FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Target Piala Dunia 2034, WOSPAC Soroti Pentingnya Pembinaan Talenta Muda

Published Juni 24, 2026 · Updated Juni 24, 2026 · By Michael Williams

Pembinaan Usia Dini Jadi Fokus Utama WOSPAC Indonesia untuk Mencapai Target Piala Dunia 2034

Meeting Results - Menyambut ambisi Indonesia menuju Piala Dunia 2034, organisasi WOSPAC Indonesia menggarisbawahi peran penting pembinaan talenta muda dan ekosistem sepak bola yang kuat sebagai langkah strategis. Dalam rangkaian diskusi yang diadakan secara nasional, WOSPAC menegaskan bahwa pengembangan usia dini dan peningkatan kualitas sistem sepak bola nasional adalah kunci untuk memastikan skuad Timnas Indonesia bisa berlaga di level tertinggi dunia. Meski Timnas Indonesia belum mampu mengikuti putaran final Piala Dunia 2026, harapan mengenai kemajuan tim nasional terus berkembang. Dengan pendekatan jangka panjang, WOSPAC berupaya memperkuat kerangka pembinaan yang bisa mendukung ambisi tersebut.

Webinar yang Mengupas Strategi Piala Dunia dan Masa Depan Sepakbola Indonesia

Diskusi yang berlangsung pada Rabu (24/6) ini diinisiasi oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat melalui Forum Diskusi Denpasar 12 edisi ke-280. Acara bertema "Piala Dunia dan Masa Depan Sepakbola Indonesia" dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk CEO WOSPAC Indonesia Benhard Sitorus. Dalam sesi tersebut, Sitorus menjelaskan bahwa WOSPAC tidak bertujuan mengganti metode lokal, tetapi menghadirkan wadah yang mampu memasukkan pemain muda ke dalam sistem sepak bola global. "Kita tidak ingin mengubah sistem yang sudah ada, tapi memberikan akses untuk talenta Indonesia tumbuh di lingkungan terbaik dunia," katanya.

“WOSPAC hadir bukan untuk mengubah metodologi lokal, melainkan membawa talenta Indonesia langsung ke pusat ekosistem sepak bola terbaik di dunia,” ujar Benhard dalam keterangannya.

Pendekatan ini menekankan pada integrasi pendidikan dan pelatihan sepak bola yang lebih sistematis. Menurut Sitorus, program WOSPAC tidak hanya berfokus pada latihan teknik dan taktik, tetapi juga menempatkan kompetisi di liga resmi sebagai bagian integral dari pengembangan pemain. Hal ini bertujuan agar para pemuda tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami mentalitas dan kualitas pemain elite dunia. "Kolaborasi antar institusi menjadi faktor utama dalam menorehkan keberhasilan jangka panjang," tambahnya.

WOSPAC: Solusi Berbasis Akademi Dunia untuk Masa Depan Indonesia

Benhard Sitorus menegaskan bahwa model akademi internasional perlu diadopsi untuk membangun fondasi sepak bola nasional yang lebih kuat. Ia menekankan perlunya koordinasi strategis antara WOSPAC dan PSSI agar roadmap pembinaan usia dini bisa lebih terarah. "Kita perlu membangun sistem akademi yang bisa menghasilkan pemain berkualitas, mirip dengan apa yang dilakukan negara-negara besar," jelasnya. Model ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi pemain dari usia dini hingga mampu bersaing di level internasional.

“WOSPAC Indonesia menjadi solusi jangka panjang dan melengkapi program PSSI. Diperlukan kolaborasi strategis dalam membangun roadmap pembinaan usia dini berbasis model akademi dunia,” tambah Benhard.

