Special Plan: PLN rencanakan TMC perkuat sistem kelistrikan Sulbagsel hadapi El Nino
PLN Rencanakan TMC Perkuat Sistem Kelistrikan Sulbagsel Hadapi El Nino
Special Plan – Makassar – PT PLN sedang mempersiapkan penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai upaya mitigasi untuk meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan di wilayah Sulawesi Selatan dan Selatan (Sulbagsel) menghadapi kondisi kekeringan yang diprediksi terjadi tahun ini. Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial serta Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif, menjelaskan bahwa TMC dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air di waduk-waduk pembangkit strategis. Ini bertujuan mencegah dampak negatif dari anomali cuaca yang dapat mengganggu produksi listrik.
Strategi Mitigasi dengan TMC
Langkah ini merupakan bagian dari rencana PLN untuk memperkuat kapasitas pasokan energi sebelum musim kemarau memicu penurunan debit air. “Manajemen pembangkit dianjurkan untuk segera melakukan modifikasi cuaca jika diperlukan, bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” kata Ahmad dalam wawancara di Makassar, Selasa. TMC, yang merupakan teknik pengaturan cuaca melalui penambahan kelembapan atau penurunan suhu, diharapkan bisa menstabilkan kondisi hidrometrik dan mengurangi risiko kekeringan ekstrem.
“Apabila sudah tidak terpakai, mohon colokan listrik dapat dicabut untuk mencegah korsleting listrik,” ujarnya.
Penguatan Infrastruktur Listrik
Di samping TMC, PLN juga menerapkan beberapa langkah penguatan infrastruktur listrik. Salah satunya adalah penempatan unit pembangkit di Palu dengan kapasitas 2×50 MW, yang diperkirakan dapat meningkatkan pasokan energi di daerah tersebut. Selain itu, perseroan mengoperasikan pembangkit mobile di tiga lokasi strategis, yaitu Pinrang, Makassar, dan Kolaka, dengan total daya 120 MW. “Ini adalah bentuk antisipasi untuk memastikan sistem kelistrikan tetap stabil meskipun ada tekanan dari kekeringan,” tambah Ahmad.
PLN juga melakukan penjadwalan pemeliharaan pembangkit agar dapat beroperasi secara optimal sepanjang musim kemarau. Upaya ini bertujuan mengurangi risiko gangguan operasional yang bisa muncul akibat penurunan debit air di waduk-waduk PLTA. “Setelah tahun 2023, kapasitas pembangkit di Sulbagsel sudah ditingkatkan dengan tambahan 300 Mega Watt,” jelas Ahmad. Penambahan tersebut merupakan hasil dari perbaikan infrastruktur dan optimalisasi sistem distribusi.
Krisis Energi Tahun 2023
Langkah-langkah penguatan sistem kelistrikan ini diambil setelah mengalami krisis energi pada 2023. Saat itu, kemarau ekstrem menyebabkan penurunan produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) hingga 75 persen dari kapasitas terpasang sebesar 850 Megawatt (MW). Debit air yang menyusut hanya mampu menggerakkan turbin untuk menghasilkan sekitar 200 MW, yang berujung pada kebijakan pemadaman bergilir di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
“Pasca tahun 2023, ada peningkatan kapasitas pembangkit yang terdistribusi di sistem kelistrikan Sulbagsel,” ujarnya.
Krisis tersebut menunjukkan bahwa Sulbagsel sangat rentan terhadap perubahan iklim, terutama fenomena El Nino yang diprediksi akan kembali mengancam tahun ini. Untuk mengatasi hal ini, PLN tidak hanya memperkuat kapasitas pembangkit tetap, tetapi juga meningkatkan fleksibilitas sistem melalui pembangkit mobile. “Dengan kombinasi penguatan cadangan, optimasi energi terbarukan, serta manajemen beban pelanggan, kami berharap stabilitas pasokan listrik tetap terjaga,” tambah Ahmad.
Peran Masyarakat dalam Stabilitas Energi
PLN mengingatkan masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan listrik. “Kami optimistis pasokan energi saat ini sudah memadai untuk memenuhi beban puncak, namun tetap memerlukan kerja sama dari masyarakat,” ujarnya. Upaya ini termasuk mendorong penggunaan listrik secara bijak, terutama di musim kemarau ketika konsumsi listrik cenderung meningkat.
Salah satu anjuran utama adalah memastikan penggunaan listrik tidak berlebihan. “Masyarakat diimbau untuk mencabut kabel listrik apabila tidak digunakan, agar mengurangi risiko korsleting atau kebakaran akibat arus yang tidak terkontrol,” katanya. Selain itu, PLN juga mendorong adanya kesadaran masyarakat untuk menghemat energi, terutama pada jam-jam puncak, agar tidak menambah beban sistem distribusi.
Dalam konteks pengelolaan sumber daya air, PLN berharap TMC dapat menjadi alat efektif dalam mempertahankan level debit air di waduk-waduk utama. “Modifikasi cuaca bisa membantu menjaga suplai air untuk memastikan pembangkit tetap beroperasi,” jelas Ahmad. Dengan demikian, TMC bukan hanya teknik meteorologis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan energi yang lebih holistik.
Upaya Jangka Panjang untuk Ketahanan Energi
Langkah-langkah yang diambil PLN menunjukkan komitmen jangka panjang dalam meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan Sulbagsel. Teknologi TMC dan penguatan kapasitas pembangkit merupakan bagian dari rencana pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi ancaman iklim yang semakin intens. “Sulbagsel adalah area kritis dalam sistem kelistrikan nasional, sehingga perlu dukungan bersama untuk menjaga keandalannya,” kata Ahmad.
Upaya penguatan ini juga sejalan dengan kebijakan nasional dalam mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi yang tidak stabil. Dengan kombinasi antara teknologi modern dan pengelolaan sumber daya secara efisien, PLN berupaya memastikan bahwa layanan
