Facing Challenges: 50 ribu Rupiah untuk jaga nyawa di perlintasan sebidang
50 ribu Rupiah untuk jaga nyawa di perlintasan sebidang
Facing Challenges – Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, ada satu titik yang memikat perhatian: perlintasan sebidang di sebelah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tempat itu bukan sekadar jalur transportasi, melainkan jembatan kehidupan bagi banyak orang. Seorang pria bernama Ocim (53) menghabiskan lebih dari 15 tahun untuk menjaga keselamatan di sana, meski hanya mengantongi Rp50 ribu per hari dari pemberian sukarela pengguna jalan.
Perjalanan Berisiko di Tengah Keterbatasan
Ocim tidak bekerja di kantor dengan mengenakan lanyard atau menghadapi dinginnya pendingin ruangan. Ia hanya memakai kaos biasa dan mengandalkan insting tajam untuk membaca arah angin serta suara klakson yang menghiasi jalan raya. Di sana, ia menjadi penghalang terakhir antara kecelakaan dan nyawa para pengguna jalan, yang kerap menghadapi bahaya saat melintas.
“Orang tahunya mengira kami dibayar, padahal tidak. Ini swadaya masyarakat saja, supaya tidak ada kejadian,”
ucap Ocim, yang berjaga dengan rasa tanggung jawab mendalam. Perlintasan sebidang tersebut tidak memiliki fasilitas resmi seperti palang otomatis atau sirine. Yang tersisa hanyalah dua batang besi bekas yang kini berfungsi sebagai pengingat berisik.
Kondisi Infrastruktur yang Menantang
Rel yang melintang di perlintasan itu berkelok, membuat pandangan pengguna jalan terbatas. Di beberapa kondisi, kereta bisa datang tanpa terlihat dari kejauhan, menghadirkan ancaman tak terduga. Setiap beberapa menit, kereta KRL melintas dari arah Rangkasbitung atau Tanah Abang. Di sela-sela itu, arus kendaraan terus mengalir, terutama saat pagi hari ketika pelajar dan pekerja memadati jalan alternatif antara Ulujami dan Bintaro.
“Kadang sudah di-setop, masih saja nerobos,”
kata Ocim, yang pernah menyaksikan mobil tertabrak kereta beberapa tahun lalu. Kendaraan itu sempat terpental, meski tidak mengakibatkan korban jiwa. “Itu sudah diingatkan, tapi tetap maksa,”
“
ujarnya, dengan nada penuh penyesalan. Ia menegaskan, kecelakaan sering terjadi karena pengendara memaksakan diri melintas, bahkan saat kereta sudah mendekat.
Peran Penuh Tanggung Jawab
Bagi Ocim, tugasnya bukan hanya tentang mengamati kondisi jalur, tetapi juga tentang memahami perilaku manusia. Ia mengatakan, tugas itu penuh risiko karena rel yang tidak rata dan kecepatan kereta yang tinggi. “Kami harus jeli. Kadang suara enggak kedengeran, jadi lihat kabel bergerak,”
“
ujarnya, menekankan kepekaan yang dibutuhkan untuk memprediksi kejadian tak terduga. Meski tak ada perlengkapan memadai, Ocim dan sembilan rekannya tetap berjaga dengan semangat tinggi.
Kisah Tragedi di Balik Tugas
Satu peristiwa besar di Bekasi Timur yang menewaskan belasan orang beberapa waktu lalu, bagi Ocim, bukanlah hal yang mengejutkan. Menurutnya, kejadian serupa bisa terjadi kapan saja jika kewaspadaan diabaikan. “Apes itu enggak ada di kalender,”
“
katanya pelan, matanya menatap jauh ke rel yang tak pernah sepi. Di sana, ia berdiri sebagai penjaga yang tak tergantikan, meski hanya menerima penghasilan seadanya.
Motivasi yang Menggerakkan
Tak ada bayangan uang di kepala Ocim, meski setiap hari ia menerima pemberian sukarela dari pengguna jalan. Penghasilannya berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung dari seberapa banyak orang menghargai tindakannya. “Menjaga keselamatan jauh lebih penting daripada imbalan,”
“
kata Ocim, yang tak pernah menyerah meski sering menghadapi situasi kritis. Ia melihat kecelakaan sebagai bukti keengganan manusia terhadap ancaman yang selalu mengintai.
Keberlanjutan Tugas yang Sederhana
Selama lebih dari 15 tahun, Ocim membangun kepercayaan diri dan kebiasaan untuk menjaga perlintasan sebidang. Ia memahami bahwa sesekali tugasnya bisa menyelamatkan nyawa, meski tidak selalu mendapatkan apresiasi yang setara. Tapi, bagi Ocim, itu adalah hal yang lebih berharga daripada penghasilan di luar kewajibannya.
Di tengah situasi jalan raya yang semakin padat, perlintasan sebidang ini tetap menjadi tempat rawan. Ocim merasa bahwa kehadirannya adalah bentuk perlawanan terhadap risiko yang sering diabaikan. Dengan kemampuan membaca keadaan dan refleks yang tajam, ia terus menjalankan tugas yang menguras tenaga, tetapi memberi keamanan untuk masyarakat sekitar.
Imbas dari Penjagaan yang Terus-Menerus
Kerja Ocim tidak hanya berupa membaca suara dan getaran kabel. Ia juga menghadapi cuaca ekstrem, terik matahari yang membara, dan kelelahan yang tak terhindarkan. Namun, ia tak pernah mengeluh. Baginya, perlintasan sebidang itu adalah jembatan kehidupan bagi banyak orang, dan kehadirannya adalah bagian dari perjuangan untuk mencegah kemalangan. “Ini bukan hanya tugas, tapi juga tanggung jawab,”
“
kata Ocim, dengan perasaan tulus untuk melindungi siapa pun yang melintas di sana. Meski tidak ada jaminan keselamatan, ia tetap berdiri di garis depan, memastikan bahwa kecelakaan tidak terulang tanpa peringatan.
Pengorbanan yang Tidak Terduga
Dalam beberapa tahun terakhir, Ocim terus menempuh jalan yang sama, meski kadang-kadang harus mengorbankan waktu istirahat. Ia mengaku, kesulitan sering muncul karena tidak ada jadwal tetap atau sistem yang teratur. Tapi, ia tetap bersikeras karena melihat nilai dari setiap detik yang ia habiskan di sana. “Kami memilih ini karena ingin mencegah orang terluka,”
“
katanya, dengan senyum tipis menggambarkan kegigihan yang luar biasa. Bagi Ocim, tugas yang seakan-akan tak terukur ini adalah bagian dari kehidupannya, sekaligus harapan untuk keberlanjutan keselamatan transportasi di kawasan itu.
Keberadaan Ocim dan rekan-rekannya menjadi cerminan kepedulian masyarakat terhadap keselamatan. Meski tidak ada yang pasti, kehadiran mereka adalah jaminan bahwa setiap langkah melintas perlintasan sebidang diisi dengan pengawasan. Dalam dunia yang serba cepat dan modern, Ocim tetap berdiri sebagai simbol ketekunan, yang menjadi langkah kecil namun berarti dalam mencegah kecelakaan di tengah arus lalu lintas yang tak pernah berhenti.
