Latest Program: Hadiri Munas Hipmi, Prabowo Akhirnya Ungkap Alasan Sering ke Luar Negeri
Hadiri Munas Hipmi, Prabowo Jelaskan Alasan Frekuensi Perjalanan Luar Negeri
Munas Hipmi di Lampung Jadi Platform untuk Mengungkap Kebijakan Diplomatik
Latest Program - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa perjalanan luar negeri yang sering dilakukan Prabowo Subianto bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi terkait upaya menjaga kepentingan Indonesia di tengah perubahan dinamika politik global. Dalam pidato di Musyawarah Nasional (Munas) Hipmi di Lampung, Rabu (10/6), Prabowo menjelaskan bahwa ia tetap konsisten dengan prinsip luar negeri yang diwariskan oleh para pendiri bangsa, meski sering kali menjadi bahan kritik.
Menurut Prabowo, situasi geopolitik saat ini terbilang sangat dinamis dan tidak menentu. Oleh karena itu, kebijakan Indonesia untuk tetap netral dan menjalin hubungan dengan semua kekuatan internasional dianggap penting. "Kita tidak tahu kawan siapa dan lawan siapa," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini berakar pada prinsip bebas aktif, non-blok, serta netral yang dianggap relevan di era globalisasi.
"Karena itu begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-align, politik non-block, politik bebas aktif. Seribu kawan terlalu sedikit. Satu lawan terlalu banyak," kata Prabowo seperti dilaporkan dari YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo menjelaskan bahwa sebagai pemimpin negara, ia wajib menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia tanpa memandang blok politik atau kepentingan masing-masing negara. Ia mencontohkan hubungan baik yang terjalin antara Indonesia dengan berbagai negara besar, termasuk Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, India, dan Brasil. "Saya berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sekaligus menjaga hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump," ujarnya.
Menjawab kritik terhadap frekuensi kunjungan luar negerinya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa mengabaikan undangan resmi dari negara-negara besar. "Kalau ada negara super power, ya katakanlah Presiden Trump mengundang saya ke Amerika, berani saya tidak datang?" tanya Prabowo. Ia menilai ketidakhadiran Indonesia dalam forum internasional dapat mengundang persepsi negatif, bahkan merugikan kepentingan nasional.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyebutkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia dirancang untuk menjadi mitra yang baik bagi semua pihak. Ia menegaskan bahwa sikap netral tersebut membuat Indonesia semakin diminati oleh negara-negara lain. "Indonesia sekarang disukai. Indonesia dicari karena Indonesia dikenal tidak mau punya musuh," kata mantan calon presiden ini.
Prabowo menjelaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam berbagai forum internasional. Diantaranya, sebagai anggota APEC, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), BRICS, dan G20. "Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN dan menjadi bagian dari organisasi-organisasi global yang strategis," ujarnya. Ia menambahkan bahwa posisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama yang menguntungkan.
"Yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia selamanya saya tidak ragu-ragu," tutur Prabowo.
Prabowo mengungkapkan bahwa perjalanan luar negeri yang sering dilakukannya bertujuan memperkuat hubungan bilateral serta membangun kepercayaan dengan negara-negara lain. Ia menyebutkan bahwa negara-negara besar secara bergantian mengundang Indonesia untuk turut serta dalam berbagai kegiatan kenegaraan. "Dalam beberapa hari terakhir, saya menerima resmi dari sejumlah duta besar negara sahabat agar berkunjung ke negara mereka masing-masing," jelas Prabowo. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pusat perhatian dunia.
Prabowo juga menyoroti bahwa kebijakan luar negeri Indonesia harus berpijak pada prinsip menjadi tetangga yang baik. Ia menyatakan bahwa Indonesia bertujuan menjaga hubungan harmonis dengan semua negara, baik yang berada di satu blok maupun blok lain. "Makanya saya katakan politik Indonesia adalah politik tetangga yang baik," ujarnya. Kebijakan ini, menurut Prabowo, bisa menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
Dalam konteks saat ini, Prabowo menganggap bahwa Indonesia perlu aktif membangun kerja sama dengan berbagai negara, baik untuk kepentingan ekonomi maupun politik. Ia menekankan bahwa kunjungan luar negeri bukan hanya mengenai pertemuan formal, tetapi juga untuk mengamankan kesepahaman dalam berbagai isu strategis. "Kita ingin menjadi tetangga yang baik kepada semua negara sekitar kita dan negara yang lain di dunia," pungkas Prabowo.
Munas Hipmi menjadi ajang untuk menjelaskan kebijakan luar negeri Prabowo, yang selama ini sering dikritik oleh sebagian pihak. Namun, menurut Prabowo, kebijakan ini merupakan pilihan terbaik untuk menjaga keseimbangan dalam hubungan internasional. Ia juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, sehingga kehadiran di berbagai forum menjadi langkah wajib.
Dengan situasi global yang semakin tidak menentu, Prabowo menilai bahwa Indonesia harus tetap mempertahankan kebijakan netralnya. "Politik bebas aktif masih relevan untuk menghadapi perubahan konstelasi dunia," ujarnya. Menurut Prabowo, kebijakan ini membantu Indonesia menjaga kredibilitasnya sebagai negara yang tidak berpihak, sehingga bisa menjadi pihak netral yang diandalkan dalam berbagai kesepakatan internasional.
Prabowo juga menegaskan bahwa kunjungan luar negeri bisa menjadi sarana memperkuat perdagangan, investasi, dan kerja sama multilateral. "Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk memperbaiki kondisi perekonomian dan kesejahteraan rakyat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini membutuhkan konsistensi, karena hasilnya tidak bisa terlihat dalam waktu singkat.
Dengan mempertahankan prinsip non-blok dan bebas aktif, Prabowo percaya bahwa Indonesia bisa tetap menjadi aktor penting dalam perdamaian dan kerja sama global. "Indonesia beruntung mewarisi fondasi politik luar negeri yang kuat, dan kita harus terus mengembangkannya," pungkasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Prabowo bukan hanya tentang frekuensi kunjungan, tetapi juga tentang strategi jangka panjang yang menjaga keseimbangan nasional.