalam mencari makanan pendamping asil (MPASI) yang sehat, praktis, dan sesuai dengan selera anak Indonesia menjadi awal dari lahirnya PT Sanfood Brilian Indonesia. Usaha ini dijalankan oleh Eka Risky Septiani, seorang perempuan berusia 36 tahun, yang memulai bisnis pada 2018 dari dapur rumah sederhana di Cisauk, Tangerang. Awalnya, Eka menghadapi tantangan besar dalam mengatur waktu antara pekerjaan di rumah sakit dan pengasuhan anak. Selain itu, pilihan makanan anak di pasaran saat itu masih terbatas. Produk lokal dianggap kurang beragam, sementara produk impor relatif mahal dan belum tentu cocok dengan lidah anak-anak Indonesia.
“Karena adanya kesenjangan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk memulai produksi makanan anak secara mandiri. Ternyata pas dicoba dijual, responsnya positif dan laku,”
Dari situ, Eka melahirkan ide yang berujung pada pengembangan produk makanan anak berbasis bahan pangan lokal. Dia percaya bahwa bahan-bahan pangan Indonesia lebih sesuai dengan kebiasaan makan anak dibandingkan bahan impor. Awalnya, Sanfood menghadirkan bubur bayi yang terbuat dari beras, bercampur dengan lauk seperti ayam, sapi, ikan, sayuran, dan tempe. Produk tersebut dibuat dalam bentuk non-instan, sehingga tetap perlu dimasak sebelum dikonsumsi. Meski prosesnya lebih rumit, Eka menganggap ini sebagai langkah awal yang strategis untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Kelahiran Sanfood tidak langsung berjalan mulus. Pada awal usaha, Eka masih mencari model bisnis yang tepat. Ia sempat menjual kembali produk makanan anak dari toko modern menggunakan platform marketplace, dengan modal awal sebesar Rp45.000. Produk tersebut dijual secara daring dengan harga Rp50.000, dan ia mendapatkan keuntungan Rp5.000 dari setiap transaksi. Dari situ, keuntungan kecil itu menjadi pemicu untuk terus berkembang.
“Kalau dibilang modal pertama, itu Rp45.000 awal,”
Persoalan yang sama juga dirasakan oleh banyak ibu. Mereka memiliki keinginan untuk memberikan asupan nutrisi yang baik kepada anak, tetapi keterbatasan waktu membuatnya sulit menyiapkan makanan secara mandiri. Sanfood lahir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Produk-produknya dirancang khusus untuk keluarga urban yang kebanyakan diurus oleh pengasuh. Dengan pendekatan praktis, terjangkau, dan tetap mempertimbangkan preferensi anak Indonesia, Sanfood mulai dikenal.
Perjalanan bisnis Sanfood pun mengalami tantangan ketika pandemi covid-19 melanda. Perusahaan sudah menyiapkan tenaga penjualan dan distribusi offline, tetapi aktivitas tatap muka terhenti akibat pembatasan sosial. Eka memutuskan untuk melanjutkan operasional melalui e-commerce. “Daripada dilanjutin enggak maksimal, akhirnya ya sudah kita tetap jualan online di e-commerce,”
Permintaan makanan bayi melalui platform daring meningkat pesat selama pandemi. Situasi ini justru membantu Sanfood bertahan dan tumbuh. Eka menyatakan bahwa kejelian membaca kebutuhan pasar menjadi salah satu faktor kunci pertumbuhan bisnisnya. Awalnya, ia memperhatikan bahwa produk beras organik untuk bayi dijual dalam kemasan besar, sementara konsumsi anak-anak biasanya lebih kecil. Melihat celah tersebut, Eka membeli beras organik dalam ukuran besar, lalu mengemas ulang menjadi paket yang lebih ekonomis dan mudah dibawa.
Langkah ini berhasil menarik perhatian banyak konsumen. Dari penjualan di e-commerce, Eka mampu meraih pendapatan mencapai Rp1 miliar dalam waktu singkat. Kehadiran Sanfood tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga menunjukkan potensi industri makanan anak dalam negeri. Dengan menggunakan bahan-bahan yang lokal, produk Sanfood memiliki nilai tambah yang lebih kompetitif dibandingkan produk impor.
Strategi Pemasaran dan Pemenuhan Kebutuhan Konsumen
Kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung menyukai makanan tradisional menjadi faktor utama keberhasilan Sanfood. Eka menekankan bahwa beras sebagai bahan dasar utama produknya lebih familiar dan lebih aman bagi anak. “Bahan pangan Indonesia lebih sesuai dengan kebiasaan makan anak-anak dibandingkan bahan impor,”
Perusahaan ini juga memperhatikan kebutuhan konsumen dengan menawarkan berbagai variasi produk. Mulai dari bubur bayi, hingga makanan kemasan yang bisa langsung dikonsumsi. Pencampuran bahan, pengolahan, dan pengembangan resep menjadi fondasi utama dalam proses inovasi Sanfood. “Akhirnya di situ kita baru mulai mixing. Pertumbuhan usaha pun baru mulai kelihatan saat itu,”
Seiring berkembangnya permintaan, Sanfood terus mengembangkan produk. Perusahaan kini memproduksi berbagai kategori makanan anak mulai dari bubur bayi hingga makanan kemasan. Dari awal bisnis, Eka membangun brand berbasis kualitas dan kepercayaan. Kini, Sanfood telah mencapai omzet miliaran rupiah, menjelma menjadi perusahaan yang diakui dalam industri makanan anak.
Keberhasilan Sanfood juga diakui oleh berbagai pihak. Perusahaan telah memperoleh izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikasi halal. Hal ini menunjukkan komitmen Sanfood dalam memastikan produknya aman dan terjamin kualitasnya. “Sekarang sudah ada izin BPOM dan halal semuanya keluar dari situ,”
Eka menekankan bahwa perjalanan Sanfood bukan sekadar keberhasilan finansial, tetapi juga kepuasan konsumen. Ia melihat bahwa banyak ibu yang kini lebih mudah menyiapkan makanan anak karena adanya produk yang praktis dan berbasis lokal. “Banyak ibu menghadapi persoalan yang sama, yakni keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan anak sekaligus keinginan memberikan asupan bergizi,”
Kini, Sanfood tidak hanya menjadi solusi bagi keluarga urban, tetapi juga memberikan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Eka menjelaskan bahwa proses produksi memerlukan tenaga kerja lokal, yang berkontribusi pada perekonomian daerah. Dari usaha kecil di dapur rumah, Sanfood kini menghadirkan berbagai pilihan makanan anak dengan kualitas terbaik, sambil tetap menjaga hubungan yang erat dengan konsumen.
Dengan tetap berfokus pada kebutuhan pasar dan inovasi, Sanfood terus berkembang. Bahan pangan lokal tidak hanya menjadi keunikan produk, tetapi juga menjadi nilai jual yang kuat. Eka berharap, keberhasilan Sanfood dapat memotivasi lebih banyak pengusaha muda untuk berani memulai usaha dari nol, dengan solusi yang sederhana namun bernilai besar. “Dari dapur rumah, kita bisa membuat perubahan yang signifikan,”
Sanfood menunjukkan bahwa bisnis makanan anak lokal mamp
