Kebijakan Baru: Ekonom nilai APBN masih resiliens, namun perlu kewaspadaan

apbn kita edisi maret 2026 2749023

Ekonom nilai APBN masih resiliens, namun perlu kewaspadaan

Jakarta – Menurut peneliti ekonomi dari Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih menunjukkan kemampuan bertahan di tengah kenaikan harga energi global. Namun, ia menyoroti bahwa ruang fiskal Indonesia mulai menghadapi tekanan. “Daya tahan APBN saat ini sedang diuji hingga batas tertentu. Jika harga minyak tetap di atas 90 dolar AS per barel dalam jangka panjang, pemerintah harus memutuskan antara memperluas utang atau meningkatkan tarif bahan bakar minyak (BBM) agar APBN tidak mengalami kebocoran,” jelas Rahma kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Kenaikan Defisit Anggaran

Menurut Rahma, perlu diperhatikan perkembangan defisit anggaran karena realisasi defisit cenderung meningkat lebih cepat dari proyeksi awal tahun. Hingga Maret 2026, defisit APBN tercatat naik hampir Rp240,1 triliun, atau 140 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk mempertahankan defisit dalam kisaran aman, sesuai target yang ditetapkan.

“Target awal pemerintah adalah 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagai ekonom, kita memperingatkan bahwa jika harga minyak tidak turun atau pemerintah tidak menyesuaikan harga BBM, risiko defisit mendekati batas aman konstitusi 3,0 persen bisa terjadi,” tambahnya.

Di tengah ketidakpastian global, Rahma menekankan perlunya pengelolaan anggaran yang lebih hati-hati. Fluktuasi harga energi dan tekanan geopolitik masih berlangsung, sehingga respons kebijakan harus adaptif agar stabilitas fiskal tetap terjaga sambil mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah optimis mempertahankan defisit APBN 2026 di bawah 3 persen, sekitar 2,9 persen terhadap PDB. Menurut dia, proyeksi ini sudah memperhitungkan skenario harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel sepanjang tahun. “Kami telah menyiapkan angka tersebut. Bahkan dengan rata-rata harga 100 dolar AS per barel, defisit bisa dijaga di bawah 3 persen,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (8/4).

“Kalau kondisi ekstrem, saya punya Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang bisa dipakai. Saat ini, SAL naik hingga Rp420 triliun. Pasti akan digunakan jika terjadi keadaan darurat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah juga melakukan efisiensi belanja kementerian serta memastikan stabilitas harga BBM bersubsidi untuk melindungi kemampuan beli masyarakat. Meski APBN terlihat masih kuat, Rahma menggarisbawahi bahwa kewaspadaan tetap diperlukan dalam menghadapi dinamika harga energi yang tak menentu.