Main Agenda: Kemendikdasmen paparkan peta jalan pelatihan Bahasa Inggris guru SD

b9b1b817 0db2 4089 9d36 cee7790ccc05 0

Kemendikdasmen Paparkan Peta Jalan Pelatihan Bahasa Inggris untuk Guru SD

Main Agenda – Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mengungkapkan rencana pelatihan Bahasa Inggris yang akan dijalankan selama lima tahun, mulai dari 2025 hingga 2029. Tujuan utamanya adalah memastikan seluruh sekolah dasar (SD) memiliki tenaga guru yang mampu mengajar mata pelajaran tersebut, sebagai persiapan untuk mengubah Bahasa Inggris menjadi salah satu mapel wajib di jenjang SD. Program ini disebut sebagai PKGSD-MBI (Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris), yang diperkenalkan dalam acara Peluncuran Program PKGSD yang disiarkan secara daring melalui platform YouTube Kemendikdasmen.

Langkah Strategis untuk Mencapai Tujuan

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa roadmap yang ditetapkan mencakup tiga tahap utama. Pertama, pada 2025, pihaknya akan melakukan pendataan dan verifikasi terhadap sekolah SD yang menjadi sasaran pelatihan. Kedua, pada 2026, fokusnya adalah pelatihan guru dan fasilitator yang diperlukan untuk mendukung pengajaran Bahasa Inggris. Ketiga, pada 2027 hingga 2029, program ini akan dilanjutkan dengan penguatan penerapan dan pengawasan terhadap keberhasilan implementasi.

Perluasan Pembelajaran Bahasa Inggris di SD

Nunuk menambahkan bahwa pemerintah sedang berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD secara lebih sistematis. Hal ini akan dimulai pada tahun ajaran 2027/2028, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025. Ia menjelaskan, kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan kompetensi bahasa Inggris sebagai mapel wajib di kelas tiga SD, dengan target awal sekitar 58 ribu sekolah yang dianggap siap menerimanya.

“Harapan kami adalah dalam tiga tahun ke depan, seluruh sekolah dasar telah siap menerapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib, terutama di kelas tiga,” kata Nunuk dalam acara peluncuran tersebut.

Dalam upaya mencapai target tersebut, Kemendikdasmen menekankan pentingnya kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan. Menurut Nunuk, sebanyak lebih dari 90 ribu dari 150 ribu sekolah dasar di seluruh Indonesia belum memiliki guru dengan latar belakang keahlian Bahasa Inggris. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya berkomitmen untuk mengintegrasikan sistem manajemen pembelajaran (LMS) dan menyediakan modul pelatihan yang komprehensif, terutama untuk tingkat dasar (CFR A1) dan menengah (CFR A2).

Persiapan Fasilitator dan Sumber Daya

Menjelang peluncuran program, Kemendikdasmen juga berupaya memperkuat ketersediaan fasilitator daerah (Fasda). Pada tahun 2025, jumlah fasilitator yang akan ditraining mencapai 1.057 orang. Fasda ini nantinya bertugas untuk memberikan pendampingan kepada para guru, memastikan pelatihan berjalan efektif, serta memfasilitasi penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar.

Kemendikdasmen memastikan bahwa pelatihan ini tidak hanya fokus pada penguasaan keterampilan guru, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dengan memanfaatkan sistem LMS, pihaknya berharap mampu mengoptimalkan pengelolaan pelatihan dan mempercepat distribusi materi ke seluruh wilayah Indonesia. Modul-modul yang disiapkan, menurut Nunuk, dirancang untuk memenuhi standar kompetensi yang diperlukan dalam mengajarkan Bahasa Inggris kepada murid-murid SD.

Target Pelatihan Tahunan

Pelatihan Bahasa Inggris dalam program PKGSD-MBI akan dijalankan secara bertahap. Pada 2025, Kemendikdasmen menargetkan pelatihan untuk 10 ribu guru SD sebagai peserta utama. Tahap berikutnya, pada tahun ajaran 2027 dan 2028, jumlah peserta akan meningkat hingga 30 ribu guru. Dengan pengembangan berkelanjutan, pihaknya berencana menyelesaikan program ini pada 2029 dengan mengikutsertakan sebanyak 20 ribu guru SD sebagai peserta.

Langkah ini dianggap penting karena Bahasa Inggris dianggap sebagai salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik sejak usia dini. Dengan adanya guru yang terlatih, diharapkan proses pembelajaran Bahasa Inggris menjadi lebih efektif, sehingga anak-anak tidak hanya menghafal kosakata, tetapi juga mengembangkan kemampuan berbicara, mendengar, dan berpikir kritis dalam bahasa asing. Nunuk menegaskan bahwa penguatan ini juga bertujuan untuk mendukung visi pemerintah dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional.

Kesiapan Sekolah dan Evaluasi

Nunuk menyebutkan bahwa sebelum pelatihan dimulai, Kemendikdasmen telah melakukan survei terhadap 90.447 sekolah SD yang akan menjadi sasaran utama. Survei ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapan sekolah dalam menerima pelatihan dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing wilayah. Dalam proses ini, pihaknya juga berupaya memastikan modul pelatihan dapat diakses oleh guru di berbagai daerah, termasuk daerah terpencil.

Adapun pelatihan sendiri akan melibatkan berbagai metode, seperti workshop, pelatihan online, dan pendampingan langsung oleh Fasda. Nunuk menyatakan bahwa selain peningkatan kompetensi guru, program ini juga melibatkan kolaborasi dengan pihak swasta dan lembaga pendidikan lainnya untuk memastikan keberlanjutan pelatihan. Kebijakan ini diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan di tingkat dasar, terutama dalam meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik.

Sebagai bagian dari implementasi, Kemendikdasmen juga berencana mengadakan evaluasi berkala terhadap keberhasilan program. Evaluasi ini akan melibatkan pengukuran keterampilan guru, respons peserta didik, dan kesiapan sekolah dalam menerapkan Bahasa Inggris sebagai mapel wajib. Dengan demikian, pihaknya dapat menyesuaikan strategi dan memastikan bahwa semua sekolah tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga secara kultural dalam menerima mata pelajaran ini.