Special Plan: Hardiknas ruang refleksi hidupkan semangat pendidikan nasional
Hardiknas ruang refleksi hidupkan semangat pendidikan nasional
Special Plan – Dalam upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Jakarta Utara, Senin, Wakil Wali Kota Jakarta Utara Fredy Setiawan menggarisbawahi pentingnya hari tersebut sebagai momen untuk merefleksikan dan mengaktifkan kembali semangat pendidikan nasional. Menurutnya, perayaan ini bukan sekadar upacara rutin, melainkan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengingat visi pembangunan pendidikan yang berkelanjutan.
Hardiknas, menurut Fredy, menjadi wadah bagi perenungan mendalam tentang peran pendidikan dalam membentuk individu yang lebih manusiawi. “Pendidikan pada dasarnya adalah proses yang bertujuan memanusiakan individu melalui kejujuran, kasih sayang, dan rasa peduli,” jelasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pendidikan tidak hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga menciptakan manusia yang berintegritas dan berperilaku sosial yang baik.
“Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia yang dilakukan dengan ketulusan, kasih, dan kepedulian. Hal ini merupakan fondasi dalam mencetak generasi yang kuat dan tangguh,” ujar Fredy saat memimpin upacara Hardiknas 2026 di Jakarta Utara.
Menurut Fredy, visi pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter selaras dengan kebijakan nasional yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. “Indonesia maju tidak mungkin terwujud tanpa pendidikan yang berkualitas,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kebijakan ini harus menjadi pedoman dalam pengembangan sistem pendidikan yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan nasional, Kemendikdasmen telah menyusun lima kebijakan strategis yang menjadi fokus pembangunan. Pertama, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan, yang bertujuan meningkatkan kualitas fasilitas belajar serta keberlanjutan sistem pendidikan. Kedua, digitalisasi pembelajaran, yang memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan akses dan efisiensi dalam proses pendidikan. Ketiga, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, yang dianggap sebagai kunci utama dalam mewujudkan pendidikan bermutu. Keempat, peningkatan pembentukan karakter peserta didik, agar mereka mampu bersikap tanggung jawab dan berintegritas. Kelima, perluasan akses pendidikan yang inklusif dan fleksibel, untuk memastikan semua lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari pendidikan.
Fredy menyoroti bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak bisa tercapai sendirian. “Kolaborasi kuat dari seluruh elemen seperti sekolah, keluarga, masyarakat, dan media adalah prasyarat utama,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa ekosistem pendidikan yang saling terintegrasi diperlukan agar proses belajar-mengajar dapat berjalan optimal. Peran dunia usaha dan mitra pendidikan juga menjadi fokus perhatian, karena mereka dapat memberikan kontribusi nyata melalui sumber daya dan inovasi.
Kolaborasi ini, menurut Fredy, akan membentuk fondasi yang kuat bagi pendidikan berkualitas. “Saat ini, fondasi pendidikan bermutu sudah mulai terbangun, tetapi yang dibutuhkan adalah sinergi nyata dari semua pihak,” lanjutnya. Ia menyatakan bahwa peran aktif dari berbagai sektor akan mempercepat realisasi pendidikan yang mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berakhlak.
“Dengan semangat Hardiknas, mari kita perkuat kolaborasi untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua, menuju Indonesia yang cerdas, maju, dan bermartabat,” ujar Fredy.
Dalam wawancara tambahan, Fredy menjelaskan bahwa prinsip 3M—Mindset yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus—adalah kunci dalam mencapai tujuan tersebut. “Mindset yang maju melibatkan perubahan cara berpikir dan memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang,” katanya. Sementara, mental yang kuat menekankan ketahanan peserta didik dalam menghadapi tantangan hidup, serta kemampuan mereka untuk berinovasi dan berkembang. Misi yang lurus, di sisi lain, mengarahkan seluruh pemangku kepentingan ke arah yang sama, yaitu menjadikan pendidikan sebagai alat pembentukan karakter dan kualitas hidup.
Menurutnya, kebijakan strategis Kemendikdasmen tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tetapi juga mengubah cara masyarakat melihat pentingnya pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. “Dengan adanya kebijakan ini, kita bisa memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakangnya, memiliki akses yang sama untuk berkembang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan literasi dan numerasi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran, karena keterampilan ini memungkinkan peserta didik memahami dunia dan memecahkan masalah secara kritis.
Sebagai pembelajaran praktis, Fredy menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tergantung pada partisipasi aktif dari seluruh elemen. “Jika hanya sekolah yang bekerja keras, tetapi keluarga dan masyarakat tidak mendukung, maka hasilnya akan terbatas,” jelasnya. Ia menyarankan bahwa media juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan mengajak mereka untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Hardiknas, menurut Fredy, juga menjadi momentum untuk mengevaluasi keberhasilan berbagai kebijakan pendidikan. “Kita harus terus merefleksikan pelaksanaan program dan menyesuaikan strategi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Ia berharap bahwa perayaan tahun ini menjadi awal dari transformasi besar dalam sistem pendidikan Indonesia, yang mampu menghasilkan generasi muda yang siap bersaing di tingkat global.
Dalam rangka memperkuat semangat pendidikan nasional, Fredy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berinovasi dan berkolaborasi. “Kita tidak boleh berhenti di tempat ini, tetapi harus terus bergerak ke depan,” katanya. Ia menegaskan bahwa semangat Hardiknas bukan hanya untuk peringatan, tetapi juga sebagai dorongan untuk membangun pendidikan yang lebih baik dan berkelanjutan.
