Latest Program: KKP: Ikan nila jadi andalan baru ekspor, tembus AS dan Eropa

WhatsApp Image 2026 05 18 at 08.34.17

KKP: Ikan Nila Jadi Andalan Baru Ekspor, Tembus AS dan Eropa

Latest Program – Dari Jakarta, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan bahwa ikan nila atau tilapia kini menjadi salah satu produk unggulan baru dalam ekspor perikanan Indonesia. Kenaikan permintaan di pasar global, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, menjadi faktor utama yang mendorong KKP untuk memperkuat pengembangan komoditas ini. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa program peningkatan produksi tilapia tengah dijalankan guna menjawab kebutuhan ekspor internasional. Ini meliputi pembangunan kawasan budi daya ikan nila salin (BINS) di Karawang serta revitalisasi tambak di Pantai Utara (Pantura), yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional.

Program Unggulan KKP

Menurut Trenggono, dua inisiatif tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan produksi tilapia sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional. Ia menekankan bahwa pengelolaan produksi harus berorientasi pada kualitas dan keberlanjutan, agar dapat bersaing di pasar global. “Program ini tidak hanya memperkuat supply chain, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan sepanjang siklus budidaya,” jelasnya dalam siaran resmi yang dilaporkan di Jakarta, Senin. Selain itu, KKP juga fokus pada pengembangan teknologi dan pengawasan ketat untuk memastikan kompetitivitas produk Indonesia di kancah internasional.

Pemasaran Tilapia yang Berkelanjutan

Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Erwin Dwiyana, menambahkan bahwa tilapia menjadi daya tarik utama bagi konsumen global karena sifatnya yang fleksibel dalam pemasakan. Ia mengatakan, ikan ini sering disebut sebagai “chicken of the sea” karena rasa yang lembut dan mudah diolah, sementara kandungan proteinnya mencapai 20 hingga 29 gram per 100 gram. “Ini menjadikannya pilihan utama untuk masyarakat yang mencari alternatif protein tinggi tanpa kelebihan lemak,” ujarnya.

“Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang nol penolakan,” kata Erwin.

Erwin menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tilapia tergantung pada kelengkapan sertifikasi seperti GMP-SSOP, HACCP, health certificate, serta sertifikasi ISO 22000, SQF, BAP, ASC, dan BRC. “Sertifikasi ini memberikan jaminan kualitas dan keamanan, sehingga membangun kepercayaan pasar internasional,” tambahnya. Dengan memenuhi standar tersebut, produk tilapia Indonesia mampu diterima di berbagai negara tanpa adanya penolakan atau keluhan.

Penetrasi Pasar Internasional

Dalam upaya memperluas pasar, beberapa perusahaan lokal telah sukses menembus wilayah ekonomi global. Salah satu produsen utama tilapia, Regal Springs Indonesia, kini menjadi pemasok bagi jaringan pub terkemuka di Inggris, yaitu Greene King. Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra, mengatakan bahwa penetrasi pasar Inggris tidak terlepas dari penerapan sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC). “ASC mendorong perubahan besar dalam budidaya perikanan,” katanya.

“Dengan adanya ASC, budi daya perikanan dituntut bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi, mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan,” ujarnya.

Transformasi tersebut memastikan tilapia Indonesia tidak hanya memiliki kualitas superior, tetapi juga ramah lingkungan. Saputra menjelaskan bahwa keberlanjutan budidaya menjadi prioritas utama, terutama untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin ketat. “Kami berupaya mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem sekaligus meningkatkan produktivitas,” lanjutnya. Hasilnya, tilapia Indonesia mampu menarik minat produsen makanan di Inggris, yang memanfaatkan ikan ini untuk berbagai menu, mulai dari hidangan tradisional hingga gourmet.

Proses Pengolahan dan Kebutuhan Konsumen

Pasaran Inggris kini menjadi contoh nyata bahwa tilapia tidak hanya diminati secara kuantitas, tetapi juga kualitasnya. Di sana, ikan ini diolah menjadi berbagai varian, seperti fish and chips dan hidangan tanpa tulang untuk segmen fine dining. Saputra menyoroti bahwa tingkat keluhan konsumen tergolong rendah, seiring konsistensi kualitas dan keamanan produk. “Konsumen di sana mengapresiasi kelembutan rasa dan kebersihan bahan baku,” katanya.

Dari sisi harga, tilapia dinilai kompetitif dibandingkan ikan putih lainnya, seperti kod dan trout. Hal ini memungkinkan tilapia Indonesia bersaing dengan produk yang sudah mapan secara global. Saputra menjelaskan bahwa harga yang terjangkau tetapi tetap memenuhi standar kualitas menjadi kunci utama. “Kami menawarkan nilai ekonomi tinggi tanpa mengorbankan kualitas,” ujarnya. Selain itu, keberlanjutan dalam produksi juga meningkatkan daya tarik bagi pelaku bisnis internasional yang semakin peduli pada lingkungan.

Kebutuhan Global dan Potensi Masa Depan

Permintaan global terhadap tilapia terus meningkat, baik di pasar ekonomi maju maupun negara berkembang. KKP memperkirakan bahwa pertumbuhan ini akan terus berlanjut selama beberapa tahun ke depan, terutama seiring perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih memilih protein laut sebagai alternatif sehat. Erwin Dwiyana menyoroti bahwa keberhasilan ini bukan hanya hasil dari sertifikasi, tetapi juga keterlibatan aktif produsen dalam inovasi dan pemasaran. “Kami berupaya menjadikan tilapia sebagai ikon ekspor perikanan Indonesia, baik secara ekonomi maupun lingkungan,” tambahnya.

Menurut Trenggono, KKP terus bergerak untuk memperluas pasar ekspor, termasuk ke negara-negara lain seperti Jepang dan Tiongkok. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tilapia akan menjadi pendorong utama untuk meningkatkan nilai tambah sektor perikanan. “Ini adalah langkah strategis untuk menjaga keterjangkauan dan daya saing,” ujarnya. Peningkatan ekspor juga diharapkan mampu memberikan dampak positif pada pendapatan petani dan masyarakat pesisir, yang sebagian besar bergantung pada sektor perikanan.

Upaya Memastikan Keberlanjutan

Di samping kualitas produk, keberlanjutan budidaya tilapia menjadi fokus utama. Trenggono menjelaskan bahwa KKP mendorong penggunaan teknologi modern dan prinsip ekologis dalam pengelolaan tambak serta kebun budidaya. “Kami ingin menjadikan tilapia sebagai bagian dari pertanian maritim yang ramah lingkungan,” katanya. Erwin menambahkan bahwa keberlanjutan ini tidak hanya menguntungkan ekosistem, tetapi juga menjaga ketersediaan sumber daya untuk generasi mendatang.

Dengan adanya program pengembangan BINS dan revitalisasi tambak, KKP optimis bahwa kapasitas produksi tilapia akan meningkat secara signifikan. Ini diharapkan mampu memenuhi permintaan yang terus tumbuh, baik dari pasar Asia maupun Eropa. Peningkatan tersebut juga akan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat citra