FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Hadapi Puncak Kemarau Kalsel Bentuk Satgas Karhutla

Published Juni 14, 2026 · Updated Juni 14, 2026 · By Sandra Brown

Petugas dari Manggala Agni Daops Banyuasin melakukan pemadaman kebakaran lahan di Desa Soak Batok, Indralaya Utara, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Minggu (10/8/2025). Kebakaran lahan yang menghanguskan lahan seluas lima hektare tersebut berhasil dipadamankan oleh petugas gabungan Manggala Agni Daops Banyuasin, BPBD, TNI, Polri dan dua helikopter sikorsky milik BNPB. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU

Hadapi Puncak Kemarau, Kalsel Bentuk Satgas Karhutla

Special Plan - Kalimantan Selatan (Kalsel) mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sepanjang Agustus hingga September 2026. Dalam upaya mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Pemerintah Provinsi Kalsel menyiapkan Satuan Tugas (Satgas) khusus yang bertujuan memperkuat pengawasan serta penanganan kejadian darurat. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang bisa memicu kekeringan dan potensi kebakaran yang lebih besar.

Prediksi BMKG tentang Musim Kemarau

Menurut data dan analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kalsel, wilayah ini masih dalam tahap transisi menuju musim kemarau. Prediksi menunjukkan bahwa curah hujan akan terus menurun, dengan kriteria menengah pada bulan Juni dan kriteria rendah pada Agustus. Faktor iklim El Nino di Samudera Pasifik diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca, sehingga memperkuat kemungkinan terjadinya puncak kemarau yang lebih intens. Dengan demikian, pemerintah perlu meningkatkan kesiapan untuk menghadapi ancaman Karhutla.

Kebakaran hutan dan lahan kerap terjadi saat musim kemarau, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap kekeringan. BMKG memperkirakan bahwa periode puncak kemarau akan berlangsung hingga akhir September, menjadikan Kalsel sebagai daerah yang rawan menghadapi dampak negatif seperti kehilangan lahan pertanian dan gangguan lingkungan. Untuk meminimalkan risiko, pihak berwenang diimbau untuk bersikap proaktif sejak dini.

Peran Satgas dalam Penindakan Karhutla

Satgas Karhutla yang dibentuk tidak hanya fokus pada penanganan kebakaran di lapangan, tetapi juga menindak praktik ilegal yang menjadi penyebab utama kejadian tersebut. Dalam pernyataannya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Roni Eka Saputra, menjelaskan bahwa kesiapsiagaan telah dilakukan di seluruh wilayah, terutama daerah rawan Karhutla. "Kemarin kita telah menggelar Rakor pembentukan Satgas Karhutla yang dipimpin langsung oleh Gubernur. Melihat kondisi cuaca yang semakin panas, kesiapsiagaan dan antisipasi karhutla telah kita lakukan di semua wilayah khususnya daerah rawan karhutla," kata Roni, Minggu (14/6).

Dalam pembentukan Satgas, selain personil pemadam kebakaran, juga melibatkan berbagai pihak seperti korporasi dan individu yang terlibat dalam aktivitas penggunaan lahan secara ilegal. Pihak-pihak ini akan menjadi target penindakan dalam upaya mengurangi faktor penyebab Karhutla. Roni menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan sistem pengendalian yang efektif.

Latihan Bersama di Martapura

Untuk meningkatkan kesiapan tim, Pemerintah Kalsel mengadakan kompetisi besar yang melibatkan ratusan tim relawan pemadam kebakaran atau Badan Pemadam Kebakaran (BPK) se-Kalimantan Selatan. Kompetisi ini dihelat pada Sabtu (13/6) di Martapura, Kabupaten Banjar, dan dikenal sebagai Buser Cup 690. Ajang tersebut melombakan ketangkasan, kecepatan, dan kekompakan tim dalam menangani darurat kebakaran. Event ini menjadi wadah untuk menguji kemampuan para relawan sekaligus memperkuat rasa persatuan dalam menghadapi ancaman musim kemarau.

Dalam penjelasannya, Roni menyatakan bahwa Buser Cup 690 adalah bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme personil pemadam. "Ini bukan hanya latihan, tetapi juga sarana untuk membangun kemitrahan antara BPBD, BPK, dan masyarakat setempat dalam menghadapi bencana," ujarnya. Keikutsertaan ratusan tim dari berbagai daerah membuktikan bahwa persiapan ini bersifat lintas sektoral dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Realitas Karhutla di Wilayah Kalsel

Kalsel telah mengalami kejadian Karhutla beberapa kali meski intensitasnya masih terbatas. Titik panas terpantau di beberapa wilayah, menunjukkan adanya potensi peningkatan kebakaran saat cuaca semakin kering. Roni mengakui bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian khusus, terutama di daerah-daerah yang rentan seperti hutan lindung dan perkebunan.

Menurut Roni, Satgas Karhutla juga dilengkapi dengan alat dan sumber daya yang memadai. Kesiapan ini mencakup peralatan pemadam, sistem komunikasi darurat, serta koordinasi antarinstansi. "Kita ingin menciptakan sistem respons cepat yang bisa mengurangi dampak Karhutla sejak awal," katanya. Upaya ini diharapkan mampu menghentikan laju penyebaran api dan meminimalkan kerugian materiil serta lingkungan.

Dalam konteks keberlanjutan, Kalsel juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan peran mereka dalam mencegah Karhutla. Penyuluhan lingkungan dan penguatan pengelolaan lahan pertanian menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Roni berharap melalui Satgas ini, Kalsel bisa menjadi contoh daerah yang lebih siap menghadapi tantangan iklim ekstrem.

Tantangan dan Harapan di Tahun 2026

Musim kemarau 2026 menjadi momen kritis untuk menguji tingkat kesiapan Kalsel. Dengan prediksi cuaca yang memperlihatkan kemungkinan panas ekstrem dan kekeringan, pihak terkait perlu memperkuat strategi penanggulangan. Roni mengatakan bahwa Satgas akan menjadi garda depan dalam mengawasi aktivitas penyebab Karhutla dan melakukan tindakan cepat jika terjadi kebakaran.

"Kita juga memperkirakan bahwa masyarakat akan lebih aktif dalam mengelola lahan pertanian dan mengurangi risiko kebakaran," tutur Roni. Ia menambahkan bahwa keberhasilan penanggulangan Karhutla bergantung pada partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya Satgas, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran serta penguatan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait.

Penyusunan rencana ini sejalan dengan target nasional dalam mengurangi dampak Karhutla. Kalsel menjadi salah satu daerah yang sering dijadikan perhatian karena kepadatan vegetasi serta fluktuasi cuaca yang tidak menentu. Roni yakin bahwa persiapan yang intensif akan membantu mencegah terjadinya kebakaran yang mengancam kehidupan masyarakat dan ekosistem lokal.