Key Strategy: Indonesia dan Tiongkok Kembangkan Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia

1783579956_efc32b6594b561aa0ce1

Key Strategy: Indonesia dan Tiongkok Kembangkan Vaksin Dengue mRNA

Key Strategy menjadi fondasi utama dalam terobosan kedokteran dunia. Teknologi mRNA yang sebelumnya dikenal luas untuk melawan virus corona, kini berhasil dikembangkan untuk melawan penyakit demam berdarah dengue. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi riset antara Universitas Indonesia, Tsinghua University dari Tiongkok, serta PT Etana Biotechnologies Indonesia. Melalui Key Strategy yang tepat, vaksin inovatif tersebut memanfaatkan materi genetik berupa gen preM-E yang berasal dari strain virus dengue asli Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan apresiasi tinggi atas pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan pengembangan vaksin ini akan menempatkan Indonesia sebagai produsen vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah. Key Strategy yang diterapkan juga menjadikan produk ini sebagai antigen keenam yang mampu diproduksi secara mandiri dari hulu hingga hilir di dalam negeri.

“Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia,” ujar Menkes pada Kamis (9/7).

Key Strategy: Dari Pandemi Menuju Kemandirian Industri

Inisiatif percepatan pengembangan vaksin ini merupakan buah pembelajaran berharga dari pengalaman masa pandemi covid-19. Saat itu, Indonesia mengalami keterbatasan akses terhadap kebutuhan medis darurat seperti vaksin, alat terapeutik, dan diagnostik. Menyadari hal tersebut, pemerintah sejak periode 2020 hingga 2022 bertekad membangun fasilitas riset sendiri secara mandiri melalui Key Strategy yang terukur.

Transformasi yang terjadi cukup signifikan. Dari semula hanya memiliki satu perusahaan vaksin, kini Indonesia telah memiliki empat entitas, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio. Dari total 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini sebanyak 11 antigen sudah mampu diproduksi secara lokal. Lima di antaranya diproduksi secara mandiri dari hulu mulai dari riset, pembuatan bibit vaksin, hingga tahap manufaktur.

Sementara itu, enam antigen lainnya masih berada dalam proses perakitan atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India. Menkes menargetkan bahwa sebelum tahun 2030, seluruh antigen tersebut harus bisa diproduksi utuh dari hulu ke hilir. Key Strategy jangka panjang ini menjadi kunci kemandirian kesehatan nasional.

Key Strategy: Dengue Sebagai Prioritas Nasional

Pemilihan penyakit dengue sebagai salah satu prioritas pengembangan vaksin didasarkan pada tingginya angka kejadian kasus di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa setiap tahunnya terdapat sekitar 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian. Angka ini menempatkan dengue di antara penyakit dengan beban tinggi bersama tuberkulosis yang mencapai 1 juta kasus dengan 125 ribu kematian, HIV dengan 570 ribu kasus dan 25 ribu kematian, serta malaria dengan 520 ribu kasus dan 132 kematian.

“Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas,” jelas Budi.

Menkes juga mengajak seluruh ilmuwan dan peneliti tanah air untuk mewujudkan hasil riset menjadi produk nyata yang menyelamatkan nyawa, bukan hanya berhenti pada publikasi ilmiah semata. Key Strategy ini memastikan bahwa setiap penelitian memiliki dampak langsung bagi masyarakat Indonesia.

Key Strategy: Kolaborasi yang Bermula dari Komitmen Nyata

Kerja sama ini telah dirintis sejak tahun 2023. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengungkapkan bahwa dirinya saat masih berstatus profesor berhasil mempertemukan tim peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, yang merupakan salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

“Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting; kita tidak menandatangani MOU dulu baru bekerja, tapi justru mulai bekerja bersama secara sungguh-sungguh terlebih dahulu, baru MOU menyusul. Analisis kebutuhan, dukungan anggaran, dan komitmen kementerian, semuanya harus berjalan bersama,” ungkapnya.

Pencapaian ini tidak hanya menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing di kancah internasional dalam pengembangan teknologi kesehatan terkini. Dengan dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan dan Key Strategy yang konsisten, Indonesia optimis dapat mewujudkan visi kemandirian vaksin yang lebih kuat di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *