Pameran “URSYALIM” angkat potret kehidupan Palestina di Yerusalem
Visit Agenda – Di Jakarta, ANTARA Heritage Centre (AHC) menjadi tempat penyelenggaraan pameran dan peluncuran buku fotografi bertajuk “URSYALIM” pada Jumat (22/5). Acara ini menampilkan karya-karya pewarta foto ANTARA, Muhammad Adimaja, yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat Palestina di Yerusalem melalui perspektif jurnalistik dan perhatian terhadap manusia. Pameran ini juga dimaksudkan untuk memperluas pemahaman masyarakat Indonesia terhadap realitas Palestina, serta membangun kesadaran internasional terhadap isu-isu yang terjadi di kota suci tersebut.
Perjalanan kamera dalam menggambarkan kehidupan Palestina
Pameran ini menghadirkan serangkaian foto yang mencerminkan keberagaman kehidupan warga Palestina di Yerusalem, baik dalam konteks sehari-hari maupun peristiwa yang menciptakan dampak besar. Muhammad Adimaja, seorang fotowartawan berpengalaman, menjelaskan bahwa setiap lensa kameranya bertujuan untuk menyampaikan kisah-kisah yang terkadang terabaikan oleh media massa. “Saya ingin menunjukkan bahwa di balik semua ketegangan politik, ada kehidupan yang penuh makna dan keberagaman,” ujarnya dalam wawancara sebelum acara dimulai.
“Fotografi adalah alat yang kuat untuk menyampaikan pesan tanpa kata. Setiap gambar yang saya ambil berusaha menggambarkan emosi, harapan, dan tantangan yang dihadapi warga Palestina di Yerusalem,” tutur Muhammad Adimaja.
Dalam karya-karyanya, Adimaja memadukan elemen dokumentasi dengan estetika visual yang menarik. Ia menggambarkan rutinitas seorang ibu yang menjual makanan di pasar, anak-anak yang bermain di lingkungan yang sering terkena pengaruh politik, serta seniman yang mencoba membangun identitas budaya di tengah kondisi sosial yang sulit. Buku fotografi ini dibuat sebagai kompilasi dari serangkaian dokumentasi selama beberapa bulan, yang mencakup kunjungan ke berbagai wilayah di Yerusalem, termasuk daerah yang selama ini menjadi pusat perdebatan politik.
Menyampaikan fakta sosial melalui media visual
Acara ini bukan hanya sekadar pameran, tetapi juga menjadi sarana komunikasi antara masyarakat Indonesia dengan dunia internasional. Dengan memperkenalkan berbagai aspek kehidupan Palestina, pameran ini berharap mampu menjawab stereotip yang sering muncul dalam narasi media. “Saya ingin membuka mata orang-orang bahwa kehidupan di Yerusalem tidak hanya tentang konflik, tetapi juga tentang kebiasaan, kepercayaan, dan keinginan untuk hidup dengan damai,” tambah Adimaja.
Pameran ini juga melibatkan kolaborasi dari beberapa fotowartawan ANTARA, seperti Ryan Rahman, Irfan Hardiansah, Soni Namura, dan I Gusti Agung Ayu N, yang turut memberikan kontribusi dalam memperkaya perspektif yang disampaikan. Mereka berbagi pengalaman selama mengambil gambar di Yerusalem, tempat yang memiliki makna kultural dan religius penting bagi umat Muslim, Yahudi, dan Kristian. Sejumlah foto menyoroti kehidupan di kawasan Tepi Barat, sementara yang lain menyoroti perayaan hari raya atau kegiatan keagamaan yang masih berlangsung di tengah keterbatasan.
Konteks geopolitik dan kemanusiaan
Yerusalem, sebagai kota yang menjadi objek perdebatan antara Israel dan Palestina, seringkali dilihat melalui lensa konflik. Namun, pameran ini mencoba menunjukkan bahwa di sana juga ada cerita-cerita kecil yang tidak terdengar. Muhammad Adimaja menjelaskan bahwa ia berusaha menangkap perasaan masyarakat Palestina, termasuk kecemasan, kegembiraan, dan harapan mereka. “Fotografi yang saya ambil bukan hanya tentang keadaan, tetapi juga tentang bagaimana mereka berusaha menghadapi tantangan sehari-hari,” katanya.
Buku fotografi ini terdiri dari 120 lembar foto yang diambil dari berbagai sudut pandang. Beberapa gambar menampilkan keseharian warga di kota yang dianggap sebagai pusat politik dan agama, sementara lainnya menyoroti kehidupan yang lebih damai, seperti upacara pernikahan atau acara budaya. Adimaja mengatakan bahwa ia menekankan aspek kemanusiaan dalam setiap karya, agar pembaca dapat merasakan empati terhadap pengalaman hidup warga Palestina. “Saya ingin mereka melihat kehidupan yang sebenarnya, bukan hanya kekerasan atau penderitaan,” ujarnya.
Peran media dalam memperkaya narasi Palestina
Pameran ini diharapkan menjadi sarana pengingat bagi masyarakat Indonesia bahwa kehidupan Palestina tidak hanya diukur melalui konflik, tetapi juga melalui keseharian yang penuh warna. Ia mengatakan bahwa melalui karya-karyanya, pembaca dapat memahami bagaimana masyarakat Palestina berusaha mempertahankan identitas budaya mereka di tengah tekanan politik dan ekonomi. “Media massa seringkali terjebak dalam berita yang kaku, tetapi fotografi bisa memberikan gambaran yang lebih hidup,” tambahnya.
Dalam rangkaian acara, peserta pameran juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan penonton, menjelaskan konteks setiap foto, dan memperdalam pemahaman tentang kehidupan Palestina. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pemuda dan pelajar yang tertarik mengenal lebih dekat budaya dan kondisi sosial di Yerusalem. “Saya harap karya ini bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk melihat Palestina dari perspekt
