New Policy: Desainer Indonesia Didorong Naik Kelas lewat Jejaring Global
Desainer Indonesia Didorong Naik Kelas lewat Jejaring Global
New Policy – JF3 Fashion Festival 2026 kembali memperkuat perannya sebagai platform strategis yang tidak hanya menampilkan karya mode, tetapi juga menjadi wadah untuk menghubungkan inovasi lokal dengan jaringan fesyen internasional. Acara tahun ini menampilkan lebih dari 50 desainer dan merek dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Eropa. Dengan tema “Recrafted: Shaping the Future”, festival ini bertujuan memfasilitasi pertumbuhan industri fesyen Indonesia melalui kolaborasi kreatif, pengembangan keterampilan, serta pemanfaatan peluang pasar yang lebih luas.
Ekosistem untuk Meningkatkan Potensi Lokal
Menurut Thresia Mareta, yang bertindak sebagai Advisor JF3 Fashion Festival 2026, Indonesia memang memiliki sumber daya kreatif yang melimpah, seperti kemampuan dalam pengerjaan tangan, bahan baku, pengetahuan tradisional, dan identitas budaya yang unik. Namun, menurutnya, kekayaan tersebut harus diubah menjadi kekuatan nyata. “Dari sumber daya yang ada, kita perlu membangun sistem yang memadai untuk mengolahnya secara maksimal dan menghubungkannya dengan pasar global,” jelas Thresia saat menghadiri media preview JF3 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (2/7).
“Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship, material, pengetahuan, dan identitas budaya yang sangat besar. Namun, semua itu tidak cukup jika hanya berhenti sebagai potensi. Ia perlu diolah, diarahkan, dan dihubungkan dengan sistem yang tepat,” ujar Thresia.
Menurut Thresia, JF3 menjadi ruang vital bagi para desainer untuk tidak hanya memperlihatkan karya mereka, tetapi juga bertukar pengalaman, memperluas jaringan bisnis, dan meningkatkan kapasitas profesional. Dengan adanya kolaborasi antar negara, ia percaya bahwa industri fesyen Indonesia bisa berkiprah lebih luas dalam ranah global.
Partisipasi Desainer Internasional Membuka Peluang Baru
Kehadiran desainer dari Prancis, Korea Selatan, Singapura, Laos, dan Filipina menjadi bagian dari strategi JF3 untuk memperkuat pertukaran ide antar budaya. Dengan melibatkan talenta dari berbagai wilayah, acara ini diharapkan bisa menciptakan sinergi yang saling menguntungkan, sekaligus membuka peluang kerja sama antar negara. “Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi kesempatan untuk menjalin hubungan yang berkelanjutan,” tambah Thresia.
Di sisi lain, Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival, menekankan bahwa pertumbuhan industri fesyen yang solid tidak bisa dicapai hanya dengan satu acara. Menurutnya, dibutuhkan ekosistem yang terpadu, mulai dari tahap kreatif hingga distribusi produk ke pasar global. “JF3 bertujuan menghubungkan proses inovasi dengan konsumen secara langsung, dari runway ke komunitas pembeli. Industri fashion yang tangguh tumbuh dari pola kerja bersinergi, bukan sekadar keberhasilan jangka pendek,” papar Soegianto.
Program Pengembangan Talent Desainer Lokal
Menyusul kesuksesan sebelumnya, JF3 2026 kembali menyajikan berbagai program pengembangan kreativitas, seperti Future Fashion Designer, PINTU, JF3 Model Search, Fashion Village, dan CODE.STRT. Program-program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi desainer, memperluas jaringan industri, serta memastikan mereka siap menghadapi tantangan pasar internasional. Soegianto menyebutkan, “Kami ingin menciptakan ruang belajar dan beradaptasi yang memberdayakan para desainer dari berbagai latar belakang.”
Dari dalam negeri, para desainer yang akan tampil antara lain Tities Sapoetra, Hartono Gan, AMOTSYAMSURIMUDA, Adrie Basuki, Sofie, Howard Laurent, RAEGITAZORO, dan LAKON Indonesia. Mereka masing-masing membawa ciri khas yang berbeda, tetapi sama-sama berkomitmen untuk memajukan industri fesyen nasional. Selain itu, JF3 juga memberikan kesempatan bagi desainer muda untuk menunjukkan karyanya melalui kompetisi seperti JF3 Model Search, yang menjadi wadah memilih talenta berbakat dari kalangan pemula.
Penyelenggaraan Festival dalam Masa Pandemi
Dengan adanya penyesuaian protokol kesehatan, JF3 2026 tetap mempertahankan kualitasnya sebagai acara yang inovatif. Puncak penyelenggaraan festival akan berlangsung pada 23 hingga 29 Juli, di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. Acara ini diharapkan menjadi titik balik bagi industri fesyen Indonesia, mengingat dampak pandemi yang masih terasa hingga kini.
Soegianto mengatakan, “JF3 menjadi solusi untuk memulihkan industri fashion dengan menawarkan jalan keluar yang lebih berkelanjutan. Keterlibatan desainer internasional memberikan perspektif baru, sementara program pengembangan talenta memastikan kesiapan generasi muda dalam meraih peluang di tingkat global.”
Kehadiran desainer dari luar negeri juga dianggap sebagai langkah strategis untuk menciptakan inovasi yang menggabungkan keunikan lokal dengan gaya modern. Dengan memperkenalkan merek dari Eropa dan Asia, JF3 bertujuan membangun kesadaran pasar global terhadap potensi Indonesia dalam dunia fesyen. Selain itu, festival ini juga berupaya memperkaya peran desainer nasional dalam memasuki ruang kompetitif yang lebih luas.
Peran JF3 dalam Membentuk Industri Fesyen yang Berkelanjutan
Menurut Soegianto, JF3 tidak hanya sebagai ajang presentasi, tetapi juga sebagai titik pertemuan yang mendorong terbentuknya ekosistem industri yang terpadu. “Dari desain hingga distribusi, semua tahap perlu didukung agar para desainer bisa berkembang secara maksimal,” imbuhnya. Dengan demikian, JF3 menjadi bukti bahwa industri fesyen Indonesia tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga bisa menjadi bagian dari tatanan global yang dinamis.
