Meeting Results: Indonesia nilai pertemuan Xi-Trump bawa suasana positif dalam APEC

1c45ae38 ab4c 47e2 83f1 4c0b0a927d83 0

Indonesia Nilai Pertemuan Xi-Trump Bawa Suasana Positif dalam APEC

Pertemuan Antara Xi Jinping dan Donald Trump Menciptakan Atmosfer Kondusif

Meeting Results – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengungkapkan bahwa pertemuan antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan dampak positif pada diskusi yang berlangsung dalam Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026. Menurut Santo Darmosumarto, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, hasil dari pertemuan tingkat pemimpin tersebut memperkaya suasana pembicaraan yang berlangsung di forum multilateral tersebut. “Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump berdampak signifikan pada dinamika diskusi APEC, terutama dalam menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan saling menghargai,” jelas Santo kepada ANTARA di Beijing, Selasa.

SOM APEC di Shanghai Menjadi Fokus Utama

Pertemuan “Senior Officials’ Meeting” (SOM) APEC tahun ini berlangsung di Shanghai pada 18-19 Mei 2026, dengan Santo Darmosumarto hadir sebagai delegasi Indonesia. Menurutnya, suasana diskusi di forum tersebut terasa lebih kondusif karena adanya kesepakatan antara kedua pemimpin besar dunia tersebut. “Hasil pertemuan bilateral antara Tiongkok dan AS menciptakan fondasi yang kuat, sehingga delegasi dari kedua negara mengapresiasi kemajuan yang dicapai,” tambah Santo. Dalam konteks ini, pihak Indonesia berharap pengaruh positif dari pertemuan tersebut bisa diteruskan dalam negosiasi APEC.

Pertemuan di Beijing: Awal dari Hubungan yang Konstruktif

Sementara itu, pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump sebelumnya berlangsung di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Dalam sesi tersebut, kedua pemimpin sepakat untuk membangun hubungan ekonomi yang lebih stabil antara Tiongkok dan AS. Santo menyoroti bahwa pertemuan ini bukan hanya membuka jalan bagi kolaborasi bilateral, tetapi juga memberikan momentum bagi dialog global dalam kerangka APEC. “Maka, ketika Indonesia memasuki fase diskusi di Shanghai, suasana yang lebih harmonis bisa tercipta karena keterbukaan yang dihasilkan dari pertemuan tingkat tertinggi,” papar Santo.

Kebijakan Ekonomi: Pandangan yang Berbeda di APEC

Santo mengakui bahwa meski ada kesepakatan umum antara Tiongkok dan AS, masih terdapat perbedaan pandangan di antara anggota APEC lainnya. Sebagai contoh, Indonesia tetap menjadi penggemar sistem perdagangan multilateral yang mendorong kerja sama global. Namun, beberapa negara anggota, termasuk Amerika Serikat, mulai mengambil pendekatan yang berbeda, seperti menekankan penerapan tarif dagang sebagai alat perlindungan kepentingan nasional. “Indonesia berusaha mempertahankan prinsip kerja sama terbuka, tetapi tetap berhati-hati dalam memastikan sektor domestik tidak terganggu,” jelas Santo.

Strategi APEC: Konsistensi dan Inovasi

Menurut Santo, APEC sebagai forum kerja sama ekonomi yang melibatkan 21 entitas di lingkar Samudera Pasifik memiliki visi untuk menghasilkan kemajuan yang berkelanjutan. Setiap tahun, forum ini mengadakan pertemuan yang bertujuan memperkuat kerja sama antar anggota. “Setiap periode keketuaan APEC berusaha mengusung tema baru, tetapi juga mengembangkan capaian sebelumnya agar tidak berjalan terpisah,” kata Santo. Ia menambahkan bahwa China, dalam masa keketuaannya, berkomitmen pada isu-isu seperti keterbukaan, inovasi, kerja sama, dan konektivitas.

Keseimbangan Ekonomi: Tantangan bagi Negara Berkembang

Santo menekankan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia selalu berupaya menjaga keseimbangan antara liberalisasi ekonomi dan perlindungan sektor-sektor yang rentan. “Indonesia tidak ingin sepenuhnya membuka semua bidang ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan industri dalam negeri tetap terjaga,” ujarnya. Hal ini terlihat dalam strategi Indonesia yang menekankan perlindungan terhadap sektor pertanian dan manufaktur, sementara mendorong ekspansi dalam bidang teknologi dan perdagangan global.

Peran APEC dalam Pemulihan Ekonomi Pasca-Krisis

Sebagai forum multilateral yang didirikan pada 1989, APEC berperan penting dalam membantu anggotanya menghadapi tantangan ekonomi di era globalisasi. Dalam konteks ini, China memperkuat posisinya sebagai salah satu pendorong utama kerja sama ekonomi, terutama dalam menghadapi krisis yang terjadi di berbagai negara anggota. Santo menyatakan bahwa pertemuan Xi-Trump bukan hanya sekadar simbolis, tetapi juga menjadi penanda keinginan untuk memperkuat kemitraan antar negara-negara di Pasifik.

Kelompok Anggota APEC: Perbedaan Strategi dan Visi

APEC terdiri dari anggota seperti Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong-China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam. Meski memiliki tujuan sama, setiap negara anggota memiliki pendekatan yang berbeda tergantung pada kondisi ekonomi dan kepentingan domestik. “Indonesia berusaha menjadi jembatan antara pendekatan liberal dan proteksionis, agar semua anggota bisa saling menguntungkan,” kata Santo.

Menyambut Tantangan Global dengan Strategi Lokal

Dalam wawancara dengan ANTARA, Santo menyatakan bahwa APEC 2026 menjadi momentum penting bagi negara-negara anggota untuk menyesuaikan strategi dalam menghadapi perubahan ekonomi global. “Keterbukaan dan inovasi menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, tetapi kita juga harus waspada terhadap perubahan kebijakan perdagangan di tingkat internasional,” ungkap Santo. Ia menambahkan bahwa hasil pertemuan Xi-Trump berperan besar dalam memperkuat kepercayaan antar negara, terutama dalam menghadapi isu seperti perubahan iklim dan krisis energi.

Suasana Diskusi yang Lebih Harmonis

Santo menyebutkan bahwa pertemuan Xi-Trump memperbaiki suasana diskusi di APEC 2026, terutama dalam menangani isu-isu yang mengemuka. “Delegasi dari Tiongkok dan AS sangat antusias karena hasil pertemuan mereka sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan,” ujarnya. Dengan adanya kesepakatan bilateral ini, Santo berharap semua anggota APEC bisa menyelaraskan kepentingan nasional dengan tujuan kolektif untuk memperkuat ekonomi kawasan. “Indonesia juga mengapresiasi upaya China dalam menekankan koordinasi di tingkat global, termasuk dalam membangun ekosistem perdagangan yang lebih adil,” tambah Santo.

Perspektif Indonesia: Harmoni dalam Keterbukaan

Sebagai negara dengan kebijakan ekonomi yang dinamis, Indonesia tetap berusaha menjaga keadilan dalam proses perdagangan internasional. Santo menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil dalam APEC 2026 harus mencerminkan kepentingan semua anggota, termasuk negara berkembang. “Kita tidak ingin hanya menjadi pihak yang mengikuti, tetapi juga aktif berkontribusi dalam memperkuat kerja sama kawasan,” katanya. Ia menambahkan bahwa peran Indonesia dalam APEC tetap menjadi penting untuk menyeimbangkan antara kerja sama ek