Pembahasan Penting: “Healing” hingga “flexing”: Bahasa gaul yang jadi industri

1000383654

“Healing” hingga “flexing”: Bahasa gaul yang jadi industri

Di Surabaya, beberapa tahun belakangan ini, masyarakat Indonesia mulai menggunakan istilah-istilah seperti healing, flexing, gas, hingga anjay dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata ini tidak hanya muncul di media sosial, tetapi juga mengakar dalam pola komunikasi generasi muda, memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Analisis Wacana Kritis

Fenomena ini sering dipandang sebagai bentuk kreativitas linguistik. Namun, jika dilihat dari perspektif Analisis Wacana Kritis—khususnya dengan pendekatan Norman Fairclough—bahasa tersebut tidak netral. Ia menjadi alat yang dipakai untuk menggambarkan kepentingan sosial tertentu.

Dalam kerangka Fairclough, bahasa berfungsi pada tiga lapisan: teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Pada tingkat teks, healing misalnya, mengalami pergeseran makna dari “pemulihan” dalam bidang medis menjadi “rekreasi” atau “istirahat sementara dari tekanan hidup.” Perubahan ini terdengar sederhana, namun sebenarnya menciptakan pergeseran paradigma: dari proses pemulihan yang kompleks ke aktivitas konsumsi yang instan.

“Kesehatan mental, yang seharusnya menjadi isu serius dan kompleks, direduksi menjadi aktivitas konsumsi.”

Kata healing menyebar tidak secara kebetulan. Ia diperkuat oleh pengaruh dari pemangku kepentingan, seperti konten media sosial dan industri pariwisata, yang secara konsisten mengaitkan kebahagiaan dengan pengalaman visual, kafe estetik, dan perjalanan. Dalam konteks ini, bahasa tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi ikut membangunnya.

Praktik Sosial

Pada tingkat praktik sosial, healing menjadi bagian dari logika kapitalisme dalam gaya hidup. Peduli pada diri sendiri, yang sebelumnya dianggap kebutuhan alami, kini diubah menjadi produk yang bisa dibeli. Kritik terhadap istilah-istilah ini justru memperkuat keberadaannya, karena baik pelaku maupun pengkritik tetap terjebak dalam sistem yang sama.

Situasi serupa terjadi pada flexing. Secara tekstual, kata ini merujuk pada tindakan memamerkan kekayaan atau pencapaian. Dalam praktik wacana, istilah ini digunakan untuk mengomentari gaya hidup yang dianggap menonjol. Namun, pada tingkat sosial, flexing membentuk norma baru tentang kesuksesan: bahwa pencapaian harus ditampilkan agar diterima oleh lingkungan.

Dengan kata lain, keberadaan bahasa gaul ini menunjukkan bagaimana istilah-istilah sederhana bisa menjadi bagian dari industri yang memengaruhi cara masyarakat memahami diri dan dunia sekitar. Hal ini menyoroti peran bahasa sebagai alat konstruksi sosial yang tidak lagi netral.