FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Guru Besar UPI Dorong Efisiensi Energi dan Swasembada Energi Nasional, sebagai Solusi Kenaikan Harga BBM

Published Juni 15, 2026 · Updated Juni 15, 2026 · By Jessica Jackson

Kenaikan Harga BBM: Solusi Efisiensi dan Swasembada Energi

Key Strategy - Dalam kondisi ekonomi global yang sedang mengalami perubahan dinamis, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green menjadi isu yang tak bisa diabaikan. Meningkatnya harga minyak dunia, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah, telah memaksa pemerintah menaikkan tarif BBM. Eeng Ahman, seorang Guru Besar dari Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyarankan bahwa keadaan ini memerlukan respons adaptif serta strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Peran Efisiensi dan Swasembada Energi

Menurut Eeng, tiga langkah utama perlu diambil untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM: efisiensi penggunaan energi, perlindungan masyarakat melalui BBM bersubsidi, dan percepatan pencapaian swasembada energi. Ia menekankan bahwa BBM yang di subsidi tetap memiliki peran penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendukung sektor-sektor rentan, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Dalam teori ekonomi, ketika suatu barang menjadi semakin langka atau biaya memperolehnya meningkat, harga cenderung naik. Begitu pula untuk barang impor, pelemahan nilai mata uang domestik akan meningkatkan biaya pengadaan. Karena itu, kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah memberikan tekanan yang kuat terhadap harga BBM di dalam negeri," paparnya.

Kenaikan harga BBM, kata Eeng, bukan hanya memengaruhi biaya produksi tetapi juga mengubah pola perilaku konsumsi masyarakat. Kehidupan sehari-hari, mobilitas, dan pengeluaran warga cenderung disesuaikan dengan kenaikan biaya energi. Di sisi lain, pelaku usaha, khususnya di sektor transportasi, kuliner, dan jasa pengantaran, mengalami kenaikan biaya operasional yang bisa mengurangi produktivitas usaha.

Menurut Eeng, langkah paling realistis dalam jangka pendek adalah memperkuat efisiensi penggunaan BBM. Ia menilai bahwa upaya ini harus dilakukan secara bersama oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. "Upaya tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat guna mengurangi dampak kenaikan biaya energi terhadap aktivitas ekonomi. Dalam jangka pendek, yang paling realistis adalah mendorong efisiensi penggunaan BBM, baik oleh masyarakat, pelaku usaha, maupun pemerintah," jelasnya.

Stabilitas BBM Bersubsidi

Dalam konteks yang berbeda, Eeng juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi sebagai instrumen perlindungan sosial. Meski Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi, keputusan ini dinilai rasional dari sudut pandang ekonomi, terutama dalam menjaga keberlanjutan usaha dan menghindari kerugian akibat fluktuasi harga energi global.

"Namun demikian, sebagai badan usaha milik negara, Pertamina juga perlu memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat," tandasnya.

Menurut Eeng, kenaikan harga BBM harus dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat efisiensi energi dan menciptakan kemandirian nasional. Ia menekankan bahwa langkah jangka pendek seperti efisiensi energi dan penyesuaian harga bersubsidi perlu diimbangi dengan rencana jangka panjang, seperti meningkatkan kapasitas produksi energi dalam negeri dan memperluas pembangunan kilang minyak.

Ketahanan Energi Nasional

Untuk meminimalkan ketergantungan pada pasar global, Indonesia harus fokus pada penguatan ketahanan energi nasional. Eeng menyatakan bahwa pencapaian swasembada energi menjadi solusi mendasar yang mampu mengurangi dampak kenaikan harga minyak dunia. "Dalam jangka panjang, pemerintah harus memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan kapasitas produksi energi domestik dan upaya mencapai swasembada energi. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global di masa mendatang," paparnya.

Lebih lanjut, Eeng menggarisbawahi bahwa penguatan ketahanan energi perlu berjalan bersamaan dengan peningkatan ketahanan pangan dan sektor-sektor produktif lainnya. Dengan memiliki fondasi ekonomi yang mandiri, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi meskipun menghadapi ketidakpastian global.

Kenaikan harga BBM, yang saat ini sedang terjadi, menjadi momentum untuk mengubah struktur perekonomian. Eeng menilai bahwa efisiensi penggunaan energi dan percepatan swasembada energi tidak hanya mampu mengatasi kenaikan biaya namun juga mendorong transformasi ekonomi. Ia menambahkan bahwa langkah-langkah ini perlu dikoordinasikan antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Eeng juga menyampaikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang terus berubah, Indonesia perlu memanfaatkan BBM bersubsidi sebagai alat proteksi sosial. Pemangkasan biaya impor energi, khususnya akibat pelemahan rupiah, menjadi salah satu faktor kunci. "BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih memiliki peran penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi kelompok rentan, termasuk pelaku UMKM," jelasnya.

Dengan menyesuaikan pola penggunaan energi, Indonesia bisa mengurangi beban pada impor dan meningkatkan kemandirian. Eeng berpendapat bahwa efisiensi energi harus diintegrasikan dalam kebijakan pemerintah. Selain itu, penguatan kapasitas produksi dalam negeri perlu dilakukan secara bertahap untuk mencapai keadaan swasembada. Kebijakan ini, katanya, akan membantu mengurangi tekanan dari pasar global dan memperkuat kestabilan ekonomi.

Peran Pemerintah dan Kolaborasi Sektoral

Ketahanan energi nasional, menurut Eeng, bukan bisa dicapai secara terpisah dari sektor pangan dan produktivitas lainnya. Ia menekankan bahwa upaya dalam satu bidang harus mendukung kebijakan di sektor lainnya. "Dengan fondasi ekonomi yang lebih mandiri, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi meskipun menghadapi ketidakpastian global," paparnya.

Dalam konteks ini, pemerintah memiliki peran penting dalam mengarahkan kebijakan energi. Eeng menilai bahwa pelaksanaan swasembada energi perlu didukung oleh investasi dalam sektor produksi energi, termasuk pengembangan teknologi pemanfaatan sumber daya lokal. Selain itu, perlu diadakan kolaborasi dengan pihak swasta dan lembaga-lembaga terkait agar tercipta kebijakan yang holistik.

Kenaikan harga BBM, yang terus berlangsung, memberikan pelajaran penting bagi pemerintah untuk lebih berhati-hati dalam mengelola kebijakan energi. Eeng mengingatkan bahwa langkah-langkah seperti efisiensi dan swasembada harus dipadukan dengan kebijakan keuangan dan moneter. Dengan kombinasi ini, Indonesia bisa membangun sistem energi yang lebih tahan terhadap perubahan harga global.

Kebutuhan untuk mengoptimalkan sumber daya energi nasional juga menjadi fokus utama. Eeng menyatakan bahwa pemerintah harus memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi minyak dalam negeri. Dengan demikian, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap, memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang.