FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solving Problems: Antrean Truk dan Bus Mengular di SPBU, Pertamina Klaim Stok Aman dan Tambah Pasokan 15 Persen

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Patricia Lopez

Antrean Truk dan Bus Mengular di SPBU, Pertamina Klaim Stok Aman dan Tambah Pasokan 15 Persen

Solving Problems - Kendala persediaan bahan bakar solar subsidi telah berlangsung hampir sepekan terakhir di sejumlah pom bensin (SPBU) di wilayah Trans Sulawesi. Antrean kendaraan berat seperti bus antarkota, truk logistik, dan mobil pengangkut sampah terus terjadi di jalur Makassar hingga Luwu Timur dan Toraja. Meski Pertamina mengklaim pasokan Biosolar subsidi dalam kondisi stabil, kondisi di lapangan menunjukkan adanya penurunan signifikan. Beberapa SPBU tercatat memangkas stok harian hingga separuhnya, dari 16 ton menjadi hanya 8 ton per hari. Fakta ini memicu kekhawatiran para pengemudi yang terjebak dalam antrian sejak dini hari.

Keluhan pengemudi terus mengalir. Salah satu sopir bus antarkota rute Palopo–Makassar, Kumpiq, mengungkapkan kesulitan mengisi bahan bakar. "Saya antre sejak pukul 05.00 subuh tadi, Pak, sampai mau sore belum juga dapat. Semua SPBU di Makassar rata-rata kosong atau masih dalam perjalanan. Saya tadi sudah keliling cari. Kalau tidak ada solar, saya tidak bisa berangkat antar penumpang," ujarnya, Jumat (12/6). Situasi serupa diakui oleh sopir truk sampah, Jumardi. Menurutnya, stok solar di SPBU yang dipangkas membuat operasional menjadi lebih sulit. "Kalau mobil sampah memang langganan di sini. Tapi sekarang susah, banyak mobil sampah lain juga antre karena langka. Stok dari Pertamina dipangkas. Biasanya 16 ton per hari, sekarang cuma 8 ton," keluh Jumardi.

Pertamina Beri Penjelasan tentang Stok dan Pasokan

Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi membantah adanya kelangkaan bahan bakar. Mereka menyatakan stok Biosolar subsidi di wilayah Makassar dan jalur lintas Sulawesi aman. Sales Branch Manager Sulselbar I, Muhammad Yoga Prabowo, menegaskan bahwa penyaluran bahan bakar telah ditingkatkan hingga 10–15 persen dibanding rata-rata normal di bulan Juni 2026. Yoga menjelaskan bahwa lonjakan permintaan di bulan Juni, serta tingginya kebutuhan berbagai produk bahan bakar dari Integrated Terminal Makassar, menjadi penyebab antrean.

Bahkan, pihak Pertamina menyatakan bahwa mereka terus berupaya memastikan distribusi optimal. "Kami memastikan stok Biosolar subsidi aman dan tersedia. Kami terus melakukan berbagai upaya agar penyaluran optimal," ujar Yoga dalam pernyataan resmi yang diterima, Jumat (12/6). Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengurangan stok hingga 50 persen tetap mengganggu aktivitas pengemudi. Petugas SPBU, Syamsul, mengonfirmasi bahwa pemangkasan jumlah pasokan dan ketidakpastian jadwal pengiriman masih terjadi. "Sudah lebih satu minggu antrean seperti ini. Pengantaran dari Pertamina tidak menentu, kadang jam 1 siang, jam 2, atau sore. Setiap hari dapat suplai, tapi jumlahnya dikurangi dari 16 ton menjadi 8 ton. Yang datang malam tetap menunggu untuk diisi besok," jelas Syamsul.

Pertamina juga mengungkapkan langkah-langkah untuk menangani situasi ini. Mereka telah berkoordinasi dengan Elnusa untuk mempercepat distribusi bahan bakar, menambah armada pengiriman khusus, serta memperkuat pengaturan antrean di SPBU melalui marshaling dan penambahan operator. Lilik Hardiyanto, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, menegaskan bahwa perbaikan dilakukan untuk memastikan kelancaran pasokan. "Kami mengajak masyarakat menggunakan BBM sesuai kebutuhan dan peruntukannya agar distribusi energi dapat berjalan lebih optimal," kata Lilik.

Antrean Masih Terlihat, Masyarakat Berharap Pasokan Normal

Sejumlah pengemudi masih mengeluhkan bahwa antrean kendaraan berat tak kunjung berakhir. Meski Pertamina menambah pasokan, jumlah bahan bakar yang diberikan justru turun drastis. "Saya sudah keliling sejak pagi, tapi SPBU masih kosong. Stok yang ada tidak cukup untuk kebutuhan hari ini," kata Kumpiq. Situasi ini memicu kecemasan terutama di sektor transportasi umum dan logistik, yang menjadi pengguna utama solar subsidi.

Pertamina menyatakan akan terus memantau situasi dan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Namun, para sopir mengaku belum merasakan perbaikan signifikan. "Stok harian masih terbatas. Meski ada tambahan, kebutuhan justru semakin meningkat. Jadi, antrean tetap terjadi," ujar Jumardi. Menurutnya, sejumlah armada mobil tangki juga sedang menjalani pemeliharaan berkala, yang memperparah ketidakseimbangan pasokan.

Para pengguna solar subsidi berharap Pertamina segera menormalisasi pasokan agar aktivitas ekonomi dan transportasi tidak terganggu. Dalam pernyataan resmi, Pertamina mempersilakan masyarakat melaporkan kendala atau indikasi pelanggaran penyaluran BBM subsidi melalui Contact Center 135. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi masalah dan mempercepat solusi.

Sementara itu, situasi di SPBU masih memprihatinkan. Antrean kendaraan berat seperti truk logistik dan bus antarkota terus mengular, terutama di jalur Trans Sulawesi. Kondisi ini memengaruhi jadwal keberangkatan, dengan sejumlah pengemudi terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. "Kalau antrean terus begini, bisa terjadi gangguan pelayanan. Penumpang jadi menunggu, logistik juga terhambat," keluh Kumpiq.

Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, Pertamina berjanji akan menyesuaikan kapasitas pasokan dengan permintaan. Namun, perubahan drastis dalam jadwal pengiriman dan jumlah bahan bakar membuat pengemudi kewalahan. "Kadang tiba jam 1 siang, kadang sore. Jumlah yang diberikan juga tidak selalu sama. Ini membuat jadwal operasional sulit diprediksi," tambah Syamsul. Kebutuhan solar subsidi yang meningkat akibat musim panas dan kegiatan ekonomi yang memuncak menjadi tantangan tersendiri bagi sistem distribusi.

Kendala persediaan bahan bakar ini bukan hanya mengganggu operasional angkutan umum, tetapi juga memengaruhi rantai pasok barang. Truk logistik yang terjebak dalam antrean menyebabkan keterlambatan pengiriman ke berbagai daerah. "Kalau stok solar tidak cukup, pengiriman bisa terganggu hingga 1–2 hari. Ini berdampak pada aktivitas bisnis," ujar Jumardi. Sebagai solusi, Pertamina menggandeng Elnusa untuk meningkatkan efisiensi distribusi, tetapi efeknya belum terlihat secara signifikan.

Situasi ini juga memicu diskusi di kalangan masyarakat tentang kebijakan subsidi solar. Sebagian mengkritik pengurangan pasokan yang terjadi, sementara lainnya memahami kondisi operasional Pertamina. "Saya setuju jika stok bisa dikelola lebih optimal, tapi harus ada komunikasi yang jelas," kata Syamsul. Meski demikian, kebutuhan masyarakat tetap menjadi prioritas utama, terlepas dari perubahan dalam volume pasokan.

Sebagai upaya mengurangi dampak negatif, Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk mengisi bahan bakar hanya sesuai kebutuhan. "Dengan mengatur penggunaan BBM, kita bisa mendukung kelancaran distribusi," kata Lilik. Namun, para pengemudi masih mempertanyakan apakah langkah ini efektif. "Kita harus mengisi bahan bakar sesuai kebutuhan, tapi kebutuhan itu sendiri belum bisa dipenuhi," keluh Kumpiq.

Dengan kondisi seperti ini, antrean di SPBU tetap menjadi fenomena rutin. Masyarakat berharap Pertamina dapat mempercepat distribusi dan menormalisasi pasokan dalam waktu dekat. "Kal