FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: AI Tiongkok Vs AS: Menang lewat Efisiensi dan Adopsi Massal

Published Juni 27, 2026 · Updated Juni 27, 2026 · By Lisa Miller

AI Tiongkok Vs AS: Menang lewat Efisiensi dan Adopsi Massal

Special Plan - Dalam persaingan global untuk menguasai kecerdasan buatan (AI), perusahaan-perusahaan Tiongkok kini mengambil pendekatan berbeda dari para pesaing di Amerika Serikat. Sebaliknya dari fokus pada pengembangan model dengan kemampuan teknis tercanggih, pihak Tiongkok lebih menekankan keberhasilan dalam menyediakan solusi yang cukup efektif, dengan biaya lebih terjangkau. Strategi ini terlihat jelas di kota-kota sentral seperti Shanghai dan Hangzhou, di mana pengembangan AI sedang mengalami pergeseran signifikan. Cherie Shi, Manajer Bisnis Global di MiniMax, menegaskan bahwa kriteria utama keberhasilan sekarang bukan lagi pencapaian di garis depan teknologi, melainkan seberapa luas model tersebut digunakan oleh masyarakat nyata sehari-hari.

“Kami mengukur kesuksesan berdasarkan jumlah pengguna global yang mampu mengakses dan memanfaatkan model ini secara berkelanjutan,” kata Shi dalam wawancara terpisah.

Pergeseran ini juga terjadi di berbagai sektor. Sejumlah perusahaan di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan kawasan lain mulai beralih ke solusi AI Tiongkok, terutama karena kemampuan model-model yang lebih efisien dan harga yang kompetitif. Hal ini menciptakan dinamika baru dalam pemasaran teknologi, di mana keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknis, tetapi juga oleh kemampuan untuk menyediakan solusi yang bisa diakses oleh berbagai kalangan, mulai dari pengusaha kecil hingga lembaga pemerintah.

Sementara itu, Amerika Serikat masih memegang posisi sebagai pemimpin inovasi. Meski mengakui keunggulan Tiongkok dalam hal adopsi masal, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa negaranya tetap memimpin dalam pertempuran untuk masa depan teknologi AI. Namun, laporan dari JPMorganChase Center for Geopolitics pada Mei lalu mengingatkan bahwa keunggulan teknis AS mungkin tergantung pada efisiensi biaya dan kecepatan adaptasi. Laboratorium AI Tiongkok, yang mengerjakan model-model berbasis efisiensi, diperkirakan akan menyusul dengan kemajuan yang tak terduga.

“Kekuatan teknis AS bisa menjadi keuntungan jangka pendek, tetapi Tiongkok sedang membangun strategi yang lebih berkelanjutan,” komentar laporan JPMorganChase.

Biaya penggunaan AI yang meningkat menjadi faktor krusial dalam pertarungan ini. Beberapa perusahaan global mengeluhkan tekanan besar terhadap anggaran akibat konsumsi token yang tinggi. Token, sebagai unit dasar data dalam proses pelatihan AI, menjadi komoditas yang mahal. Hal ini memberikan peluang bagi perusahaan Tiongkok yang menawarkan tarif token lebih murah, serta model yang bisa dioperasikan dengan efisiensi tinggi. Gunja Gargeshwari dari Bright Data menyetujui tren ini, menyoroti keunggulan teknologi Tiongkok dalam efisiensi biaya.

“Pengembangan AI Tiongkok menggabungkan kualitas tinggi dengan harga terjangkau, menjadikannya pilihan yang sangat menarik untuk banyak pengguna,” ujar Gargeshwari.

Salah satu daya tarik utama produk AI Tiongkok adalah sifat open-source mereka. Model-model ini bisa diunduh dan dijalankan secara lokal oleh pemerintah atau perusahaan, tanpa ketergantungan pada layanan cloud pihak ketiga. Hal ini mengurangi risiko kebocoran data dan biaya berfluktuasi. Kelebihan ini memperkuat daya saing Tiongkok dalam membangun ekosistem AI yang lebih mandiri.

Tiongkok tidak hanya mengalahkan AS dalam hal biaya, tetapi juga dalam pemanfaatan teknologi secara luas. Dalam sebuah konferensi di Singapura, Zixuan Li, eksekutif dari Zhipu AI (dikenal sebagai Z.ai), memberikan analogi yang menarik. Ia menyebutkan bahwa perusahaan AS seperti Rolls-Royce, dengan fitur mewah dan canggih, sementara Tiongkok lebih seperti Mercedes, yang berkualitas tinggi tetapi lebih terjangkau dan masal.

“Model Tiongkok menawarkan keunggulan berkelanjutan dengan biaya operasional yang lebih rendah, meski tidak selalu menyaingi kecanggihan model AS,” jelas Li.

Meski demikian, dominasi AS dalam teknologi AI belum sepenuhnya terguncang. Beberapa pengguna tetap memilih model AS karena fitur-fitur transformatif yang tak bisa disamai, seperti kemampuan dalam pengolahan data kompleks dan integrasi dengan sistem lain. Contohnya, Bo Bai, CEO MetaComp di Singapura, sempat beralih ke model Tiongkok tetapi kembali menggunakan Claude dari Anthropic setelah fitur Skills diperkenalkan, yang menurutnya jauh lebih efektif dalam pengolahan alur kerja berulang.

Pertarungan antara Tiongkok dan AS dalam AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang pengaruh ekonomi dan politik. Jika Tiongkok bisa menguasai pangsa pasar global melalui inisiatif Digital Silk Road, mereka akan memiliki pengaruh lebih besar dalam menetapkan standar aturan teknologi digital di masa depan. Strategi ini membuka jalan bagi penguasaan infrastruktur dan kebijakan yang bisa memperkuat posisi negara-negara lain dalam ketergantungan teknologi.

Dengan fokus pada efisiensi dan adopsi masal, Tiongkok sedang membentuk paradigma baru dalam penggunaan AI. Perusahaan-perusahaan global kini semakin terbuka untuk menerima solusi dari negara ini, selama model tersebut cocok dengan kebutuhan bisnis mereka. Pertumbuhan pesat di berbagai sektor menunjukkan bahwa Tiongkok bukan hanya bersaing, tetapi juga memimpin dalam inovasi yang lebih praktis dan ekonomis. Ini menandai pergeseran signifikan dalam pertarungan global untuk kecerdasan buatan, di mana kualitas teknis dan aksesibilitas menjadi dua aspek yang saling melengkapi.