Important Visit: Uli dorong anggota Persit jadi penggerak ekonomi rakyat
Uli Dorong Anggota Persit Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat
Komitmen Membangun Ekonomi Melalui Kreativitas
Important Visit – Dalam perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-80 Persatuan Istri Tentara (Persit) Kartika Chandra Kirana (KCK), Jakarta menjadi panggung utama untuk menampilkan inisiatif yang diusung oleh Uli Simanjuntak, Ketua Umum Persit. Ia menekankan peran penting anggotanya yang menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari tema “Persit Bisa”, yang dianggap sebagai kesempatan bagi para wanita tentara untuk memperlihatkan potensi kreatif dan keahlian mereka.
Kunjungan Uli ke pameran hasil karya UMKM dari anggota Persit terjadi di Expo Balai Kartini, Jakarta, pada Kamis (7/5). Di sana, ia melihat berbagai produk yang dihasilkan oleh para ibu-ibu yang aktif di bidang bisnis. Produk-produk tersebut tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menggambarkan kekayaan budaya Indonesia yang terus dijaga melalui inovasi lokal. Dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Jumat, disebutkan bahwa beberapa barang yang dipamerkan termasuk kain songket, kain batik, serta berbagai aksesori fesyen yang diproduksi secara mandiri oleh anggota Persit.
Menurut Uli, hasil karya para anggotanya menunjukkan kualitas tinggi dan daya tarik yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa produk-produk tersebut sangat kental dengan nilai-nilai budaya Indonesia, sehingga layak dikembangkan secara lebih luas. “Saya banyak menemukan yang sungguh cantik, dan ketika saya mempelajari cerita dibalik karya tersebut, semakin lah saya berusaha untuk menemukan jati diri sebagai pencipta budaya Indonesia,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
“Saya banyak menemukan yang sungguh cantik, dan ketika saya mempelajari cerita dibalik karya tersebut, semakin lah saya berusaha untuk menemukan jati diri sebagai pencipta budaya Indonesia.”
Uli juga menyoroti bagaimana kehadiran anggota Persit dalam acara ini tidak hanya sekadar menampilkan karya, tetapi juga menjadi wadah untuk berinteraksi dengan sesama pelaku UMKM. Dalam pameran tersebut, para ibu-ibu ini diberi ruang untuk berbagi pengalaman, berkolaborasi, dan saling menginspirasi. “Ini bukan hanya pameran budaya nusantara tetapi merupakan peluang berkembang bagi para ibu persit untuk semakin maju bisa menghadirkan Pagelaran Seni yang meramu berbagai budaya Indonesia,” imbuhnya.
Menurut Uli, tema “Persit Bisa” kali ini menggambarkan bagaimana perempuan yang tergabung dalam organisasi ini mampu menjadi penggerak ekonomi. Ia menyebut bahwa acara ini juga membuka peluang untuk membangun jaringan bisnis yang lebih luas. Dengan adanya pertemuan antar pelaku UMKM, Uli berharap dapat mendorong tumbuhnya kemitraan yang saling menguntungkan. “Ajang ini bukan hanya sekedar perayaan HUT saja melainkan menjadi kesempatan para pelaku UMKM untuk saling bertemu, bertukar pikiran ataupun berkolaborasi,” lanjutnya.
Dalam rangkaian acara HUT Persit, Uli menekankan pentingnya menggali potensi ekonomi yang ada di tengah masyarakat. Ia menilai bahwa para anggota Persit tidak hanya mampu menjadi pembawa budaya, tetapi juga pelaku bisnis yang mampu memberikan kontribusi nyata. “UMKM yang dijalankan oleh anggota Persit adalah bagian dari upaya menggerakkan ekonomi rakyat secara langsung,” jelasnya.
Dukungan Uli ini tidak hanya terfokus pada keberhasilan produk yang dipamerkan, tetapi juga pada keberlanjutan usaha mereka. Ia berharap para anggota Persit terus berkembang, tidak hanya dalam aspek kreativitas tetapi juga dalam manajemen bisnis. “Dengan adanya pelatihan dan pengembangan keterampilan, para pelaku UMKM dari kalangan Persit bisa semakin memperluas pasar dan menjangkau konsumen yang lebih luas,” tambahnya.
Pameran Budaya Sebagai Cermin Kehidupan Masyarakat
Kain songket dan batik yang dipamerkan oleh anggota Persit menjadi contoh nyata bagaimana seni lokal bisa diintegrasikan ke dalam bisnis modern. Uli menyebut bahwa produk-produk tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu menjual identitas budaya yang unik. “Kedua produk ini adalah simbol dari keberagaman budaya Indonesia yang tetap hidup dalam era globalisasi,” katanya.
Dalam konteks ekonomi, Uli menyoroti bagaimana pengembangan UMKM oleh anggota Persit bisa menjadi solusi bagi masalah pengangguran dan ketergantungan pada pasar ekspor. Ia menegaskan bahwa para ibu-ibu ini mampu membangun usaha yang berkelanjutan dan menghasilkan nilai tambah. “UMKM dari Persit bisa menjadi contoh bagi masyarakat umum, karena mereka tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga membangun nilai-nilai ekonomi yang kuat,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Uli mengakui kontribusi para pelaku UMKM yang aktif dalam acara tersebut. Ia menilai bahwa keikutsertaan mereka menunjukkan semangat kolaborasi yang tinggi. “Saya sangat menghargai inisiatif ini, karena menunjukkan komitmen untuk mengembangkan ekonomi rakyat melalui keahlian dan keterampilan yang dimiliki,” kata Uli.
Kolaborasi sebagai Kunci Kesuksesan
Kegiatan pameran ini dirancang sebagai ajang pertemuan antar pelaku UMKM dari berbagai daerah. Uli menilai bahwa pertemuan seperti ini sangat penting untuk membangun hubungan jaringan yang kuat. “Kolaborasi antar pelaku UMKM bisa membuka peluang baru, seperti pengembangan produk yang lebih inovatif atau pemasaran yang lebih efektif,” jelasnya.
Dalam pandangan Uli, Pertemuan HUT Persit kali ini menjadi momentum untuk menggali potensi ekonomi yang ada di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa usaha mikro dari anggota Persit tidak hanya berdampak pada keluarga, tetapi juga pada komunitas sekitar. “Dengan menyebarluaskan hasil karya mereka, para pelaku UMKM ini bisa
