FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Kriya Jabar di Persimpangan: Bertahan dengan Tradisi atau Berinovasi

Published Juni 30, 2026 · Updated Juni 30, 2026 · By James Jackson

Kriya Jabar di Persimpangan: Bertahan dengan Tradisi atau Berinovasi

Pertahanan Budaya vs. Adaptasi Modernitas

Latest Program - Warisan kriya Jawa Barat, yang mencakup anyaman bambu, ukiran kayu, dan kain tradisional, telah lama menjadi simbol identitas masyarakat setempat. Namun, untuk bertahan di tengah perubahan zaman yang pesat, produk-produk ini perlu menjalani metamorfosis. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Jabar, Erwan Setiawan, menyatakan bahwa kekayaan budaya lokal tidak akan berdampak signifikan pada kesejahteraan pelaku usaha tanpa transformasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Tantangan utama saat ini bukan hanya tentang kualitas estetika, tetapi bagaimana menggabungkan nilai tradisional dengan inovasi untuk mempertahankan daya saing.

PKJB 2026 sebagai Tonggak Perubahan

Kebutuhan inovasi ini diwujudkan melalui Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2026, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Event ini tidak sekadar menampilkan karya, tetapi menjadi wadah untuk mengubah kriya menjadi destinasi budaya yang mampu bersaing di tingkat global. Erwan menekankan bahwa pemerintah ingin melibatkan pengrajin dalam mengembangkan produk yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga relevan dengan selera konsumen saat ini.

"Saya meminta untuk terus meningkatkan inovasi, karena Jabar memiliki kekayaan budaya dan tradisi. Jika dikaitkan dengan pemanfaatan teknologi digital akan meningkatkan pendapatan ekonomi dari sektor kriya ini," ujar Erwan di Bandung, Senin (29/6/2026).

Menurut Erwan, kriya Jabar memiliki potensi kuat untuk menjadi pilar ekonomi baru. Dengan sentuhan modern, produk lokal bisa dianggap sebagai komoditas yang diminati, bukan hanya sebagai pajangan. Ia menegaskan bahwa adaptasi terhadap tren global, seperti desain minimalis dan keberlanjutan lingkungan, adalah kunci untuk memastikan kriya tetap relevan. Pemprov Jabar menggambarkan PKJB sebagai langkah konkret dalam mewujudkan visi "Jabar Istimewa," yang ingin mengangkat kriya sebagai sektor unggulan.

Keterlibatan Perbankan dalam Pendukung Ekosistem Kriya

Dukungan terhadap transformasi ini juga diarahkan oleh Bank Indonesia (BI). Junanto Herdiawan, Kepala BI Perwakilan Jawa Barat, menyatakan bahwa upaya Pemprov Jabar sangat strategis. Ia menekankan bahwa industri kreatif, termasuk kriya dan mode, memiliki efek berantai yang luas dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. "Industri ini melibatkan banyak pelaku usaha, mulai dari pengrajin, penjahit, desainer, hingga fotografer dan pelaku pemasaran digital," ungkap Junanto.

Junanto menjelaskan bahwa kriya tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga mendorong keterlibatan berbagai profesi. Rantai produksi yang masif mencakup hingga 12 sektor, mulai dari bahan baku hingga distribusi akhir. Dengan dukungan kebijakan dan sistem digital, kriya Jabar berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi yang resilien. Pemprov Jabar, bekerja sama dengan BI, juga mengembangkan tiga pilar utama untuk memperkuat UMKM. Pilar-pilar tersebut mencakup pengembangan teknologi, keterlibatan masyarakat, dan penguatan nilai ekonomi produk.

Menjaga Akar Budaya dalam Inovasi

Erwan memastikan bahwa inovasi tidak berarti mengabaikan tradisi. Ia menegaskan bahwa kriya Jabar harus menjaga keaslian budaya sekaligus menyesuaikan dengan preferensi pasar. Misalnya, produk anyaman bambu bisa diberi desain yang lebih fungsional, sementara kain tradisional dapat diperkaya dengan teknik baru yang mempercepat proses produksi. Pengrajin diharapkan mampu membaca selera konsumen internasional, termasuk preferensi untuk keberlanjutan lingkungan dan estetika minimalis.

Untuk memperkuat kemampuan ini, Pemprov Jabar memberikan bantuan dalam pemanfaatan teknologi digital. Hal ini mencakup pelatihan desain, pemasaran, dan pengelolaan produksi. "Dengan dukungan teknologi, produk kriya bisa menjangkau pasar lebih luas," tambah Erwan. Selain itu, pemerintah juga mendorong kolaborasi antar sektor, seperti kerja sama dengan industri tekstil atau pemasaran melalui media sosial. Inisiatif ini bertujuan mengubah kriya dari benda budaya menjadi komoditas ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan stabil.

Kriya sebagai Gerakan Kolaboratif

Sementara itu, Junanto menyoroti bahwa transformasi kriya memerlukan partisipasi kolektif. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan industri ini bisa memicu peningkatan kualitas hidup masyarakat, terutama di daerah pedesaan. "Kriya tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan pengembangan skill," ujarnya. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti e-commerce atau media sosial memungkinkan pengrajin menjangkau konsumen di luar wilayah Jabar.

Junanto menambahkan bahwa keberhasilan kriya bergantung pada kebijakan yang terintegrasi. Pemprov Jabar, dengan melibatkan institusi seperti BI, berusaha membangun ekosistem yang mendukung inovasi tanpa mengorbankan nilai tradisional. Contohnya, program pelatihan desainer yang menggabungkan teknik lokal dengan elemen global, atau pengembangan kemasan yang menarik tetapi tetap menyimpan esensi budaya. Ini menjadi strategi untuk menarik minat generasi muda yang cenderung lebih terbuka terhadap inovasi.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Erwan Setiawan berharap transformasi ini bisa memperkuat keberlanjutan kriya Jabar. "Dengan keseimbangan antara tradisi dan modernitas, kriya bisa menjadi penggerak ekonomi yang sustainable," katanya. Namun, tantangan masih ada, seperti keterbatasan akses teknologi bagi pengrajin kecil dan kesulitan dalam menjangkau pasar internasional. Untuk mengatasi ini, Pemprov Jabar sedang berupaya membangun jaringan kerja sama dengan perusahaan di luar daerah.

Junanto menegaskan bahwa BI akan terus berperan sebagai pendukung. Dukungan tersebut berupa akses pinjaman mudah, pelatihan penggunaan teknologi, serta bantuan dalam pemasaran digital. "Bank Indonesia siap memberikan bantalan untuk menjaga kelangsungan usaha pengrajin," tuturnya. Dengan kombinasi inovasi, pendekatan digital, dan kekuatan budaya, kriya Jabar diperkirakan akan mampu menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif nasional.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta aktif menggali potensi kriya. Erwan mengajak pengrajin dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam membangun produk yang menarik. "Kriya bukan hanya milik para pengrajin, tetapi juga milik kita semua sebagai pengguna dan pengapresiasi budaya," ujarnya. Dengan mendorong keterlibatan masyarakat, kriya Jabar bisa menemukan identitas baru yang relevan dengan zaman.

Secara keseluruhan, upaya transformasi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan, tetapi bisa diperkaya. Kriya Jabar, dengan memadukan teknologi dan budaya, memiliki peluang besar untuk menjadi pilar ekonomi yang mengakar di tengah dinamika global. Kunci utamanya adalah kesadaran bahwa inovasi adalah cara untuk melestarikan nilai tradisi, bukan pengganti.