New Policy: Petani Kendal Dibidik Masuk Rantai Pasok Ekspor

1783692449_18f55614daea63292aa4

Ekspansi Industri Makanan di Kendal: Petani Lokal Menuju Pasar Global

New Policy – Kehadiran fasilitas produksi terbaru milik PT Maxindo Karya Anugerah Tbk di kawasan industri Kendal, Jawa Tengah, telah menciptakan peluang signifikan bagi para petani setempat. Kebutuhan bahan baku singkong mencapai seratus ton setiap harinya, sebuah angka yang membuka jalan bagi pelaku usaha tani lokal untuk bergabung dalam jaringan distribusi industri makanan. Produk-produk yang dihasilkan perusahaan ini telah menjangkau pasar di empat puluh negara di seluruh dunia.

Sarkoro Handajani, selaku Presiden Direktur perusahaan, menjelaskan bahwa sebagian besar kebutuhan singkong kini dipenuhi oleh petani dari berbagai wilayah di Kabupaten Kendal. Daerah-daerah seperti Kaliwungu dan Boja menjadi sumber pasokan utama. Lebih dari sekadar pembeli hasil panen, perusahaan juga aktif mendorong peningkatan produktivitas melalui pendampingan budidaya dan penerapan varietas unggul. “Semangat kami bukan sekadar membeli hasil panen petani, tetapi membantu meningkatkan pendapatan mereka melalui produktivitas yang lebih baik,” ujar Sarkoro saat meresmikan fasilitas produksi di Kendal.

Kolaborasi Riset untuk Ketahanan Pangan

Untuk memperkuat ketersediaan bahan baku, perusahaan menjalin kerja sama strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Institut Pertanian Bogor. Fokus utama kolaborasi ini adalah pengembangan varietas ubi kayu dan ubi jalar yang memiliki produktivitas lebih tinggi serta ketahanan terhadap risiko gagal panen. Klaim perusahaan menyebutkan bahwa penggunaan bibit unggul mampu meningkatkan hasil panen hingga satu setengah hingga dua kali lipat dibandingkan varietas konvensional yang selama ini digunakan petani.

Sarkoro menambahkan bahwa perusahaan telah mengalokasikan investasi senilai miliaran rupiah untuk kegiatan riset dan pengembangan bibit. Program ini diharapkan dapat memberikan kepastian pasokan bagi industri sekaligus memperbesar pendapatan petani. Ratih Asmana Ningrum, Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, menyatakan bahwa kolaborasi yang telah berjalan sejak tahun 2021 telah menghasilkan sebelas varietas unggul ubi kayu yang resmi terdaftar. Selain itu, terdapat sepuluh calon galur ubi jalar hasil rekayasa seluler yang masih menjalani proses pengujian lapangan.

“Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, meningkatkan daya saing industri, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas Ratih.

Fasilitas Produksi Terbesar dengan Jangkauan Internasional

Pabrik di Kendal merupakan fasilitas produksi terbesar yang dimiliki PT Maxindo. Terletak di atas lahan seluas tiga puluh lima ribu meter persegi, fasilitas ini dilengkapi dengan lini produksi berbasis teknologi extrusion yang bertujuan meningkatkan kapasitas serta efisiensi proses manufaktur. Pemilihan lokasi yang berada sekitar dua kilometer dari pelabuhan ekspor juga dirancang untuk mempercepat distribusi produk ke pasar internasional.

Saat ini, produk perusahaan telah dipasarkan ke sekitar empat puluh negara di empat benua. Negara-negara tujuan ekspor meliputi Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, Belanda, Jerman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Kuwait. Sarkoro mencatat bahwa permintaan dari pasar Amerika Serikat, Australia, Eropa, dan Timur Tengah terus mengalami peningkatan. China juga kembali menjadi salah satu pasar ekspor utama perusahaan. Dengan tambahan kapasitas dari pabrik Kendal, perusahaan optimistis dapat memenuhi pertumbuhan permintaan tersebut.

Peningkatan produksi juga bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Selain melibatkan petani, perusahaan menargetkan sekitar sembilan puluh lima persen pekerja di pabrik berasal dari masyarakat sekitar. Saat ini, sekitar sembilan puluh persen tenaga kerja yang telah direkrut merupakan warga lokal.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, menekankan pentingnya investasi industri yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Manfaat tersebut dapat berupa kesempatan kerja, kemitraan usaha, maupun penyerapan bahan baku pertanian lokal. “Kami berharap masyarakat Kabupaten Kendal tidak hanya menjadi penonton bagi perusahaan-perusahaan yang berdiri di Kendal, tetapi ikut terlibat secara langsung,” kata Dyah.

Pemerintah Kabupaten Kendal juga mendorong perusahaan memperluas kerja sama dengan kelompok tani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Langkah ini diperlukan agar pertumbuhan kawasan industri tidak hanya meningkatkan aktivitas manufaktur, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. Ke depan, PT Maxindo dan BRIN berencana melanjutkan pengembangan varietas unggul, penyediaan benih bermutu, budidaya presisi, inovasi pengolahan, serta produk berbasis ubi dengan nilai tambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *