Jaga ekosistem perairan – Pemkot Jakut tangkap 493 kg ikan sapu-sapu

5d02127a aa18 4b08 a7aa 5a081d142024 0

Jaga Ekosistem Perairan, Pemkot Jakut Tangkap 493 Kg Ikan Sapu-Sapu

Jaga ekosistem perairan – Dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan, Pemerintah Kota Jakarta Utara (Jakut) terus melakukan serangkaian tindakan pengendalian terhadap populasi ikan sapu-sapu yang dianggap merusak lingkungan. Melalui Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), tim pengawas berhasil menangkap total 493 kilogram ikan sapu-sapu dari berbagai lokasi sungai dan saluran air di wilayah Jakut. Angka tersebut menjadi hasil dari kegiatan rutin yang telah dijalankan sejak 17 April 2026 hingga hari ini, menurut pernyataan Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Utara, Novy Christine Palit, saat diwawancara di Jakarta, Rabu (5/5).

Tindakan Strategis untuk Pemulihan Ekosistem

Novy menjelaskan bahwa pengendalian ikan sapu-sapu ini bukan hanya sekadar operasi penangkapan sementara, tetapi merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memulihkan keanekaragaman hayati perairan. Dalam rangka mengetahui lokasi-lokasi kritis yang menjadi tempat berkembang biak ikan tersebut, pihaknya telah melakukan inventarisasi secara menyeluruh di seluruh kelurahan. Hasil peta kehidupan ikan sapu-sapu ini menjadi dasar untuk menyusun rencana penangkapan massal yang lebih terarah, sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap satwa lokal.

Dalam proses penangkapan, petugas diberi instruksi untuk memprioritaskan area yang memiliki tingkat kepadatan ikan sapu-sapu tinggi. Lokasi-lokasi ini kemudian menjadi fokus utama dalam kegiatan rutin yang dijalankan di enam kecamatan. Novy menegaskan bahwa selain penangkapan, upaya ini juga mencakup monitoring berkala dan edukasi masyarakat untuk mengenali ancaman dari ikan invasif ini. “Kami berharap melalui langkah-langkah ini, ekosistem sungai Jakarta Utara bisa dipulihkan secara bertahap,” tuturnya.

“Kami terus menggencarkan pengendalian ikan sapu-sapu, dan sejak 17 April 2026 hingga saat ini, sebanyak 493 kilogram ikan sapu-sapu berhasil ditangkap,” kata Novy Christine Palit di Jakarta, Rabu.

Sebelumnya, pada Selasa (28/4), kegiatan penangkapan telah dilakukan di Saluran Penghubung (PHB) Agung Perkasa 8, Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok. Dalam operasi tersebut, petugas mencatatkan tangkapan seberat 51 kg. Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya mengendalikan ikan sapu-sapu telah dimulai sejak beberapa minggu terakhir, dengan hasil yang beragam dari tiap lokasi. “Selanjutnya, kegiatan akan bergulir ke wilayah lain di enam kecamatan,” tambah Novy, menjelaskan bahwa pengendalian akan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi.

Ikan sapu-sapu, yang memiliki nama ilmiah *Oryzias latipes*, dikenal sebagai spesies invasif yang memakan peran dominan di perairan Jakarta Utara. Spesies ini tidak hanya mengurangi jumlah ikan asli, tetapi juga mengubah pola ekosistem secara signifikan. Menurut Novy, kehadiran ikan ini memicu persaingan sumber daya dengan ikan lokal, seperti ikan mas dan ikan lele, yang secara alami beradaptasi dengan lingkungan tertentu. Dengan menangkap ikan sapu-sapu secara terus-menerus, Pemkot Jakut berupaya mengembalikan kestabilan rantai makanan di sungai-sungai setempat.

Dalam rangka mendukung operasi penangkapan, Suku Dinas KPKP Jakarta Utara telah menyediakan peralatan khusus, termasuk tiga unit jaring tebar dan satu gulung waring. Alat-alat ini memungkinkan petugas mengakses area yang sulit dijangkau, seperti celah-celah batu atau terowongan di bawah bangunan. Novy menyatakan bahwa persiapan peralatan ini telah dilakukan secara matang untuk memastikan keberhasilan kegiatan pengendalian. “Kami ingin memastikan bahwa penangkapan dilakukan dengan efektif dan minim merusak lingkungan sekitar,” jelasnya.

Setelah proses penangkapan selesai, hasilnya akan dibawa ke Balai Penyuluhan Perikanan (BPP) Sukapura untuk ditangani lebih lanjut. Di sana, ikan sapu-sapu akan dipotong secara sistematis sebelum dimusnahkan. Metode penguburan dipilih karena dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan metode pembakaran atau pelampasan. “Ini bertujuan mencegah dampak ekologis tambahan, misalnya kehilangan nutrisi atau pencemaran,” terang Novy.

Novy juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara instansi terkait dan masyarakat dalam menjaga perairan. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang memperhatikan isu invasi ikan di wilayah Jakarta Utara. “Gubernur menekankan perlunya penanganan cepat untuk mencegah ekosistem perairan terus terganggu,” tuturnya.

Selain itu, Novy menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi, sehingga keberadaannya bisa menyebar dengan cepat jika tidak dikendalikan. Pemkot Jakut berencana mengadakan operasi rutin setiap minggu, dengan target area yang berbeda setiap periode. “Kami juga melibatkan nelayan lokal sebagai mitra, agar mereka memahami manfaat dari kegiatan ini,” katanya.

Menurut data yang dihimpun, ikan sapu-sapu telah menghuni sejumlah saluran air di Jakarta Utara selama bertahun-tahun. Kehadirannya menyebabkan penurunan populasi ikan endemik dan perubahan komposisi ekosistem. Pemkot Jakut berharap dengan penangkapan massal, populasi ikan invasif ini bisa dikurangi hingga mencapai titik optimal. “Kami tetap optimis bahwa upaya ini akan memberikan hasil yang signifikan,” ujarnya.

Pemkot Jakut juga menyampaikan bahwa kegiatan pengendalian ikan sapu-sapu akan terus dilakukan hingga populasi tersebut benar-benar terkendali. Selain itu, pihaknya berencana melakukan program pemulihan ekosistem, seperti penanaman tanaman air dan pengamanan terhadap spesies lokal. “Ini adalah bagian dari langkah strategis untuk membangun ketahanan lingkungan di wilayah jakut,” jelas Novy.

Dengan kegiatan ini, Pemkot Jakut menunjukkan komitmen untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air dan mengurangi ancaman dari spesies invasif. Keberhasilan penangkapan 493 kg ikan sapu-sapu menunjukkan bahwa tindakan yang diambil sudah mulai membuahkan hasil. Namun, Novy mengingatkan bahwa tantangan masih ada, terutama dalam mengelola operasi secara terus-menerus dan mendapatkan dukungan masyarakat. “Kami perlu kerja sama dari semua pihak agar kegiatan ini bisa terus berjalan secara optimal,” pungkasnya.