Puskeshaj tekankan pentingnya pendampingan jamaah lansia disorientasi

d4ebccf5 827a 4b0a 861e aa3d1c545658 0

Puskeshaj Tekankan Pentingnya Pendampingan Jamaah Lansia Disorientasi

Puskeshaj tekankan pentingnya pendampingan jamaah lansia – Di Makkah, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskeshaj) RI, Dani Pramudy, menyoroti kebutuhan akan bantuan berkelanjutan bagi jamaah calon haji yang berusia tua dan mengalami gejala disorientasi. “Saat tiba di Tanah Suci, jamaah lansia tidak boleh dibiarkan sendirian. Ada pendamping yang harus selalu mengawasi dan memberi arahan agar mereka tidak kehilangan arah,” ujar Dani, Jumat lalu. Ia menekankan bahwa disorientasi sering muncul akibat berbagai faktor, termasuk kelelahan dari perjalanan panjang, perubahan cuaca ekstrem, serta kebiasaan baru di lingkungan yang tidak asing.

“Yang paling penting, jangan ditinggal sendirian. Harus ada yang mendampingi di sampingnya, mengingatkan dia sedang berada di mana dan siapa yang mendampingi,” ujar Dani di Makkah, Jumat.

Dani menyampaikan bahwa kondisi kebingungan ini bisa terjadi pada sejumlah jamaah, terutama yang berusia di atas 60 tahun. Kelompok ini dianggap lebih rentan mengalami gangguan orientasi karena usia yang semakin lanjut dan kondisi kesehatan yang mungkin lebih rentan. Ia menjelaskan bahwa proses pemulihan orientasi biasanya memakan waktu sekitar 24 hingga 48 jam, sehingga pendamping harus bersikap sabar dan konsisten selama periode tersebut.

Menurut Dani, untuk membantu pemulihan lebih cepat, tiga hal utama harus diperhatikan. Pertama, jamaah lansia perlu diberi istirahat yang cukup, termasuk waktu untuk tubuh beristirahat total setelah tiba di Makkah. Ini penting karena kelelahan sering memperparah gejala disorientasi. Kedua, asupan nutrisi harus terjaga dengan baik. Pola makan yang teratur membantu menjaga energi tubuh agar tidak terganggu. Ketiga, kebutuhan cairan harus dipenuhi secara optimal. Hidrasi yang cukup, seperti konsumsi air dalam jumlah yang cukup, dianggap sebagai langkah efektif untuk mempercepat pemulihan kesadaran spasial.

Kelompok Jamaah Rentan Disorientasi

Di samping itu, Dani menyebutkan bahwa kelompok jamaah lansia yang memiliki riwayat penurunan daya ingat serta penyakit penyerta seperti diabetes mellitus dan hipertensi, lebih rentan mengalami disorientasi. Ia menambahkan bahwa perubahan lingkungan, baik secara fisik maupun sosial, bisa memicu reaksi yang lebih kuat pada kelompok ini. Maka, dari awal proses pemondokan hingga hari-hari terakhir ibadah haji, pendamping harus memastikan jamaah tidak kehilangan keseimbangan mental dan fisik.

Puskeshaj menegaskan bahwa keberhasilan pendampingan sangat bergantung pada keterlibatan petugas kesehatan, serta kerja sama dari seluruh anggota rombongan. Dani mengimbau agar setiap jamaah lansia yang sedang dalam masa pemulihan orientasi tidak langsung terjun ke aktivitas berat. Sebaliknya, mereka disarankan melakukan adaptasi secara perlahan, mulai dari mengenali lingkungan pemondokan hingga berjalan ringan di sekitar tempat tinggal sebelum melangkah ke Masjidil Haram untuk melakukan umrah wajib.

Strategi Pemulihan yang Direkomendasikan

Strategi adaptasi tersebut bertujuan agar jamaah lansia tidak terburu-buru dalam menjalani rangkaian ibadah haji. Dani menjelaskan bahwa kebingungan bisa membuat mereka kehilangan fokus, bahkan menyebabkan risiko cedera atau kelelahan yang lebih parah. “Saat memasuki puncak ibadah haji di Arafah, jamaah harus benar-benar dalam kondisi yang sehat,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa peran pendamping tidak hanya sekadar menemani, tetapi juga menangani situasi darurat segera jika terjadi.

Menurut Dani, kelelahan dari perjalanan udara dan adaptasi dengan lingkungan baru adalah faktor utama yang memicu disorientasi. Ia menyarankan jamaah untuk menjaga konsistensi dalam aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan ringan yang tidak menguras tenaga. Selain itu, Dani mengingatkan bahwa pengaturan jadwal ibadah sebaiknya disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental jamaah, terutama yang sedang dalam proses pemulihan.

Puskeshaj juga berkomitmen untuk terus memantau kesehatan jamaah lansia secara intensif. Petugas kesehatan tidak hanya fokus pada penyakit fisik, tetapi juga memastikan bahwa mereka tidak mengalami gejala psikologis akibat perubahan rutinitas dan tekanan psikologis selama ibadah. Dani menekankan bahwa pendampingan berkelanjutan adalah kunci untuk mengurangi risiko penyimpangan atau kecelakaan pada jamaah usia lanjut.

Sebagai upaya preventif, Puskeshaj telah menyiapkan protokol khusus untuk kelompok jamaah lansia yang berisiko tinggi. Protokol ini mencakup pendekatan holistik, seperti penyesuaian aktivitas, pemberian makanan bergizi, dan pemantauan kelelahan secara berkala. Dani menambahkan bahwa keberhasilan pendampingan juga bergantung pada kesadaran pendamping dan jamaah itu sendiri untuk memahami tanda-tanda awal disorientasi.

Di sisi lain, Dani mengingatkan bahwa disorientasi bukanlah gejala yang selalu permanen. Dengan pendampingan yang tepat, kondisi ini bisa pulih dalam waktu yang relatif singkat. Ia menegaskan bahwa pemulihan orientasi harus dilakukan secara bertahap, agar jamaah tidak mengalami penurunan konsentrasi atau kebingungan berlebihan. “Selama masa pemulihan, kita harus memberikan dukungan emosional dan fisik yang stabil,” ujarnya.

Dengan kombinasi pendampingan, pemantauan intensif, serta adaptasi yang terencana, Dani berharap seluruh jamaah lansia bisa menjalani ibadah haji dengan nyaman dan aman. Ia menutup wawancara dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, baik pendamping maupun petugas kesehatan, atas peran mereka dalam memastikan keberhasilan ibadah besar ini.