Key Strategy: Bappenas: JDI dengan Airbus perkuat industri kedirgantaraan Indonesia
Bappenas: JDI Dengan Airbus Perkuat Industri Kedirgantaraan Indonesia
Key Strategy – Jakarta, Rabu – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menegaskan bahwa kesepakatan Joint Declaration of Intent (JDI) antara instansinya dengan produsen pesawat asal Prancis, Airbus, bertujuan untuk meningkatkan ekosistem industri kedirgantaraan di Tanah Air. Menurut Rachmat, langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai bagian dari rantai pasok global dalam sektor penerbangan.
Kesepakatan ini ditandatangani di Jakarta hari ini, menjadi langkah strategis dalam memperkuat keberadaan industri penerbangan nasional. Rachmat menjelaskan bahwa Bappenas telah merancang strategi jangka panjang untuk mengembangkan industri kedirgantaraan, termasuk memastikan kolaborasi yang berkelanjutan antara lembaga pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), institusi pendidikan, dan sektor swasta. “Ini bukan sekadar transaksi, tetapi perlu melibatkan seluruh aspek produksi dan distribusi pesawat,” tutur Rachmat dalam wawancara setelah penandatanganan.
“Dengan perkuatan kapasitas industri ini, kita akan mampu berkontribusi pada ekspor dan investasi, sambil memenuhi kebutuhan domestik,” kata Rachmat. Ia menambahkan, selama dua dekade ke depan, angka kunjungan udara masyarakat diperkirakan meningkat dari 0,4 perjalanan per kapita per tahun menjadi 1,4. Pertumbuhan ini akan menuntut ekspansi armada pesawat yang saat ini berjumlah sekitar 550 unit.
Menurut Rachmat, proyeksi kenaikan jumlah penumpang udara akan mencapai 477 juta orang pada 2045, dengan laju pertumbuhan rata-rata 7,4 persen per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata global sekitar 3,6 persen. “Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan akan kapasitas penerbangan akan meningkat drastis, sehingga diperlukan perluasan armada lebih dari tiga kali lipat,” jelas Rachmat.
Kolaborasi Bersama PTDI dan ITB
Sebagai langkah lanjutan, Bappenas dan Airbus sepakat bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) serta Institut Teknologi Bandung (ITB). Kerja sama ini diharapkan memperkuat keahlian lokal dalam produksi komponen pesawat, serta mendorong inovasi teknologi. “Kolaborasi tersebut akan diintegrasikan secara sistematis dengan strategi Airbus, sambil mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak,” ungkap Rachmat.
Rachmat menekankan bahwa industri kedirgantaraan Indonesia harus tumbuh secara holistik, bukan hanya terbatas pada pemakaian pesawat. Ia menjelaskan, pengembangan rantai pasok pesawat adalah kunci untuk menjadikan sektor ini lebih berdaya. “PTDI, sebagai salah satu pelaku utama, memiliki potensi besar untuk menjadi tier 1 supplier Airbus,” lanjut Rachmat. Hal ini memungkinkan perusahaan nasional memproduksi bagian utama pesawat, seperti sayap, atau bahkan membangun pabrik di Kertajati, Sumedang.
“Dengan peningkatan standardisasi, kualitas layanan, dan efisiensi operasional, kita bisa menjamin pertumbuhan industri ini berkelanjutan,” kata Rachmat. Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi canggih serta pengembangan sumber daya manusia sebagai penunjang utama.
Kerja sama dengan Airbus tidak hanya fokus pada produksi pesawat, tetapi juga mencakup pelatihan keterampilan dan penelitian. “Peran institusi pendidikan seperti ITB sangat vital untuk menghasilkan tenaga ahli yang mampu mendukung industrialisasi penerbangan,” kata Rachmat. Ia menambahkan, kolaborasi ini juga menjadi jembatan antara pemerintah dan sektor swasta dalam menggerakkan ekosistem industri yang lebih kuat.
Target Ekspor dan Diversifikasi Pasar
Rachmat menyoroti bahwa pertumbuhan sektor ini akan membawa manfaat ekonomi yang signifikan. “Dengan menambah kapasitas armada, kita juga akan mendorong peningkatan ekspor pesawat, yang saat ini masih terbatas,” ujarnya. Ia menjelaskan, industri kedirgantaraan nasional perlu menghadapi tantangan global, seperti persaingan dengan produsen lain di Asia Tenggara dan Eropa.
Pada kesempatan ini, Rachmat menyebutkan bahwa kerja sama dengan Airbus memberikan peluang untuk meningkatkan daya saing industri penerbangan dalam negeri. “Indonesia harus menjadi pusat pertumbuhan di Asia Pasifik, bukan hanya sebagai konsumen,” katanya. Ia menegaskan, keberhasilan proyek ini bergantung pada sinergi antara lembaga pemerintah, BUMN, perguruan tinggi, dan perusahaan swasta.
Menurut Rachmat, penguatan sumber daya manusia dan standarisasi kualitas adalah faktor utama yang perlu diperhatikan. “Kita perlu memastikan tenaga kerja yang terampil dan konsisten dalam menghasilkan produk berkualitas,” tuturnya. Hal ini akan mendukung pembangunan pabrik serta perluasan ekspor ke negara-negara lain. Selain itu, penggunaan teknologi terkini juga menjadi kunci dalam mengurangi ketergantungan pada impor.
Ekosistem industri kedirgantaraan yang kuat diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sektor penerbangan. Dengan proyeksi peningkatan penumpang hingga 477 juta orang, kebutuhan akan infrastruktur dan peralatan penerbangan akan terus meningkat. “Ini menjadi momentum untuk mengubah paradigma industri penerbangan Indonesia menjadi lebih mandiri,” kata Rachmat.
Kerja sama JDI dengan Airbus menjadi salah satu langkah penting dalam mengakselerasi pembangunan sektor ini. Rachmat berharap, melalui kolaborasi yang lebih erat, PTDI mampu menjadi mitra strategis Airbus. “PTDI bisa menghasilkan komponen utama, termasuk sayap, dan bahkan membangun pabrik di Kertajati,” imbuhnya. Ia juga memperkuat bahwa ekspor pesawat akan menjadi bagian dari perekonomian Indonesia.
Dalam pandangan Rachmat, keberhasilan kolaborasi ini tidak hanya tergantung pada keahlian teknis, tetapi juga pada komitmen untuk mendorong inovasi dan efisiensi. “Kita harus membangun sistem yang terintegrasi, agar pengembangan industri kedirgantaraan bisa berlangsung secara berkelanjutan,” tuturnya. Ia menambahkan, dengan proyeksi pertumbuhan yang signifikan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam industri penerbangan global.
Menurut Rachmat, kerja sama ini juga menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk memperkuat keberadaan industri penerbangan di Asia Pasifik. “Dengan penguatan sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur, kita bisa mengejar pasar ekspor dan meningkatkan daya saing,” katanya. Ia menegaskan bahwa Bappenas akan terus menjadi pengawal yang aktif dalam proyek ini, sambil mendorong keterlibatan sektor swasta sebagai penopang utama.
Kerja sama dengan Airbus bukan hanya tentang peningkatan kapasitas armada, tetapi juga tentang transformasi industri. “Ini merupakan langkah kecil menuju perubahan besar dalam sektor penerbangan Indonesia,” jelas Rachmat. Dengan integrasi yang baik antara pihak-pihak terlibat, ia yakin industri kedirgantaraan akan tumbuh seiring peningkatan permintaan pasar dan peningkatan kapasitas produksi.
