Program Terbaru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto

4a0bdba3 290b 4f76 8d69 7627d5e0b722 0

Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto

https://www.merdeka.com/peristiwa/karir-militer-try-sutrisno-sempat-gagal-di-tes-fisik-hingga-menarik-perhatian-mayjen-gph-djatikusumo-ajudan-soeharto-542956-mvk.html

Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, yang dikenal sebagai salah satu tokoh militer Indonesia, meninggal dunia di usia 90 tahun. Ia tutup usia setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, selama dua pekan akibat dehidrasi. Sebelumnya, Try Sutrisno dijadwalkan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin (2/3).

Karir militer Try Sutrisno dianggap sebagai contoh perjalanan yang menginspirasi. Lahir pada 15 November 1935, ia merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1959. Meski awalnya mengalami kegagalan dalam tes fisik saat mendaftar ke ATEKAD, nasibnya berubah setelah Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, Kasad pertama periode 1948-1949, menarik perhatian dan memanggilnya untuk mengikuti pemeriksaan psikologis di Bandung.

Kegagalan dalam ujian fisik bukanlah akhir dari perjalanan Try Sutrisno. Pada tahun 1957, ia memulai karir militer dengan turut serta dalam perang melawan gerakan pemberontak PRRI di Sumatra. Selama masa pelayanan, ia mengemban tugas di berbagai wilayah seperti Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Pada 1972, Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), yang menjadi titik balik kariernya.

Setelah lulus dari Seskoad, Try Sutrisno diangkat menjadi ajudan Presiden Soeharto tahun 1974. Jabatan ini menjadi langkah penting dalam kariernya, sebelum ia menjabat Panglima Kodam XVI/Udayana tahun 1978 dan kemudian Panglima Kodam IV/Sriwijaya tahun 1979. Dalam periode kepemimpinannya, Try aktif dalam berbagai operasi, termasuk menyetop penyelundupan timah serta mengembangkan kampanye konservasi gajah Sumatra.

Pada tahun 1986, ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan memimpin TNI AD hingga 1988. Dalam masa jabatan tersebut, Try membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk mendukung prajurit membeli rumah. Karirnya mencapai puncak saat menjabat Panglima ABRI periode 1988-1993. Meski sempat mengungkapkan ketidaktertarikan pada jabatan wakil presiden, kepergiannya tetap meninggalkan jejak yang tak terlupakan.

Try Sutrisno juga dikenang karena kehidupan pribadinya yang sederhana. Ia pernah mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena tidak memiliki uang tunai, meski saat itu menjabat Panglima ABRI. Dalam upacara kepergiannya, almarhum berdiri tersenyum di samping Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD), Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Ia juga menunjukkan sikap hormat kepada Prabowo saat bersalaman.

“Sosoknya bukan orang ambisius yang menghalalkan segala cara demi mendapat jabatan,”

Sebelum pensiun, Try Sutrisno melalui berbagai posisi strategis, termasuk menjadi ajudan presiden dan membentuk kebijakan penting bagi TNI. Kini, ia meninggalkan warisan pengabdian yang akan selalu dikenang dalam sejarah militer Indonesia. Dua anaknya, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, menjadi bagian dari keluarga besar TNI.