Mendiktisaintek: Pelajar jangan takut bermimpi besar

14c14942 c619 4c09 bc83 1635a3e70316 0

Mendiktisaintek: Pelajar Jangan Takut Bermimpi Besar

Mendiktisaintek –

Sabtu pagi, di Halaman Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Senayan, Jakarta Pusat, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan pesan penting kepada para pelajar dan mahasiswa. Ia menekankan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan mereka, sekaligus meminta mereka tetap semangat dalam belajar dan mengembangkan kemampuan. “Kepada para pelajar dan mahasiswa, teruslah belajar, bertanya, mencoba, dan berkarya. Jangan takut bermimpi besar. Masa depan Indonesia bukanlah sesuatu yang diwariskan, melainkan dibangun dengan kontribusi dari karakter, ilmu pengetahuan, kerja sama, dan keberanian untuk maju,” ujar Brian.

Peran Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat makna pendidikan sebagai alat memanusiakan manusia, membentuk karakter, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mendorong kemajuan peradaban. Dalam pidatonya, Brian menekankan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, baik melalui pembelajaran formal maupun non-formal.

Beriman kepada Prinsip Ki Hajar Dewantara

Brian Yuliarto menyebut bahwa Ki Hajar Dewantara, pendiri pendidikan nasional Indonesia, telah meninggalkan warisan nilai yang sangat relevan hingga kini. Prinsip “asah, asih, asuh” yang dianut tokoh pendidikan tersebut, menurutnya, harus terus dihidupkan dalam sistem pendidikan modern. “Pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang siapa kita menjadi,” tegasnya. Prinsip tersebut dianggap sebagai fondasi untuk mencerdaskan akal, membangun empati, dan membimbing peserta didik menjadi individu yang utuh dan mandiri.

Brian juga meminta masyarakat dan institusi pendidikan tinggi untuk bersama-sama memperkuat ekosistem pendidikan nasional. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi wadah yang mendorong kreativitas, inovasi, dan kolaborasi antar generasi. “Kita harus mewariskan nilai-nilai pendidikan yang menginspirasi, tidak hanya sekadar mencetak lulusan yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu mengubah masa depan dengan ide-ide revolusioner,” lanjutnya.

Membangun Bangsa Melalui Ilmu Pengetahuan

Dalam sambutannya, Brian Yuliarto mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna ilmu pengetahuan, tetapi harus menjadi pencipta ilmu pengetahuan yang unggul. “Pendidikan nasional sejatinya dibangun dalam ekosistem yang utuh dan berkelanjutan, sehingga ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan sebagai perwujudan inovasi yang mendorong kemandirian bangsa,” jelasnya. Ia berharap para pelajar dan mahasiswa mampu menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan global, dengan berani mengeksplorasi potensi diri dan berkontribusi pada keberlanjutan pembangunan negara.

Ia menambahkan bahwa upacara Hardiknas 2026 ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali visi pendidikan yang holistik. Pendidikan, menurut Brian, tidak hanya menghasilkan pemahaman akademik, tetapi juga mengasah sikap mental, nilai kehidupan, serta keahlian praktis yang diperlukan untuk menghadapi era kekinian. “Kita perlu mengubah pola pikir yang terbatas menjadi semangat untuk berpikir kritis dan bersikap proaktif dalam menciptakan solusi bagi permasalahan bangsa,” lanjutnya.

Menurut Brian, pelajar dan mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk identitas nasional. “Kita tidak boleh menunda tanggung jawab ini, karena setiap langkah kecil dalam belajar dan berkarya akan memberikan dampak besar terhadap perjalanan bangsa,” tuturnya. Ia menyoroti pentingnya konsistensi dalam pendidikan, baik di tingkat dasar maupun tingkat menengah, sebagai pengantar menuju pendidikan tinggi yang lebih berkualitas.

Inovasi dan Riset sebagai Kunci Kemandirian

Brian Yuliarto juga meminta seluruh institusi pendidikan tinggi untuk berperan aktif dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Ia menekankan bahwa riset dan inovasi harus menjadi bagian dari kurikulum, agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. “Dengan menggabungkan pengetahuan, kolaborasi, dan keberanian, kita dapat menciptakan ilmuwan kelas dunia yang lahir dari bangsa sendiri,” katanya.

Di sisi lain, Brian berharap para pelajar tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan jiwa pemberani. “Mimpi besar tidak akan tercapai tanpa kesungguhan dalam membangun diri sendiri, lalu berbagi keberhasilan tersebut dengan masyarakat,” imbuhnya. Ia menegaskan bahwa pendidikan nasional harus menjadi tempat yang memupuk rasa tanggung jawab sosial, sehingga setiap individu mampu berkontribusi pada kebaikan bersama.

Peringatan Hardiknas 2026, menurut Brian, juga sekaligus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mendukung kebijakan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. “Kita perlu menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, dengan kebebasan berpikir dan kesempatan yang adil bagi semua peserta didik,” ujarnya. Ia berharap, melalui upacara ini, masyarakat lebih sadar bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menghasilkan manfaat besar bagi generasi mendatang.

Komitmen untuk Masa Depan yang Cerah

Brian Yuliarto mengakhiri pidatonya dengan ajakan untuk terus meneguhkan semangat belajar dan berkarya. “Setiap pelajar dan mahasiswa harus memegang peran penting dalam membangun bangsa, karena masa depan Indonesia bergantung pada upaya kolektif kita,” katanya. Ia menegaskan bahwa mimpi besar tidak akan pernah tercapai tanpa kerja keras dan kerja sama yang harmonis.

Dalam konteks kekinian, Brian menyebut bahwa tantangan global seperti perubahan iklim, teknologi digital, dan globalisasi membutuhkan generasi muda yang siap bersaing dan inovatif. “Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, kita bisa menjawab tantangan tersebut secara bersama, menciptakan solusi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kemandirian bangsa tidak bisa tercapai tanpa partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pelajar dan mahasiswa.

Kebanggaan atas prestasi yang telah dicapai dalam bidang pendidikan nasional, menurut Brian, tidak boleh menjadi penghalang untuk terus berinovasi. “Kita harus selalu terbuka terhadap perubahan, karena pendidikan yang relevan adalah pendidikan yang terus berkembang dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya. Dalam pidatonya, ia meminta seluruh institusi pendidikan untuk tidak hanya fokus pada pengajaran, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pengembangan keterampilan kehidupan.

Untuk memastikan pendidikan berjalan optimal, Brian mengingatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, serta masyarakat sangat penting. “Kita perlu menciptakan ekosistem pendidikan yang saling mendukung, sehingga setiap peserta