Key Discussion: Waspadai Penyalahgunaan AI, Literasi Digital Semakin Penting

1783693426_37149283c3420c78cdd1

Key Discussion: Literasi Digital Kunci Hadapi Penyalahgunaan AI

Key Discussion – Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam aktivitas sehari-hari. Di satu sisi, inovasi ini memberikan manfaat luar biasa bagi masyarakat. Namun, Key Discussion juga menyoroti bahwa perkembangan yang sama dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melancarkan beragam bentuk kejahatan digital. Mulai dari penyebaran informasi palsu, pembuatan video deepfake, hingga penipuan siber yang semakin sulit dibedakan dari konten asli.

Kondisi ini menjadikan literasi digital sebagai bekal fundamental bagi masyarakat. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat mampu memanfaatkan AI secara bijak sekaligus terhindar dari berbagai ancaman yang ada di ruang digital. Isu penting ini menjadi sorotan utama dalam program literasi digital bertajuk “Cek Sebelum Cekcok”. Program ini diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina dengan dukungan PT Pintu Kemana Saja atau PINTU. Ratusan warga Kota Bekasi turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Key Discussion: Komitmen Perusahaan dalam Meningkatkan Kesadaran Digital

Timothius Martin, Chief Marketing Officer PINTU, menjelaskan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk meningkatkan literasi digital masyarakat. Tujuannya agar masyarakat lebih siap menghadapi berbagai risiko di era teknologi yang terus berkembang. Key Discussion ini juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan bagi pengguna teknologi.

“Kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Sementara itu, Chairun Nisa, anggota DPRD Kota Bekasi, menekankan bahwa kebutuhan akan literasi digital semakin krusial mengingat tingginya penetrasi internet di masyarakat. Data yang tercatat menunjukkan Kota Bekasi memiliki populasi sekitar 2,8 juta jiwa, dengan sekitar 2,2 juta di antaranya merupakan pengguna internet aktif. Di sisi lain, masyarakat kini menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial sehingga semakin rentan terhadap berbagai modus penipuan maupun manipulasi informasi.

“Kita wajib menjadi bagian dari sumber daya manusia Kota Bekasi yang cerdas digital. Karena kita tahu hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di media sosial, maka dari itu perlu melindungi kita semua dari praktik penipuan digital,” katanya.

Key Discussion: Kritis Menerima Informasi di Era AI

Dr. Rini Sudarmanti, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, mengingatkan masyarakat agar lebih kritis ketika menerima informasi di media sosial. Key Discussion ini menjadi sangat relevan mengingat kemajuan AI membuat konten manipulatif menjadi semakin meyakinkan sehingga tidak mudah dibedakan dengan informasi asli.

Ia menjelaskan beberapa ciri informasi yang patut diwaspadai, seperti judul yang berlebihan, foto atau video hasil rekayasa AI, narasumber yang tidak jelas, hingga narasi bombastis yang mendorong masyarakat segera menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi.

“Kita harus curiga jika ada judul yang lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta ‘sumber hantu’ yang tidak jelas nama ahlinya. Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan,” ujarnya.

Rini mengimbau masyarakat untuk tidak menebak-nebak kebenaran suatu informasi, melainkan memanfaatkan panduan maupun kanal resmi pemerintah guna melakukan verifikasi.

Key Discussion: Statistik dan Langkah Preventif

Dimas Aditya Nugraha, Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, mengatakan kemampuan masyarakat dalam mengenali hoaks masih beragam. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 7% masyarakat sangat yakin terhadap informasi hoaks yang diterima, 25% merasa yakin, sementara 45% masih bimbang dalam menentukan apakah informasi tersebut benar atau tidak. Key Discussion ini memberikan gambaran jelas tentang perlunya peningkatan literasi digital.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membiasakan prinsip saring sebelum sharing agar masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi maupun menjadi korban manipulasi digital. Di sisi lain, penggunaan AI di Indonesia juga terus meningkat. Berdasarkan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69% pekerja Indonesia yang disurvei telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya selama satu tahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas.

Reyner Jonathan, Senior Product Marketing Specialist PINTU, mengatakan masyarakat perlu menerapkan beberapa langkah sederhana agar tidak menjadi korban penipuan berbasis AI maupun kejahatan digital. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, tidak panik ketika menerima pesan yang mencurigakan, selalu memeriksa sumber informasi maupun nomor resmi apabila ada pihak yang mengatasnamakan institusi tertentu, serta mengaktifkan fitur keamanan tambahan pada perangkat digital mereka. Key Discussion ini menjadi penutup yang penting untuk mengingatkan semua pihak akan tanggung jawab bersama dalam menghadapi era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *