Historic Moment: Festival Gunung Slamet Gelar Tradisi Pengambilan Air Tuk Sikopyah, Simbol Pelestarian Alam

1783217663_0613e2ea7eb1115a2216

Festival Gunung Slamet IX Jadi Pusat Perayaan Budaya di Desa Serang

Historic Moment – Festival Gunung Slamet (FGS) IX kembali menghadirkan suasana ramai di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Pada hari kedua acara, Sabtu (4/7), ribuan warga dan pengunjung hadir untuk menyaksikan prosesi tradisional pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah. Ritual ini tidak hanya menunjukkan rasa syukur masyarakat atas limpahan air, tetapi juga menjadi bentuk komitmen menjaga kelestarian alam di wilayah lereng Gunung Slamet. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, menawarkan pengalaman budaya yang unik dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.

Ritual Pengambilan Air sebagai Simbol Budaya

Dalam rangkaian acara, masyarakat Desa Serang mengawali festival dengan ritual pengambilan air dari Tuk Sikopyah, mata air yang menjadi simbol penting dalam tradisi setempat. Proses ini diatur secara rapi, di mana tokoh adat bertugas mengambil air dari sumber yang kini berada di bawah Watu Langgar setelah mengalami pergeseran akibat bencana longsor dan banjir bandang di awal tahun 2026. Air tersebut kemudian dituangkan ke dalam 99 lodong bambu serta satu kendi Pratolo yang dibawa oleh para pemuda dan pemudi Desa Serang.

“Angka 99 menggambarkan Asmaul Husna, yang melambangkan kebajikan dan keberkahan dari Tuhan. Ini menjadi wujud rasa syukur warga atas sumber kehidupan yang selama ini dimanfaatkan sehari-hari,” ujar Tuwuh Permanajati, koordinator acara FGS IX.

Menurut Permanajati, prosesi ini juga memiliki makna dalam melestarikan budaya lokal sekaligus mengedukasi generasi muda tentang nilai-nilai tradisi yang perlu dipertahankan. “Bentuk penghormatan terhadap sumber air sekaligus pendidikan budaya bagi penerus bangsa,” tambahnya.

Kirab Gunungan dan Kostum Karnaval

Setelah pengambilan air selesai, rombongan melanjutkan perjalanan dengan kirab menuju kawasan wisata D’Las Serang. Prosesi ini semakin hidup dengan hadirnya 16 gunungan hasil bumi dari delapan RW di desa tersebut. Gunungan tersebut berisi sayuran dan buah-buahan yang menjadi hasil pertanian utama masyarakat. Selain itu, peserta karnaval dengan kostum menarik juga ikut memeriahkan jalanan.

Kirab ini dianggap sebagai bagian penting dari festival, yang menyatukan kebersamaan antara warga setempat dan tamu dari berbagai daerah. Hadirnya peserta karnaval menambahkan dimensi kekinian dalam tradisi yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Rombongan diiringi oleh beberapa instansi, termasuk Forkopimda, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Bank Indonesia Purwokerto.

Prosesi Pelepasan Air dan Makna Spiritual

Dalam rangkaian festival, air dari 99 lodong dan kendi Pratolo akhirnya digabungkan ke dalam wadah besar. Aktivitas ini diawali oleh Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif, yang menjadi orang pertama menuangkan air dari kendi. Diikuti oleh Wakil Bupati Dimas Prasetyahani, jajaran pejabat, serta para pemuda dan pemudi yang membawa lodong.

“Prosesi ini melambangkan doa, harapan, dan ikhtiar masyarakat untuk kemajuan Desa Serang. Air adalah sumber kehidupan, sehingga perayaan ini juga menjadi bentuk rasa syukur atas anugerah alam,” tutur Fahmi.

Setelah air disatukan, seluruh peserta menjalani upacara doa yang dipimpin oleh sesepuh adat. Di akhir prosesi, 16 gunungan hasil bumi diperebutkan oleh warga, tradisi yang diyakini mampu membawa berkah dan keberkahan bagi komunitas setempat.

Makan Nasi 3G sebagai Penutup Festival

Rangkaian acara ditutup dengan makan bersama Nasi 3G, kuliner khas Desa Serang yang terdiri dari nasi putih, sayuran, dan buah-buahan. Makanan ini dianggap sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan antara pemilik tanah serta pengunjung. Kegiatan ini menunjukkan bahwa festival tidak hanya mengedepankan ritual, tetapi juga mengajak seluruh pihak untuk merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Peran Festival dalam Pengembangan Ekonomi

Festival Gunung Slamet IX bukan hanya acara budaya, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Bupati Fahmi menegaskan bahwa festival ini telah menjadi agenda tahunan yang mendukung keberlanjutan ekonomi warga Desa Serang. “Kegiatan ini menggabungkan kegiatan pariwisata dengan melestarikan budaya, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dalam penyelenggaraan sebelumnya, festival ini dikunjungi sekitar 50 ribu wisatawan, dengan nilai perputaran ekonomi mencapai Rp3,5 miliar. Pemerintah daerah berharap tahun ini jumlah pengunjung meningkat, sehingga manfaat ekonomi dapat lebih dirasakan oleh warga, terutama para petani sayuran yang menjadi mata pencaharian utama. Ucapan Fahmi menekankan bahwa air dan hasil bumi adalah kunci kehidupan masyarakat, yang diwujudkan dalam bentuk acara budaya yang penuh makna.

Pengaruh Bencana dan Adopsi Tradisi

Pergeseran lokasi mata air Tuk Sikopyah setelah bencana longsor dan banjir bandang awal tahun 2026 ternyata memberikan dampak positif. Justru, sumber air kini lebih mudah diakses oleh warga, sehingga ritual pengambilan air menjadi lebih efisien. “Bencana justru menjadi hikmah, karena air tetap mengalir dan jangkauannya lebih luas,” kata Permanajati.

Selain itu, prosesi pengambilan air menjadi cerminan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan alam. Tujuan utama dari tradisi ini adalah memastikan bahwa sumber daya alam tetap terjaga seiring berkembangnya zaman. “Dengan melibatkan 99 pemuda dan pemudi, kita juga menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan,” lanjutnya.

Kelanjutan Budaya dan Pariwisata

Festival Gunung Slamet IX menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi pilar utama dalam pengembangan ekonomi. Kehadiran ribuan pengunjung menunjukkan minat masyarakat luas terhadap tradisi lokal. Perayaan ini juga memberikan peluang bagi warga Desa Serang untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada pengunjung dari berbagai daerah.

FGS IX menjadi momentum untuk memperkuat identitas Desa Serang sebagai pusat budaya dan pariwisata. Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas jaringan wisatawan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha kecil dan menengah. Dengan adanya Nasi 3G dan gunungan hasil bumi, festival ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam sekitar Gunung Slamet.

Masyarakat Desa Serang terus berupaya menjaga tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah, kirab gunungan, serta acara makan bersama dianggap sebagai bagian integral dari kehidupan komunitas. “Kegiatan ini tidak hanya menghormati alam, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah pondasi keberlanjutan budaya,” pungkas Permanajati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *