Main Agenda: Bedah Buku Konservasi Berbasis Masyarakat Hiasi Invirotech Expo 2026
Bedah Buku Konservasi Berbasis Masyarakat Hiasi Invirotech Expo 2026
Main Agenda – Pada hari kedua acara Invirotech Expo 2026, Jakarta International Convention Center (JICC) menjadi panggung bagi penyelenggaraan sesi bedah buku yang diselenggarakan oleh Prospect Institute. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan buku berjudul Konservasi Berbasis Masyarakat: Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia kepada publik. Buku tersebut menggabungkan pengalaman langsung dari berbagai program konservasi di lapangan, serta perspektif baru mengenai keberlanjutan lingkungan dan peran masyarakat dalam upaya pelestarian ekosistem.
Pembelajaran Berbasis Pengalaman Lapangan
Buku yang diterbitkan oleh Prospect Institute ini menjadi bahan diskusi dalam rangkaian acara yang mengupas metode konservasi yang melibatkan masyarakat. Para peserta diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem, termasuk studi kasus nyata yang dihimpun dari berbagai wilayah di Indonesia. Diskusi ini juga menekankan pentingnya dokumentasi kegiatan sebagai sumber pengetahuan untuk pengembangan program di masa depan.
Pada sesi tersebut, hadir sebagai moderator Bakhtiar Fahmi Fuadi, Senior Environmental Consultant dari Prospect Institute. Diskusi diisi dengan wawasan dari penulis buku, Wahyu Purwanto, yang juga menjabat sebagai Operation Director Prospect Institute. Dalam wawancara, Wahyu menjelaskan bahwa buku ini merupakan hasil kolaborasi tim penulis yang menggabungkan data lapangan, studi terapan, dan perspektif dari berbagai disiplin ilmu.
“Konservasi adalah proses yang tidak berakhir. Ia memerlukan keberlanjutan dan peran aktif masyarakat dalam setiap tahap pelaksanaannya,” kata Wahyu Purwanto. Ia menambahkan, buku ini dirancang sebagai panduan bagi berbagai sektor untuk mengintegrasikan kegiatan konservasi ke dalam kehidupan sehari-hari.
Pengembangan Strategi Berbasis Kolaborasi
Berlangsungnya sesi bedah buku di JICC menjadi ajang pertukaran ide antara para pembicara dan audiens. Acara ini dihadiri oleh sejumlah ahli, termasuk Dosen Pengambangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rahadiyand Aditya, yang memberikan perspektif akademis mengenai implementasi konservasi bersama masyarakat. Dalam diskusi, ditekankan bahwa penelitian dan pengalaman langsung harus diolah menjadi strategi yang dapat diterapkan secara luas.
Para peserta dibawa ke ruang yang penuh dengan interaksi, di mana mereka mempelajari bagaimana inisiatif konservasi yang dijalankan oleh komunitas bisa menjadi acuan untuk program lingkungan di masa depan. Wahyu Purwanto menyoroti bahwa keterlibatan masyarakat tidak hanya meningkatkan keberhasilan program, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
“Konservasi berbasis masyarakat adalah solusi yang holistik. Ia menggabungkan pengetahuan lokal, kebutuhan komunitas, dan kepentingan lingkungan secara seimbang,” imbuh Wahyu. Ia juga menegaskan bahwa buku ini merupakan bentuk komitmen untuk mendorong kolaborasi lintas sektor, seperti pemerintah, lembaga swadaya, dan masyarakat.
Penguatan Implementasi dan Refleksi Lapangan
Di samping bedah buku, Prospect Institute menyelenggarakan sesi bertajuk From Field to Insight: Integrasi Program Development dan Facilitation yang Berdampak. Sesi ini memberikan wawasan tentang cara mengubah pengalaman langsung dari lapangan menjadi strategi yang lebih efektif dan berdampak jangka panjang. Peserta diajarkan teknik untuk mengelola data serta refleksi selama pelaksanaan program, sehingga bisa menciptakan pendekatan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Acara ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi tentang tantangan dan peluang dalam menjalankan proyek konservasi. Dalam sesi tersebut, diperkenalkan konsep bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil jangka pendek, tetapi juga dari kemampuan untuk terus berkembang dan beradaptasi. Dengan memperhatikan studi kasus di berbagai wilayah, para peserta bisa memahami bagaimana inisiatif lokal dapat diintegrasikan ke dalam skala nasional.
Wahyu Purwanto menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat bukan hanya sebagai bagian dari proses, tetapi sebagai faktor utama dalam menjaga keberlanjutan konservasi. “Pendekatan ini memastikan bahwa kegiatan lingkungan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga diakui dan didukung oleh masyarakat sekitar,” ujarnya. Dalam konteks ini, buku yang diterbitkan menjadi alat untuk memperkuat komunikasi antara pelaku konservasi dan komunitas yang terlibat.
Lebih lanjut, sesi ini juga membahas peran dokumentasi dalam mengukur dampak kegiatan konservasi. Menurut Wahyu, mengumpulkan data lapangan dan meninjau hasil implementasi menjadi langkah penting untuk mengevaluasi efektivitas program. “Dokumentasi ini tidak hanya memberikan informasi untuk masa depan, tetapi juga menjadi bukti bahwa upaya konservasi bisa berdampak nyata,” tambahnya.
Dengan berbagai sesi dan diskusi yang diadakan, Prospect Institute menegaskan bahwa konservasi berbasis masyarakat adalah jalan terbaik untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia. Selain itu, institusi ini berharap melalui buku ini, para pembaca bisa mendapatkan wawasan praktis yang dapat digunakan dalam perencanaan program yang lebih berkelanjutan. Kegiatan Invirotech Expo 2026 menjadi platform yang tepat untuk memperkenalkan buku tersebut kepada masyarakat yang lebih luas, serta mendorong kolaborasi antara berbagai pihak dalam menjaga lingkungan hidup. (E-4)
