Key Strategy: Indonesia Waspadai Format Relay Point di Kejuaraan Asia Junior 2026
Indonesia Waspadai Format Relay Point di Kejuaraan Asia Junior 2026
Key Strategy - Tim bulu tangkis junior Indonesia kini menghadapi tantangan baru dalam persiapan menghadapi Kejuaraan Asia Junior 2026. Berbeda dari format pertandingan biasa, babak beregu campuran menggunakan sistem relay point yang mengubah dinamika pertandingan secara signifikan. Kapten tim, Muhammad Rizki Mubarrok, atau akrab disapa Barrok, mengungkapkan bahwa format ini memaksa para pemain untuk segera memasuki kondisi penuh fokus sejak tiba di lapangan. "Saya sudah mencoba format relay point sebelumnya tahun lalu, meski berbeda konsep dengan yang digunakan saat ini, intinya sama, yaitu permainan yang cepat dan singkat," kata Barrok dalam pernyataannya kepada PBSI, Kamis (25/6). "Karena itu, kami tidak bisa bersantai. Saat memasuki lapangan, para pemain harus langsung fokus dan bermain maksimal," tambahnya.
Pembukaan Babak Pertama
Indonesia akan mengawali perjuangan di Grup D dengan menghadapi Korea Selatan dalam laga pembuka. Pertandingan berlangsung di Yatsushiro City General Gymnasium, Kumamoto, Jepang, pada Jumat (26/6) pukul 07.00 WIB. Laga tersebut dinilai kritis untuk membangun momentum tim sebelum menghadapi babak-babak berikutnya. "Kami harus memulai dengan baik, karena permainan yang cepat bisa membuat tim yang tidak siap kehilangan fokus dengan cepat," jelas Barrok.
Kesiapan Tim dan Format Pertandingan
Babak beregu campuran Kejuaraan Asia Junior 2026 mengadopsi sistem relay point dengan total 55 poin dalam maksimal tiga set. Di setiap set, terdapat lima pertandingan yang melibatkan berbagai format, yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Format ini memaksa setiap pemain untuk beradaptasi secara dinamis, karena durasi setiap pertandingan jauh lebih singkat dibandingkan sistem biasa. "Karena setiap gim hanya berlangsung sekitar 15 menit, pemain harus siap menghadapi tekanan intensif sejak awal," tambah Barrok.
"Saya sudah pernah mencoba format relay point ini tahun lalu walaupun berbeda konsep dengan yang sekarang tapi intinya tetap sama, ini gim-gim pendek yang cepat jadi kami tidak bisa main santai. Masuk lapangan tidak boleh cari-cari, harus langsung in," kata pemain yang akrab disapa Barrok itu dalam keterangan PBSI, Kamis (25/6).
Kesiapan tim Indonesia dijadwalkan cukup baik setelah menjalani program conditioning dan uji coba lapangan sebelum tiba di Jepang. Pemain-pemain telah menghabiskan waktu beberapa hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pertandingan. "Latihan dari keseluruhan sudah bisa dibilang cukup siap buat hadapi pertandingan pertama besok. Tadi pagi sudah conditioning, sore ini jajal lapangan pertandingan untuk penyesuaian situasi," ujar Barrok. Meski persiapan fisik dan teknik telah dilakukan, Barrok mengakui bahwa kondisi arena pertandingan masih memerlukan penyesuaian.
Kondisi Lapangan dan Faktor Eksternal
Salah satu tantangan utama yang dihadapi tim Indonesia adalah kondisi lapangan di Yatsushiro City General Gymnasium. Barrok menyebut pencahayaan dan arah angin menjadi faktor kritis yang perlu diantisipasi sebelum pertandingan dimulai. "Di lapangan kondisinya masih agak silau, semoga besok sudah lebih baik. Selain itu, ada angin yang membuat gerakan shuttlecock sedikit tidak menentu. Kami harus bisa cepat beradaptasi dengan ini," jelas Barrok.
Manajer tim, Eskar Denatara, menegaskan bahwa kondisi para pemain terus meningkat setelah tiba di Jepang. Sejak Rabu (24/6) malam, atlet telah menjalani beberapa sesi latihan intensif untuk memperkuat daya tahan fisik dan mental. "Jadi sore ini para atlet dalam kondisi yang semakin fit, memang belum 100 persen setelah perjalanan cukup panjang kemarin namun setelah conditioning pagi tadi, sekarang sudah kurang lebih 90 persen," kata Eskar.
"Kesiapan fisik, mental, taktik strategi itu sudah kami lakukan dengan sebaik mungkin. Yang pasti di match pertama besok kami berharap para atlet bisa mengeluarkan potensi terbaik mereka bahkan lebih, untuk memberikan awal yang baik di Kejuaraan Beregu Asia Junior kali ini," ujar Eskar.
Strategi untuk Menghadapi Lawan Kuat
Eskar menilai pertandingan melawan Korea Selatan tidak akan mudah. Pasalnya, kedua negara memiliki tradisi kuat dalam olahraga ini, sehingga tim Indonesia harus tampil konsisten dari awal. "Korea Selatan merupakan tim yang cukup berpengalaman di level internasional, sementara Makau dan Malaysia juga memiliki kekuatan masing-masing. Kami perlu membangun kepercayaan diri sejak babak pertama," kata Eskar.
Persiapan tim Indonesia melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap performa para pemain. Eskar menyebut bahwa latihan intensif yang dilakukan selama beberapa minggu sebelum keberangkatan telah membantu meningkatkan koordinasi dan kecepatan respons tim. "Fokus kami adalah menjaga konsistensi selama tiga hari pertandingan, karena format relay point memerlukan pem