Solution For: Kemenag dorong pengembangan pola asuh ramah anak di pesantren
Kemenag Dorong Pengembangan Pola Asuh Ramah Anak di Pesantren
Solution For – Dari ibu kota negara, Kementerian Agama (Kemenag) masih aktif mendorong pesantren di seluruh Indonesia untuk mengembangkan sistem pengasuhan yang lebih ramah anak. Tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan pendidikan keagamaan yang nyaman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan. Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, mengatakan bahwa pesantren memiliki warisan tradisi yang kaya dalam membentuk akhlak, tetapi kini perlu diterapkan dengan pendekatan modern yang sesuai dengan prinsip perlindungan anak.
Integrasi Nilai Tradisional dengan Pendekatan Modern
Basnang menekankan bahwa nilai-nilai tradisi pesantren—yang telah menjadi fondasi sejak berabad-abad—masih sangat relevan. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam bentuk pendekatan yang sesuai dengan standar perlindungan anak. “Kekayaan tradisi pesantren tidak diragukan lagi, tetapi kita perlu mengubah cara penerapannya agar lebih sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta, Kamis.
“Nilai-nilai turats yang dimiliki pesantren sangat kuat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menerapkannya dengan pendekatan yang sesuai prinsip perlindungan anak, agar tercipta lingkungan pendidikan yang berkeadaban tanpa kekerasan,”
Pesantren di Berbagai Wilayah Menjadi Contoh
Beberapa pesantren di berbagai daerah telah mengambil langkah awal dalam menerapkan pendekatan ramah anak. Mereka dianggap sebagai referensi bagi pesantren lain dalam membangun sistem pengasuhan yang lebih manusiawi. Di Kediri, Pesantren Lirboyo mengutamakan pendekatan ta’dib, yaitu pengembangan adab dan sopan santun melalui hubungan yang intens antara kiai dengan para santri. Sistem ini diharapkan mampu memperkuat sikap hormat dan saling menghargai antaranggota komunitas.
Di Jombang, Pesantren Tebuireng menggabungkan pendidikan formal dengan layanan perlindungan anak. Salah satu inisiatif mereka adalah memberikan layanan konseling bagi para santri, agar mereka dapat mengelola emosi dan konflik secara sehat. “Sistem ini memungkinkan santri untuk berkembang secara intelektual dan emosional,” tambah Basnang.
Sementara itu, Pesantren Darunnajah dan Al-Amien Prenduan juga menunjukkan komitmen serupa. Mereka menekankan komunikasi persuasif dan pendampingan yang intensif, sehingga santri tidak hanya diberi ajaran agama tetapi juga dibimbing dalam pembentukan karakter yang seimbang. “Dengan pendekatan ini, pesantren bisa menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu tapi juga menciptakan rasa empati dan tanggung jawab sosial,” jelas Basnang.
Kawasan Timur Indonesia Memiliki Pendekatan Unik
Dalam wilayah timur Indonesia, Pesantren As’adiyah di Sulawesi Selatan mengambil pendekatan berbeda. Mereka menitikberatkan pada peran keteladanan kiai dan kedekatan emosional dalam proses pembinaan spiritual. “Kiai menjadi model yang diharapkan oleh santri, dan kehadiran mereka yang konsisten membantu membangun kepercayaan dan keterbukaan,” kata Basnang.
Pesantren Welas Asih dan Pesantren Nurul Huda Cibojong di Jawa Barat juga fokus pada pendidikan perdamaian. Mereka mengintegrasikan konsep welas asih, empati, dan penyelesaian konflik tanpa penggunaan kekerasan. Pendekatan ini menurut Basnang sangat penting karena dalam era kini, pesantren harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis.
Pengembangan Terus Berlanjut dengan Strategi Kemenag
Kemenag tidak hanya mengapresiasi keberhasilan pesantren-kesantren tersebut, tetapi juga berencana memperluas praktik baik ini ke lebih banyak lembaga. Upaya ini dilakukan melalui beberapa langkah strategis, seperti penguatan regulasi, pelatihan pengasuh, dan penyusunan panduan nasional yang mengarah pada pesantren ramah anak. “Kita perlu menciptakan kerangka kerja yang jelas, agar semua pesantren bisa mengikuti dan menerapkan standar ini secara konsisten,” ungkap Basnang.
Pengasuh pesantren, menurutnya, memegang peran kritis dalam proses transformasi ini. Mereka harus dilatih untuk lebih memahami kebutuhan psikologis dan sosial anak. “Saat ini, banyak kiai yang memiliki komitmen tinggi, tetapi perlunya keterampilan dalam mengelola emosi dan membangun komunikasi yang efektif masih menjadi tantangan,” tambahnya.
Kepedulian Global Terhadap Pendidikan Anak di Pesantren
Basnang juga menyebutkan bahwa keberhasilan ini sejalan dengan upaya global dalam melindungi anak di lingkungan pendidikan. “Pesantren bisa menjadi bagian dari solusi nasional dan internasional, karena mereka mampu menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan,” katanya. Ia menambahkan bahwa Kemenag terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi internasional, untuk memperkaya metode yang digunakan.
Menurut Basnang, tiga hal utama menjadi pilar pengembangan pesantren ramah anak: pertama, penerapan nilai-nilai tradisi dengan pendekatan modern; kedua, pelatihan dan pembinaan pengasuh; ketiga, penguatan kebijakan yang mendukung lingkungan belajar yang aman. “Kami percaya bahwa jika pesantren mampu melakukan tiga hal ini, maka mereka akan menjadi lembaga pendidikan yang sangat berkontribusi pada masa depan generasi muda,” tuturnya.
Kemenag juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan komunitas lokal, sehingga pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama tetapi juga menjadi wadah pembelajaran yang holistik. “Kerja sama dengan masyarakat sekitar akan memastikan bahwa seluruh aspek pendidikan—termasuk budi pekerti dan keterampilan hidup—diberikan secara optimal,” kata Basnang. Ia menargetkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, sebagian besar pesantren akan menerapkan model pengasuhan yang lebih berkeadaban dan ramah anak.
Dengan perubahan ini, Kemenag ingin memastikan bahwa pesantren tetap menjadi tempat yang aman, memberi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh secara menyeluruh, baik secara spiritual maupun sosial. “Kita perlu mengingat bahwa pesantren adalah bagian dari masyarakat, dan mereka harus mampu merespons kebutuhan anak-anak secara lebih efektif,” pungkas Basnang.
