Kasus Diare di Garut Meningkat selama Musim Kemarau – 17.339 Warga Terjangkit

1782921026_2e7eee9b42d386c9a08e

Kasus Diare di Garut Meningkat selama Musim Kemarau, 17.339 Warga Terjangkit

Kasus Diare di Garut Meningkat selama – Di tengah kondisi cuaca yang terus mengeringkan tanah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, penyakit diare tengah mengalami peningkatan drastis. Dinas Kesehatan setempat mencatat jumlah pasien yang terpapar kondisi ini mencapai 17.339 orang sejak awal Januari hingga akhir Juni 2026. Lonjakan ini diperkirakan terkait dengan durasi kemarau yang memasuki bulan ketiga, yang mengganggu ketersediaan air bersih dan memicu kebiasaan hidup yang kurang sehat di sejumlah masyarakat.

Kemarau Memperparah Kondisi Kesehatan

Musim kemarau yang berlangsung sejak akhir Maret 2026, hingga saat ini, memicu peningkatan signifikan dalam angka kejadian diare. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Garut, Asep Surahman, mengungkapkan bahwa faktor utama penyebab wabah ini melibatkan pengurangan debit air bersih, yang mengakibatkan tingkat kebersihan lingkungan turun. “Pergantian musim atau pancaroba sudah mulai terasa. Kondisi cuaca ekstrem seperti kemarau menjadi pemicu utama penyakit ini, terutama di kalangan anak-anak dan remaja,” jelas Asep. Menurutnya, jumlah pasien yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit juga meningkat, meski kebanyakan sudah membaik dalam waktu dua minggu terakhir.

“Berdasarkan laporan yang diterima, tercatat 17.339 warga terjangkit diare sejak awal Januari hingga Juni. Beberapa pasien sempat menjalani rawat inap di rumah sakit, namun kini berangsur sembuh,” kata Asep Surahman, Rabu (1/7/2026).

Menurut data Dinas Kesehatan, dari total kasus yang tercatat, sekitar 22,8 persen pasien tergolong balita. Angka ini menunjukkan bahwa kelompok usia dini rentan terhadap efek penyebaran penyakit selama masa kemarau. Selain itu, sejumlah warga dilaporkan mengalami gejala penyerta seperti batuk, flu, demam, hingga gatal-gatal atau kaligata. Asep menjelaskan bahwa gangguan kebersihan dan keterbatasan sumber daya air membuat risiko kontaminasi meningkat, terutama di daerah yang kurang memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang memadai.

Penyebab Utama Wabah Diare

Kasus diare yang melanda Garut diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, berkurangnya ketersediaan air bersih selama musim kemarau menyebabkan kebiasaan masyarakat mengambil air dari sumber yang tidak terjaga kebersihannya. Kedua, pengabaian terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi penyumbang signifikan. “Kurangnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan kurangnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan serta setelah buang air besar memicu penyebaran patogen yang menyebabkan diare,” tambah Asep. Ia menambahkan bahwa alergi makanan juga menjadi salah satu penyebab tambahan, terutama bagi masyarakat yang mengonsumsi makanan yang bahan bakuannya tercemar.

“Pergantian musim atau pancaroba sudah mulai terasa. Debit air yang berkurang dan kurangnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan menjadi pemicu utama. Jika tidak segera ditangani, diare dapat menyebabkan dehidrasi serius, terutama pada anak-anak,” imbuh Asep.

Dalam upaya memutus mata rantai penyebaran penyakit, petugas kesehatan di tingkat Puskesmas tengah gencar melakukan sosialisasi tentang pentingnya PHBS. Asep menyebutkan bahwa edukasi ini dilakukan secara berkala melalui kegiatan rutin seperti sosialisasi di sekolah, desa, dan pasar tradisional. “Kami juga memberikan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga untuk memastikan kebersihan makanan dan cara menyimpan air secara aman,” terangnya. Selain itu, pihaknya memberikan bantuan alat untuk mencuci tangan dan menyalurkan tablet klorin sebagai alat pencegah kontaminasi air.

Kondisi Warga dan Tindakan Preventif

Menurut Asep, kejadian diare yang meluas berdampak pada aktivitas sehari-hari warga, terutama di kalangan anak-anak yang sering mengalami gangguan pencernaan. “Anak-anak rentan mengalami dehidrasi karena tubuh mereka lebih mudah kehilangan cairan,” katanya. Ia mengingatkan bahwa gejala diare seperti mual, perut kembung, dan kram perut harus diwaspadai sejak awal. “Gejala ini bisa memburuk jika tidak diperhatikan, terutama pada balita yang sistem imunnya masih berkembang,” tegas Asep.

Dinas Kesehatan Garut juga melakukan pengecekan berkala di berbagai tempat seperti rumah ibadah, pusat perbelanjaan, dan pasar untuk memastikan kondisi kebersihan lingkungan tetap terjaga. “Kami menemukan beberapa titik rawan, seperti tempat penampungan air yang tidak diperbaiki atau sampah yang tidak dibuang secara teratur,” jelas Asep. Ia berharap masyarakat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan pribadi dan keluarga, terlebih dalam kondisi cuaca ekstrem yang mempercepat pertumbuhan bakteri dan virus penyebab diare.

Dalam wawancara terpisah, Asep juga menyebutkan bahwa intensitas hujan yang rendah selama kemarau membuat warga lebih rentan terhadap paparan kuman di udara dan permukaan tanah. “Kurangnya air hujan mengurangi aliran air ke sumber daya alam, sehingga meningkatkan risiko makanan terkontaminasi oleh kotoran di sekitar rumah,” lanjutnya. Ia menyarankan warga untuk menggunakan air yang sudah dimasak atau disaring sebelum dikonsumsi, terutama bagi keluarga yang tinggal di daerah dengan akses air bersih terbatas.

“Kami mengimbau orang tua agar segera memb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *