FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pendaki Asal Malaysia Cedera di Gunung Rinjani – TNGR Lakukan Evakuasi

Published Mei 29, 2026 · Updated Mei 29, 2026 · By Jessica Jackson

Pendaki Asal Malaysia Cedera di Gunung Rinjani, TNGR Lakukan Evakuasi

Pendaki Asal Malaysia Cedera di Gunung - Satu kejadian cedera pendaki berlangsung di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menarik perhatian petugas gabungan dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Seorang pendaki asal Malaysia, Chye Connsynn (41), mengalami kecelakaan saat melakukan pendakian, dan TNGR langsung bertindak cepat untuk mengambil langkah evakuasi. Kejadian ini terjadi pada pukul 15.00 WITA, saat pihak terkait menerima laporan darurat.

Koordinasi Tim untuk Penanganan Darurat

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardi, menjelaskan bahwa seluruh petugas segera bergerak setelah mendapatkan informasi insiden. Ia menegaskan bahwa koordinasi sudah dilakukan secara bersamaan dengan tim Evakuasi Edelweis Medical Health Centre (EMHC) serta tim medis Nusa Medica. "TNGR sudah mengkoordinasikan langkah evakuasi dengan tim di lapangan sejak awal," tutur Astekita. Pihaknya juga telah menerima notifikasi resmi mengenai rencana evakuasi udara yang menggunakan helikopter, menurutnya.

"Petugas di Pelawangan langsung memverifikasi data dan menetapkan titik koordinasi penjemputan," kata Astekita. Ia menambahkan bahwa korban memiliki polis asuransi premium yang dibeli saat registrasi pendakian, sehingga pilihan evakuasi medis udara langsung dipilih untuk meminimalkan risiko cedera tambahan.

Korban, yang berada di ketinggian gunung, mengalami luka yang memerlukan perawatan intensif. Pihak TNGR menjelaskan bahwa langkah evakuasi udara diambil karena kondisi kritis korban. "Evakuasi berjalan lancar dengan bantuan helikopter," tambah Astekita. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu tanpa hambatan.

Tantangan Cuaca dan Perubahan Jadwal

Dokter Klinik Nusa Medica, dr Lia Puspita, menyampaikan bahwa helikopter medis diterbangkan langsung dari Bali pada pukul 16.18 WITA dengan estimasi waktu tempuh sekitar 40 menit. "Kami bergerak cepat untuk melakukan medical evacuation," katanya. Dalam perjalanan, kondisi cuaca menjadi tantangan besar. Dikutip dari laporan tracking, pasien memiliki asuransi premium yang berlaku saat pendakian, memungkinkan evakuasi melalui udara.

"Helikopter terjebak dalam kabut putih yang menghalangi pandangan, terutama di area tebing curam. Pilot mengambil keputusan krusial untuk memutar balik helikopter ke Denpasar, Bali," kata Lia. Faktor cuaca ekstrem, seperti kabut tebal dan situasi menjelang matahari terbenam, menyebabkan helikopter tidak dapat melanjutkan operasi. "Indikator bahan bakar juga menjadi pertimbangan, memaksa tim udara menghentikan misi sementara," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, tim medis memutuskan untuk menunggu hingga situasi lebih stabil. Evakuasi udara dijadwalkan ulang pada Selasa pagi (26 Mei 2026) sekitar pukul 07.00 WITA, dengan helikopter kembali diterbangkan dari Bali. Selama menunggu, tim klinik Nusa Medica tetap siap di pos bawah gunung untuk memastikan kondisi korban tetap terjaga.

Langkah Evakuasi Darat sebagai Alternatif

Sementara itu, petugas gabungan dari EMHC dan Basarnas mulai bergerak naik dari Resort Sembalun sejak pukul 18.00 WITA menuju tenda korban di Pelawangan 2. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk memastikan pasien tetap mendapatkan perawatan medis awal di lokasi. "Misi darat dilakukan sebagai tindakan antisipatif sebelum evakuasi udara dijadwalkan ulang," terang Astekita.

Pendaki Malaysia tersebut mengalami cedera yang cukup serius, terutama akibat ekstremnya medan dan cuaca. Berdasarkan hasil penilaian medis, opsi evakuasi darat dianggap lebih berisiko karena jalur yang tersumbat dan kondisi gunung yang berubah drastis. "Kami memutuskan untuk memprioritaskan perawatan di lokasi sementara evakuasi udara belum bisa berjalan optimal," jelas Lia.

Dalam situasi darurat, TNGR dan tim medis terus berkoordinasi untuk memastikan pendaki mendapatkan perlindungan yang terbaik. Meskipun ada hambatan cuaca, TNGR tetap berupaya meminimalkan dampak negatif terhadap korban. "Kami mengambil langkah ekstra untuk mengantisipasi perubahan kondisi, terutama sebelum penggunaan helikopter dijadwalkan kembali," kata Astekita.

Evakuasi udara dijadwalkan ulang pada pagi hari, dengan harapan kondisi cuaca yang lebih baik memungkinkan helikopter melanjutkan operasi. Sebagai persiapan, tim medis dari Nusa Medica bersiaga penuh di pos bawah gunung. "Kami sudah siap menerima korban dan memberikan perawatan tambahan hingga helikopter tiba," katanya.

Kejadian ini menegaskan pentingnya keberadaan asuransi pendakian sebagai pengamanan dalam situasi darurat. Polis premium yang dibeli oleh pendaki berperan krusial dalam memfasilitasi evakuasi yang lebih cepat. TNGR menjelaskan bahwa penggunaan helikopter bukanlah pilihan tambahan, melainkan langkah wajib berdasarkan kondisi korban.

Dalam upaya evakuasi yang berkelanjutan, TNGR dan tim medis terus bekerja sama untuk memastikan korban bisa sampai ke lokasi penjemputan. "Koordinasi antara tim di lapangan dan layanan medis sangat penting dalam menjamin keberhasilan misi," terang Astekita. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memperbaiki proses evakuasi di masa depan.

Penutup dan Refleksi

Pendaki Malaysia yang mengalami cedera tersebut berhasil dievakuasi setelah berbagai upaya dilakukan. Meskipun ada hambatan cuaca yang menggangu, kecepatan respons dari TNGR dan tim medis menjadi penentu utama. "Kami bersyukur karena semua pihak bekerja sama dengan baik," kata Lia. Kejadian ini juga menjadi pelajaran untuk pengelolaan taman nasional dan kesadaran pendaki dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu.