Gunung Semeru dua kali erupsi dengan tinggi letusan 700 meter

WhatsApp Image 2026 05 02 at 11.58.11

Gunung Semeru Mengalami Eksplorasi Dua Kali dengan Kolom Abu Mencapai 700 Meter

Gunung Semeru dua kali erupsi – Di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Gunung Semeru yang berada di perbatasan wilayah Lumajang dan Malang tercatat mengalami dua kali erupsi pada pagi hari Sabtu. Eksplorasi ini memicu peringatan untuk warga sekitar terkait potensi bahaya yang mungkin terjadi. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan bahwa setiap letusan menciptakan kolom abu yang teramati mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak gunung, atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Erupsi pertama terjadi pada pukul 06.56 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 mdpl,” kata Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang. Menurutnya, kolom abu yang teramati memiliki warna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal yang mengarah ke arah barat daya dan barat. Data seismograf menunjukkan bahwa letusan terekam dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 105 detik.

Dalam jangka waktu beberapa menit, yakni pada pukul 07.05 WIB, Gunung Semeru kembali meletus. Tinggi kolom abu teramati kembali mencapai sekitar 700 meter di atas puncak, yang setara dengan 4.376 mdpl. “Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya dan barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 103 detik,” imbuhnya.

Status Gunung Semeru: Level III (Siaga)

Sigit menjelaskan bahwa saat ini Gunung Semeru berada pada status Level III, yang berarti tingkat siaga. Berdasarkan rekomendasi dari petugas, masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, terutama di sepanjang alur sungai Besuk Kobokan. Wilayah ini berada dalam jarak 13 kilometer dari puncak gunung, yang menjadi pusat erupsi.

“Di luar jarak tersebut, warga diimbau tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak,” ujarnya. Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena rentan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Menurut Sigit, peningkatan aktivitas vulkanik ini memerlukan pengawasan ketat. Di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, potensi awan panas, guguran lava, dan lahar menjadi ancaman utama. “Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” jelasnya.

Persiapan dan Pengawasan Lokal

Pengamatan terhadap Gunung Semeru selama ini dilakukan secara terus-menerus oleh Pos Pengamatan, baik melalui data seismograf maupun pemeriksaan langsung terhadap gejala di sekitar area aktivitas. Sigit menekankan bahwa tingkat keparahan letusan dan ketinggian kolom abu yang mencapai 700 meter menjadi indikator bahwa peringatan Level III memang diperlukan.

“Kolom abu yang teramati menunjukkan peningkatan intensitas letusan, sehingga warga perlu lebih waspada,” katanya. Dalam konteks ini, area yang terkena dampak langsung dari letusan mencakup lembah Besuk Kobokan, yang terletak di sisi timur gunung. Bagi warga yang tinggal di dekat daerah tersebut, pemerintah setempat mengimbau untuk tetap berada di dalam zona aman dan mengikuti arahan dari petugas.

Menurut Sigit, bahaya yang mungkin terjadi selama erupsi antara lain awan panas, guguran lava, dan lahar. Awan panas, terutama yang bergerak ke arah barat daya dan barat, memiliki potensi untuk mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak. Selain itu, aliran lahar juga bisa mengancam area yang terletak di sepanjang sungai kecil, terutama di sekitar Besuk Kobokan.

Interaksi Aktivitas Vulkanik dengan Lingkungan

Di sisi lain, erupsi yang terjadi memicu perubahan pada lingkungan sekitar. Kolom abu yang terlempar ke udara selama dua kali letusan tersebut berdampak pada kualitas udara di wilayah Lumajang dan Malang. Pasca-erupsi, petugas mengambil langkah-langkah untuk memastikan masyarakat tidak terkena paparan abu yang berlebihan. Sigit menjelaskan bahwa aktivitas ini merupakan bagian dari siklus vulkanik Gunung Semeru, yang sering kali mengalami fluktuasi.

“Eksplorasi dua kali pada satu hari bisa menjadi indikasi bahwa Gunung Semeru sedang dalam fase aktif. Ini membutuhkan persiapan lebih matang dari pihak terkait,” kata Sigit. Dengan ketinggian letusan mencapai 700 meter, perluasan dampaknya dapat mencakup wilayah yang lebih luas, termasuk daerah perbukitan dan lembah di sekitar kawasan tersebut.

Persiapan darurat juga dilakukan di sekitar kawasan terdampak. Petugas melakukan pemantauan intensif terhadap suara letusan, getaran bumi, dan pergerakan material vulkanik. Selain itu, pemerintah setempat berupaya memastikan komunikasi yang efektif kepada warga, agar mereka bisa segera mengambil langkah evakuasi jika diperlukan.

Analisis Jangka Panjang

Sigit menambahkan bahwa erupsi dua kali dalam waktu singkat bisa menunjukkan adanya peningkatan tekanan di dalam kawah. “Aktivitas ini mungkin menjadi tanda bahwa Gunung Semeru sedang dalam proses mempersiapkan letusan yang lebih besar,” ujarnya. Dengan demikian, rekomendasi untuk warga tidak hanya terbatas pada zona radius lima kilometer, tetapi juga memperluas hingga area yang lebih luas.

“Di sisi lain, warga perlu mengenali tanda-tanda awal erupsi, seperti suara gemuruh, peningkatan asap, atau perubahan warna tanah. Ini menjadi pertimbangan utama dalam mengurangi risiko yang mungkin terjadi,” katanya. Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Semeru tercatat sering mengalami aktivitas vulkanik, termasuk letusan yang berdamp