Meeting Results: Setahun Sekolah Rakyat, Sulap Siswa Tampil Pede dan Kuasai Empat Bahasa
Setahun Sekolah Rakyat, Sulap Siswa Tampil Pede dan Kuasai Empat Bahasa
Meeting Results - Di masa lalu, mereka hanyalah angka dalam statistik kemiskinan. Anak-anak yang nyaris kehilangan harapan karena keterbatasan ekonomi. Namun, setelah satu tahun bersekolah di Sekolah Rakyat Terintegrasi 64 Soppeng, mereka kini berdiri di atas panggung, bernyanyi, menari, dan berpidato dalam empat bahasa dengan percaya diri. Inilah cerita transformatif yang terungkap dalam acara Open House Satu Tahun Perjalanan Program Sekolah Rakyat, yang digelar di kampus sementara eks Rumah Sakit Ajjappange, Jalan Samudra No. 4, Kelurahan Lemba, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Jumat (16/6) lalu.
Kisah Transformasi dan Perubahan
Wardah, ibu dari Muhammad Nur Ibnu, masih teringat jelas hari pertama putranya mengikuti program ini. Saat itu, seorang petugas dari inisiatif sosial datang ke rumahnya, mengetuk pintu, dan memulai percakapan. Awalnya, Wardah merasa kaget dan ragu. Namun, setelah menyadari bahwa anaknya berhak mendapatkan kesempatan bersekolah, ia langsung menyatakan setuju. “Saya mau,” kenang Wardah dengan mata berbinar, menggambarkan keputusan yang memperbaiki masa depan keluarganya.
"Perubahan anak saya saat berada di sekolah rakyat ini, ya, kalau dikasih bangun, ya terus bangun katanya. Tidak seperti biasa lagi. Terus cara salatnya, ya ada perubahan sedikit lah. Yang saya aneh itu perubahannya sudah banyak," ujar Wardah tersenyum, menceritakan transformasi putranya.
Keputusan itu tidak mudah. Muhammad Nur Ibnu sempat enggan meninggalkan rumah di usia yang masih muda. Namun, Wardah terus membujuknya dengan lembut. “Mungkin ini lebih bagus, Nak. Ini bisa bantu kita semua nanti hingga berhasil,” katanya meyakinkan. Setahun kemudian, hasilnya terbukti. Anak-anak yang dulunya takut tampil kini mampu menghadapi panggung dengan percaya diri.
Kisah serupa juga diceritakan oleh Muhammad Ramli, ayah dari Nur Aini dan Rekmin Ahmad Bedar. “Saya bersyukur kepada SR Sekolah Rakyat, karena ada perubahan itu anak saya. Alhamdulillah membantu orang tuanya. Terutama di rumah, salatnya rajin. Semuanya ya ada perubahan lah,” tambahnya penuh haru.
"Semenjak dia sekolah di SR Sekolah Rakyat, dia rajin salat, rajin bersih, rajin semuanya," lanjut Muhammad Ramli, menyoroti perubahan positif yang terjadi pada anak-anaknya.
Dalam acara Open House, para siswa menunjukkan kemampuan mereka. Mereka menampilkan tarian tradisional yang dinamis, paduan suara yang mengalun harmonis, hingga pidato dalam empat bahasa yang memukau para tamu undangan. Salah satu penampilan yang paling menarik adalah cerita inspiratif dari Muh. Ikram, siswa yang dengan lantang menggambarkan perjalanan hidupnya sebelum dan sesudah bergabung dengan Sekolah Rakyat.
Program Sekolah Rakyat Terintegrasi
Sekolah Rakyat Terintegrasi 64 Soppeng, yang dipimpin oleh Arni Erjilla, menaungi dua jenjang pendidikan, yaitu Sekolah Rakyat Dasar (SRD) dan Sekolah Rakyat Menengah (SRMB). Dengan total 100 siswa dan didukung oleh 60 tenaga pendidik serta kependidikan, program ini menjadi salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang terpilih sebagai pelaksana tahap awal.
"Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membangun karakter, keterampilan, dan potensi siswa melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler agar mereka mampu bersaing dan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, mandiri, serta berkarakter," ujar Arni dengan penuh semangat.
Arni menjelaskan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap akses pendidikan yang layak bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini khusus dirancang untuk anak-anak Desil 1 dan Desil 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah. “Kami ingin memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Sekolah Rakyat hadir untuk menjangkau yang belum terjangkau dan memungkinkan yang tidak mungkin,” tegasnya.
Proses penerimaan siswa dilakukan melalui sistem penjangkauan langsung oleh pendamping sosial, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta tenaga rehabilitasi sosial yang mendatangi keluarga sasaran. Tim khusus ini memberikan informasi dan meminta persetujuan orang tua. Kebiasaan ini membantu memastikan bahwa setiap anak yang memenuhi kriteria bisa mengakses pendidikan tanpa hambatan ekonomi.
Acara Open House yang dihadiri oleh Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, Wakil Bupati Selle KS Dalle, unsur Forkopimda, serta para kepala SKPD dan camat se-Kabupaten Soppeng ini menjadi momen penting untuk memperkenalkan capaian program nasional. Para undangan menyaksikan perubahan drastis dalam perilaku dan keterampilan siswa, yang sebelumnya dikenal sebagai anak-anak yang sulit berkembang karena kondisi ekonomi yang membebani.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 64 Soppeng bukan hanya sekadar tempat belajar. Namun, program ini memberikan ruang untuk membangun kepribadian dan kepercayaan diri. Para siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial, seperti berbicara di depan umum, berinteraksi dengan teman sebaya, dan menjaga kebersihan diri. Hal ini terbukti dari perubahan yang terjadi di rumah, di mana anak-anak kini lebih disiplin dalam menjalankan ibadah dan rutinitas sehari-hari.
Arni Erjilla juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan pendidikan. “Program ini memberikan bekal yang komprehensif, dari sisi akademik hingga penguatan karakter. Kami berharap anak-anak ini kelak mampu menjadi bagian dari masyarakat yang lebih berkualitas,” tuturnya. Dengan pendekatan holistik, sekolah ini memberikan harapan baru bagi masyarakat yang terpinggirkan.
Dalam lingkungan yang dinamis, para siswa terbiasa beradaptasi dengan lingkungan belajar yang memadukan pembelajaran formal dan non-formal. Mereka belajar melalui metode yang menarik, seperti aktivitas kolaboratif, keterampilan dasar, dan ekstrakurikuler yang menantang. Semua ini berkontribusi pada