FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Sekolah Rakyat Mewujudkan Pendidikan Berkeadilan

Published Juni 10, 2026 · Updated Juni 10, 2026 · By Jessica Jackson

Sekolah Rakyat: Upaya Mewujudkan Pendidikan Berkeadilan untuk Anak Prasejahtera

Special Plan - Di pagi hari, suasana ruang kelas Sekolah Rakyat (SR) yang sedang mengadakan Ujian Akhir Semester (UAS) di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Banjarbaru, tampak sepi. Karena hari itu, sebanyak 125 siswa dari jenjang SMP dan SMA tengah menghadapi ujian kenaikan kelas untuk tahun ajaran 2025/2026. Meski ruang kelas terlihat hening, suasana di luar kelas justru penuh semangat. Para siswa, yang berasal dari keluarga kurang mampu, tampak tenang dan yakin dalam mengerjakan soal-soal ujian yang menjadi penentu masa depan mereka. Sementara itu, para guru dan staf pendidikan secara aktif melakukan pengawasan untuk memastikan pelaksanaan ujian berjalan tertib dan lancar.

Cerita Siswa yang Berjuang untuk Masa Depan

Salah satu siswa yang terlihat bersemangat adalah Anna Maggefirah, 16 tahun, siswi Kelas X SR asal Banjarbaru. Ia mengatakan, dirinya bersama teman-teman seangkatan telah mempersiapkan diri secara intens selama beberapa bulan melalui bimbingan belajar ekstra. "Alhamdulillah, ujiannya berjalan lancar, dan saya yakin bisa mendapatkan nilai yang memuaskan," tutur Anna optimis. Menurutnya, program Sekolah Rakyat memberinya peluang untuk mengejar mimpi menjadi arkeolog, karena ia sangat tertarik pada sejarah.

"Saya merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan bersekolah di sekolah rakyat. Mudahan-mudahan saya bisa mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang arkeolog karena saya suka sejarah,"

Anna adalah salah satu dari 75 siswa yang diterima di SRMA rintisan. Lokasi sekolah sementara ini berada di BBPPKS Banjarmasin. Selain itu, ada 50 siswa lain yang menempuh pendidikan jenjang SMP atau SRMP. Sebelum bergabung dengan SR, Anna sempat ragu untuk melanjutkan sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya yang sulit. Ia adalah anak yatim yang ditinggal ayahnya meninggal dunia saat masih kecil, sementara ibunya, Siti Mursidah, bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan tidak stabil. Keluarga mereka masuk ke dalam golongan masyarakat prasejahtera Desil 1, yaitu kelompok yang sangat miskin.

Cerita serupa juga diungkapkan oleh Zainah, 13 tahun, siswi Kelas 7 SR asal Kotabangun, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Sebagai anak dari keluarga prasejahtera yang jauh dari kota, ia sempat merasa kecil harapan untuk mengejar pendidikan. Namun, dengan adanya fasilitas pendidikan modern di SR, Zainah kini lebih percaya diri untuk mewujudkan impian menjadi Polwan. "Saya merasa berubah. Dulu, saya sering ragu tampil di depan kelas, tapi sekarang lebih berani dan yakin,"

Zainah menekankan bahwa SR membantu meningkatkan kemampuan akademik dan kepercayaan diri mereka. Ia menganggap program ini sebagai jalan untuk membuka peluang hidup yang lebih baik. "Sekolah rakyat memberi saya bekal literasi dan keterampilan teknis yang penting untuk berkompetisi di dunia kerja,"

Dukungan dari Guru dan Petugas Pendidikan

Program Sekolah Rakyat tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada komitmen para pendidik. Diah Hasna Nabilla, seorang guru SR rintisan di BBPPKS Banjarmasin, merasa terpanggil untuk membantu siswa yang kurang beruntung. Lulusan Universitas Negeri Solo (UNS) jurusan Sastra Inggris ini kerap menghabiskan waktu ekstra untuk membimbing siswa dalam pelajaran di luar jam sekolah. "Jika mereka membutuhkan bantuan, saya selalu siap meluangkan waktu," tutur Diah. Ia menyebut bahwa SR menjadi tempat untuk menumbuhkan bakat-bakat yang tersembunyi di tengah kesulitan ekonomi.

Menurut Galuh Tantri Narindra, Asisten I Bidang Kesejahteraan Masyarakat, pendidikan merupakan faktor utama dalam memutus siklus kemiskinan. "Dengan akses ilmu yang lebih baik, siswa bisa memperoleh keterampilan teknis dan kemampuan berpikir kritis, yang membuka peluang kerja profesional atau usaha mandiri,"

Galuh menambahkan bahwa program SR adalah salah satu inisiatif pemerintah yang paling berdampak bagi masyarakat miskin. "Sekolah rakyat memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga marjinal,"

Data Miskin dan Tantangan Pendidikan

Data mencatat, di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih terdapat 64 ribu anak yang putus sekolah. Mayoritas dari mereka berasal dari keluarga prasejahtera. Angka ini menunjukkan bahwa akses pendidikan masih menjadi tantangan besar bagi sebagian besar masyarakat. Namun, program SR diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang. "Sekolah rakyat membantu menyelesaikan masalah akses pendidikan, sekaligus memberi bekal untuk menghadapi tantangan hidup,"

Kepala BBPPKS Banjarmasin, Yadi Muchtar, mengapresiasi peran SR dalam mengubah hidup siswa. Ia menyebut bahwa program ini telah membawa perubahan signifikan, baik dari segi sosial maupun akademik. "Banyak siswa yang dulu pemalu kini lebih percaya diri, dan banyak yang menonjol dalam pelajaran,"

Dengan keberhasilan ini, SR dianggap sebagai bentuk pendidikan berkeadilan yang memperkuat prinsip inklusif. Program ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membangun ketahanan mental dan kepercayaan diri anak-anak yang kurang beruntung. Diah Hasna Nabilla berharap, SR bisa terus berkembang dan menciptakan lebih banyak peluang bagi generasi muda. "Saya percaya, jika kita berikan kesempatan, mereka bisa mencapai apa yang mereka inginkan,"

Sebagai bagian dari upaya pemerintah, SR dianggap sebagai langkah penting dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Dengan memfokuskan pada layanan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, program ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi menjadi kenikmatan keluarga berada, tetapi juga akses bagi siapa pun yang membutuhkan. "Ini adalah perubahan yang seharusnya terjadi, karena setiap anak berhak memiliki masa depan yang lebih cerah,"