Main Agenda: Kementan dan Bapanas perkuat penyerapan telur peternak di Magetan

d4cdd3cb 44d6 4b10 8de6 c57eb35c2255 0

Kementan dan Bapanas Perkuat Penyerapan Telur Peternak di Magetan

Main Agenda – Magetan – Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta Pemerintah Kabupaten Magetan mengambil langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan telur ayam ras. Tujuan utamanya adalah memastikan kelangsungan usaha para peternak rakyat, terutama di tengah tingginya produksi telur yang menyebabkan surplus. Dalam wawancara di Jakarta, Sabtu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan dari Kementan, Makmun, mengungkapkan bahwa upaya ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pangan di masyarakat.

Langkah Kolaboratif Kementan dan Pemda Magetan

Upaya penyerapan telur tersebut dipertegas dalam rapat koordinasi hybrid yang diadakan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan. Kementan, Bapanas, asosiasi perunggasan, peternak, serta pelaku usaha lainnya terlibat aktif dalam diskusi. Pemerintah daerah berupaya mengelola kondisi surplus produksi telur secara efisien agar tidak merugikan peternak. Makmun menegaskan bahwa keberlanjutan usaha peternak rakyat harus diprioritaskan, sekaligus memastikan pasokan pangan tetap stabil.

“Fokus utamanya adalah memastikan kelangsungan usaha para peternak rakyat dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara terus menerus,” ujar Makmun.

Pelaksanaan rapat ini menjadi platform untuk mengkoordinasikan strategi antara pihak nasional dan daerah. Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan bahwa pengelolaan surplus produksi telur perlu dilakukan dengan cepat dan terukur. Pemerintah menilai bahwa kondisi ini bisa mengganggu harga jual di tingkat peternak jika tidak dikelola secara tepat. Makmun menjelaskan bahwa upaya penyerapan, distribusi, dan peningkatan konsumsi harus dipercepat untuk menjaga keseimbangan di subsektor perunggasan nasional.

Kementan menekankan pentingnya koordinasi dengan lembaga terkait, kementerian, dan pemerintah daerah. Makmun menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat komunikasi dengan semua pihak untuk memastikan pasokan bahan baku pakan tetap stabil. “Koordinasi ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan harga dan pasokan,” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga fokus pada hilirisasi dan perluasan pasar hasil peternakan agar produksi peternak dapat terserap secara optimal.

Program Penyerapan Telur dan Langkah Penguatan Produksi

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Magetan telah mengambil langkah konkret untuk memfasilitasi penyerapan telur. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan, Nur Haryani, menyatakan bahwa pemerintah daerah sedang menyiapkan berbagai inisiatif. “Salah satu upaya yang kami lakukan adalah mengajak pegawai negeri sipil (ASN) untuk aktif membeli telur secara rutin. Ini akan meningkatkan permintaan di tingkat lokal,” katanya.

“Pemerintah daerah akan memfasilitasi penyerapan telur melalui gerakan pembelian oleh ASN serta kampanye konsumsi telur kepada masyarakat. Ini menjadi langkah awal yang bisa segera dilakukan untuk membantu peternak,” ujarnya.

Pemda Magetan juga memperkuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya penyerapan telur. Nur Haryani mengatakan bahwa frekuensi distribusi telur melalui program ini akan ditingkatkan dari satu kali menjadi tiga kali seminggu. “Dengan frekuensi yang lebih sering, kami harap produksi telur peternak dapat lebih banyak terserap,” tambahnya. Selain itu, berbagai kegiatan seperti posyandu, pemberian makanan tambahan (PMT), dan program pencegahan stunting juga diintegrasikan untuk meningkatkan konsumsi telur di kalangan masyarakat.

Makmun menyoroti peran pemerintah daerah dalam menjaga harga jual telur sesuai dengan harga acuan pembelian/penjualan (HAP). Ia menekankan bahwa pemerintah perlu memiliki pihak yang memimpin untuk memastikan harga telur tidak anjlok di bawah HAP. “Dengan harga yang stabil, para peternak akan tetap mendapatkan keuntungan dan bersemangat untuk meningkatkan produksi,” imbuhnya.

Kementan menilai bahwa langkah-langkah ini akan membantu memperkuat ketahanan pangan nasional. Nur Haryani menyampaikan bahwa selain program MBG, bantuan sosial dan berbagai inisiatif pemenuhan gizi juga menjadi alat untuk menjaga harga di tingkat peternak. “Program konsumsi telur ini dirancang agar manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya. Pemda Magetan juga terus mengoptimalkan distribusi telur ke berbagai wilayah, sehingga permintaan tetap seimbang.

Langkah lain yang diambil adalah distribusi bantuan jagung subsidi melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Bantuan ini mulai disalurkan pada Sabtu (9/5), yang diharapkan dapat meringankan beban biaya pakan para peternak. Makmun menyebutkan bahwa pengurangan biaya produksi adalah salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternak. “Jagung subsidi membantu mengatasi kenaikan harga bahan baku pakan, sehingga peternak tetap bisa berproduksi secara optimal,” ujarnya.

Menurut Nur Haryani, keberhasilan penyerapan telur juga bergantung pada partisipasi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kampanye konsumsi telur perlu didorong melalui edukasi dan promosi. “Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat telur, permintaan akan terus tumbuh,” katanya. Pemerintah daerah juga terus memperkuat kerja sama dengan pelaku usaha untuk menciptakan pasar yang lebih luas bagi produk peternak rakyat.

Kemitraan dan Penguatan Pasar Nasional

Dalam menghadapi tantangan pasar yang dinamis, pemerintah menegaskan bahwa kemitraan antara lembaga pemerintah, asosiasi perunggasan, dan pelaku usaha adalah kunci. Makmun menambahkan bahwa penyerapan telur harus disertai dengan peningkatan konsumsi protein hewani secara bersamaan. “Kemitraan ini membantu menciptakan rantai pasokan yang lebih efisien,” ujarnya.

Kementan dan Bapanas berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Nur Haryani menyatakan bahwa pemerintah daerah aktif mengawasi harga jual telur, terutama untuk mencegah penurunan drastis di bawah HAP. “Kami mengupayakan agar harga telur selalu berada dalam rentang yang sehat, sehingga peternak tidak merasa terpojok,” tambahnya.

Dalam konteks nasional, pemerintah optimis bahwa upaya penyerapan telur yang intensif, penguatan distribusi antar daerah, dan pengendalian biaya