Key Strategy: Kepercayaan Investor Negeri Sakura Naik Terus, Investasi Jepang Tumbuh 13,2 Persen
Kepercayaan Investor Negeri Sakura Naik Terus, Investasi Jepang Tumbuh 13,2 Persen
Key Strategy – Menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yang merupakan bagian dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi, tercatat bahwa realisasi investasi dari Jepang di Indonesia selama periode 2021–2025 mencatatkan pertumbuhan rata-rata 13,2 persen. Total akumulasi investasi tersebut mencapai 17,1 miliar dolar AS, dengan kemampuan untuk menyerap sebanyak 278.887 tenaga kerja. Sampai saat ini, Jepang masih berada pada peringkat kelima sebagai investor terbesar di Indonesia.
Kritik Terhadap MoU yang Tidak Berhasil
Dalam sebuah wawancara di Jakarta pada Rabu (10/6), pengamat investasi dan hubungan internasional Zenzia Sianica Ihza menanggapi kritik yang disampaikan oleh seorang pengusaha Jepang, Yutaka Tokunaga, tentang fenomena penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang sering kali tidak diikuti dengan realisasi proyek nyata. Menurut Zenzia, kritik tersebut tidak sepenuhnya tepat karena data memberikan gambaran yang lebih jelas.
“Kritik yang disampaikan pengusaha Jepang Yutaka Tokunaga tentang banyaknya MoU yang tidak terealisasi menjadi proyek, tidak sepenuhnya benar. Data bicara lebih jelas. Investasi Jepang tetap tumbuh positif dan menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Jadi, hal itu tidak bisa dijadikan gambaran menyeluruh mengenai iklim investasi di Tanah Air,” ujar Zenzia.
Zenzia menekankan bahwa MoU dalam praktik bisnis internasional lebih dulu berfungsi sebagai instrumen penjajakan awal, bukan sebagai bentuk komitmen akhir. Dalam tulisannya yang dipublikasikan 1 Juni 2026, Yutaka Tokunaga menyoroti kecenderungan penandatanganan MoU yang mendapat perhatian besar, tetapi perkembangan proyek setelahnya sering kali tidak terdengar. Hal ini menunjukkan bahwa meski MoU menjadi langkah awal, jumlahnya bukanlah penunjuk mutlak keberhasilan.
Investasi Jepang: Tren Positif yang Membuktikan Kepercayaan
Dalam konteks kepercayaan investor, Zenzia menegaskan bahwa realisasi investasi Jepang di Indonesia menunjukkan tren positif. Menurutnya, jika investor tidak percaya, mereka tidak akan terus menambahkan dana investasi setiap tahun. “Jika investor Jepang tidak yakin dengan Indonesia, mereka tidak akan memperluas basis produksi di sini. Karena itu, peningkatan investasi tahunan menunjukkan kepercayaan yang terus bertumbuh,” tambah Zenzia.
“Untuk Indonesia-Jepang, data justru menunjukkan peningkatan yang signifikan. Perusahaan Jepang tidak hanya bertahan, tetapi juga terus menambahkan modal. Mereka menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur regional, bukan hanya sebagai mitra MoU,” ujarnya.
Zenzia menambahkan bahwa MoU yang ditandatangani merupakan bagian dari proses negosiasi, tetapi tidak selalu menjadi indikator utama. “Di seluruh dunia, MoU adalah langkah awal untuk menjajaki peluang kerja sama. Banyak proyek yang berhenti pada tahap studi kelayakan karena pertimbangan bisnis, perubahan pasar, atau evaluasi risiko. Ini bukan akhir dari hubungan ekonomi, tetapi proses alami dalam pengembangan kerja sama,” jelas Zenzia.
Analisis tentang Keterlibatan Investor Jepang di Indonesia
Zenzia juga menyatakan bahwa kepercayaan investor Jepang terhadap Indonesia terbukti melalui tindakan nyata mereka. “Kemampuan investor Jepang menanamkan modal terus meningkat, bahkan di tengah tantangan yang ada. Ini membuktikan bahwa mereka melihat potensi dalam ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Menurut data BKPM, nilai investasi Jepang di Indonesia selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut: 2021 sebesar 2,6 miliar dolar AS, 2022 mencapai 3,5 miliar dolar AS, 2023 mencapai 4,6 miliar dolar AS, 2024 sebesar 4,1 miliar dolar AS, dan 2025 sebesar 2,3 miliar dolar AS. Dengan total 17,1 miliar dolar AS, angka ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Jepang-Indonesia terus berkembang meski ada hambatan.
Dalam perjalanannya, Zenzia mengungkapkan bahwa Jepang tetap menempatkan Indonesia sebagai salah satu destinasi utama investasi di kawasan Asia Tenggara. “Kebijakan pemerintah yang konsisten dan proses yang jelas membuat investor Jepang tetap menaruh kepercayaan,” katanya.
Tantangan yang Tetap Ada
Meski kepercayaan investor Jepang meningkat, Zenzia mengakui bahwa beberapa tantangan masih menjadi keluhan mereka. Di antaranya, proses birokrasi yang rumit, perbedaan regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, hambatan dalam pengadaan lahan, serta perubahan kebijakan teknis yang terkadang mengganggu proyek.
“Investor Jepang dikenal sangat memperhatikan detail perencanaan, kepastian hukum, serta konsistensi kebijakan. Mereka biasanya tidak mengeluhkan proses yang memakan waktu, selama arahnya jelas dan dapat diprediksi,” kata Zenzia.
Zenzia menambahkan bahwa karakteristik investor Jepang, yang mengutamakan kepastian, membuat isu seperti birokrasi berlapis atau ketidakharmonisan regulasi menjadi fokus utama. “Proses pengambilan keputusan yang transparan dan konsisten sangat penting untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Jika ada ketidakjelasan, mereka bisa mengurangi komitmen,” ujarnya.
Saran untuk Pemerintah Indonesia
Dalam rangka meningkatkan daya saing investasi nasional, Zenzia menyarankan beberapa langkah. Pertama, pemerintah perlu memperkuat pengawasan pasca-MoU untuk memastikan setiap proyek memiliki target yang jelas. Kedua, harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar investor tidak menghadapi hambatan yang tidak konsisten. Ketiga, transparansi dalam pengambilan keputusan adalah kunci untuk membangun kemitraan yang lebih baik.
“Pemerintah harus mengevaluasi berbagai masukan dari pelaku usaha Jepang. Dengan begitu, kebijakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan investor, sehingga lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Zenzia juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan kesinambungan kebijakan teknis dalam pengembangan proyek. “Investor Jepang memprioritaskan kepastian, jadi setiap perubahan yang terjadi selama implementasi proyek harus diantisipasi dengan baik. Dengan memenuhi aspek ini, kepercayaan mereka akan terus meningkat,” pungkas Zenzia.