Dalam upaya tersebut, WOSPAC menyebutkan telah membina sejumlah pemain yang mampu menorehkan prestasi di tingkat internasional. Nama-nama seperti David Raya, Keita Balde, dan Jordi Alba menjadi bukti bahwa program mereka berhasil menumbuhkan talenta. Raya, yang kini memperkuat timnas Inggris, dan Balde, yang membawa nama timnas Gambia, menunjukkan bahwa sistem pembinaan yang tepat bisa menghasilkan pemain berbakat. Sementara Jordi Alba, bek kanan timnas Spanyol, menjadi contoh bagaimana seorang pemain lokal bisa mendapat pengakuan global.

Target Piala Dunia 2034 dan 2038 Menjadi Bagian dari Visi Indonesia Emas 2045

Dalam konteks ini, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan bahwa menembus Piala Dunia 2034 untuk Timnas putra dan Piala Dunia 2038 untuk Timnas putri adalah bagian dari roadmap menuju Indonesia Emas 2045. Visi ini telah diserahkan kepada FIFA sebagai referensi untuk pengembangan sepak bola nasional. PSSI optimis bahwa dengan langkah-langkah yang konsisten, termasuk dukungan ekosistem seperti yang disoroti WOSPAC, Indonesia bisa menjadi negara dengan prestasi olahraga yang mengesankan.

Menurut Thohir, penguatan talenta muda harus menjadi prioritas utama. "Kita perlu memastikan bahwa sistem pemilihan, pelatihan, dan pemberdayaan pemain muda tidak hanya terbatas pada level lokal, tetapi juga terhubung ke pasar internasional," katanya. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga pemerintah, klub, dan akademi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya olahraga sepak bola.

Optimisme Terhadap Masa Depan Sepakbola Nasional

Dalam menutup sesi webinar, pemandu acara Tantri Moerdopo mengungkapkan harapan yang tinggi terhadap kemajuan sepak bola Indonesia. Ia mengatakan bahwa tampil di Piala Dunia bukan sekadar mimpi, melainkan target yang bisa tercapai jika semua pihak bekerja sama secara konsisten. "Dedikasi dan konsistensi akan menjadi penggerak utama untuk mewujudkan keberhasilan di masa depan," ujarnya.

“Kita jadi optimis bahwa untuk tampil ke Piala Dunia bukan sekadar mimpi melainkan target yang bisa dicapai melalui dedikasi dan konsistensi untuk mewujudkannya,” katanya.

Kebutuhan akan pemain muda yang berkualitas memang menjadi tantangan utama. Saat ini, sepak bola Indonesia masih menghadapi masalah seperti kurangnya dana, infrastruktur yang tidak memadai, serta ketidakseimbangan antara pemain lokal dan internasional. Namun, dengan model pembinaan yang lebih modern dan kemitraan yang solid, harapan untuk mencapai prestasi tertinggi bisa terwujud. Benhard Sitorus berharap program WOSPAC bisa menjadi salah satu pendorong utama dalam mengubah paradigma sepak bola nasional.

Menurut Sitorus, penerapan akademi dunia tidak hanya memperkuat keterampilan teknis pemain, tetapi juga memberikan wawasan mengenai manajemen, mentalitas, dan strategi bermain. "Kita perlu menggabungkan pendidikan formal dengan latihan sepak bola agar pemain bisa menjadi profesional yang mampu bersaing di level internasional," jelasnya. Hal ini juga berdampak pada peningkatan kualitas kompetisi di dalam negeri, sehingga mampu menyaingi liga-liga besar di Asia dan Eropa.

Dengan rencana ini, WOSPAC berharap bisa menciptakan keseimbangan antara pembinaan dan kompetisi. Selain itu, mereka juga berupaya menjamin pemain muda Indonesia tidak hanya bertanding di liga lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk menembus pasar Eropa, yang dianggap sebagai tempat pengembangan karier terbaik. Sitorus menyatakan bahwa program WOSPAC akan melibatkan jaringan agen, klub, dan manajer internasional untuk memastikan kesempatan tersebut terbuka bagi pemain berbakat.

Perjalanan menuju Piala Dunia 2034 tidak akan mudah. Nam